Saya ingat sudah sangat lama sejak terakhir membaca
novel ini dan beberapa hari yang lalu saya membacanya kembali. Dwitasari memang
tidak salah jika digelari queen of drama. Novel-novelnya selalu mengusung tema
cinta dengan penyajian kisah sederhana tetapi mengalir dan ringan. Raksasa dari
Jogja bisa dibilang salah satu novel tersuksesnya. Buku ini Best seller pada
masanya, bahkan sampai di angkat ke layar lebar.
***
Judul
Buku : Raksasa dari Jogja
Penulis
: Dwitasari
Penerbit
: Plotpoint
Tahun
Terbit : 2016
Tebal
Halaman : 270 halaman
Bianca
tidak kenal cinta. Satu hal yang ia pelajari dari kedua orang tuanya bahwa
cinta itu omomng kosong. Ia tumbuh bersama kisah yang dibentuk dari ait mata
mamanya, makian, dan pukulan papanya. Apa itu yang namanya cinta?
Bianca
tidak paham cinta. Tapi, dinding kamarnya penuh dengan cerita tentang itu.
Buku-buku itu seperti peta ke ranah fanstasi bagi Bianca. Sebuah tempat asing,
tempat Joshua mungkin tinggal di dalamnya.
Bianca
tidak percaya cinta. Saat satu-satunya lonceng pemanggil ke arah sana telah
direnggut sahabat terbaiknya. Joshua telah direbut Letisha. Belahan hatinya
memilih pergi dengan yang lain.
Bianca
tidak punya cinta. Dengan itu ia pergi ke Jogja. Di Kota itu seorang raksasa
berhati lembut mencoba memperbaiki remuk hatinya. Mencoba mendekapnya untuk
mengembalikan lagi kehangatan hati. Tapi, apakah Bianca masih bisa percaya
bahwa cinta bukan hanya bahan jualan penulis-penulis saja?
***
Secara keseluruhan, buku ini sangat menghibur.
Penulis bisa menggambarkan tokoh-tokoh yang ada di dalamnya dengan baik,
meskipun beberapa adegan kadang membuat saya (sebagai pemabaca) bertanya-tanya.
Memang, tidak selamanya pertanyaan-pertanyaan itu akan terjawab, tetapi agaknya
lumayan menjengkelkan ketika beberapa adegan terjadi tanpa alasan tertentu.
Seperti: why the heck her father had to beat her mom like literally “every
time?”
Pada bagian awal novel saya agak bosan dengan
perkembangan karakter, dan kisah cinta segita (dimana secara logika juga tidak
bisa dikatakan kisah cinta segitiga, sih). Soalnya, menurut narasi buku, Bianca
adalah pihak yang mencintai sepihak. Bianca tidak pernah benar-benar dekat
dengan Joshua, dan menurutku semua perlakuan Joshua tidak menunjukkan minat
yang terlalu besar terhadap sosok Bianca. Jadi ketika Joshua bersama
sahabatnya, Bianca merasakan rasa sakit karena ekspektasinya sendiri (jangan
begini ya guys, hehehe)
Yang saya sangat senangi dari novel ini dimulai
sejak kedatangan Bianca ke Jogja, terutama ketika dirinya dan Mas Jangkung di
halte bis. Bahkan setelah membaca cerita ini, saya merasakan ketertarikan lebih
terhadap pria tinggi dan besar, seperti mas jangkung dalam novel raksasa dari
jogja ini (don’t mind me), semua karena kehebatan penulis dalam membangun
karakter mas jangkung, dan interaksi-interaksi manis dan sederhana antara
Bianca dan Mas Jangkung.
Kalau kamu suka dengan cerita percintaan
remaja-dewasa yang ringan, maka buku ini sangat layak untuk kamu baca. Sebuah
tulisan yang mengingatkan saya akan perasaan saat membaca dilanku tahun 1990
oleh Pidi Baiq. Kedua novel ini memiliki cara bercerita yang menarik, ringan,
dan penuh adegan-adegan yang membuat pembacanya senyam-senyum sendiri.
Good job Mbak Dwitasari, Luv.

0 Komentar