Kota Camden dan Budaya Gosip Tahun 1960an di Maine, Ulasan That Camden Summer – Lavyrle Spencer

 



Lavyrle Spencer adalah seorang penulis wanita New York Times Best Selling Author dan The Rwa Hall of Fame Author. Kepiawaiannya dalam menghidupkan cerita menjadikan penulis ini salah satu yang paling dikenang dalam dunia roman sastra. Buku That Camden Summer tidak hanya menyajikan romansa antara Roberta dan Gabriel, tetapi lebih dari itu, That Camden Summer menyajikan sisi sosial tentang bagaimana kedudukan seorang wanita bagi orang-orang Maine, terutama wanita yang telah bercerai, juga kedudukan pria sebagai kepala keluarga, dan hal-hal dalam tananan sosial yang begitu kaku. 

Roberta adalah seorang wanita bercerai. Ia bercerai dari seorang mantan suami pemabuk lagi peselingkuh, dan akhirnya memutuskan kembali ke kampung halamannya di Camden, Maine, bersama tiga orang putrinya. Di kota ini, perempuan yang bercerai hanya satu tingkat lebih mulia daripada seorang pelacur. Perempuan akan dianggap ‘gila’ jika memiliki dan mengendarai mobil, sementara Roberta adalah seorang perawat yang diharuskan pergi ke beberapa daerah di sekitar Maine. 

Roberta adalah seorang janda dengan pemikiran sangat terbuka dan tampaknya hal ini tidak cocok dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat Maine, sementara Gabriel adalah seorang tukang terkenal di Camden. Ia dan Roberta pertama kali bertemu di pelabuhan, begitu Roberta dan ketiga anak perempuannya tiba di Maine. Ia adalah seorang duda dengan seorang anak perempuan. Mendiang istrinya telah wafat tujuh tahun yang lalu dan sejak saat itu tidak ada perempuan yang mampu menggantikan posisi sang istri di hati Gabriel. Setelah Roberta tiba di Camden dan menempati sebuah rumah tua, Gabriel dan saudaranya dipekerjakan oleh kakak ipar Roberta sebagai tukang yang merenovasi rumah tua tersebut. 

Hubungan Roberta dan Gabriel tidak pernah berjalan mulus. Roberta yang sejak awal memutuskan untuk fokus pada ketiga anak dan pekerjaannya, membuat perempuan tersebut selalu menyangkal hatinya, juga hubungannya dengan Gabriel. Roberta terlanjur sakit hati dengan laki-laki, dan ia bertekad untuk tidak menikah lagi. Di dalam pikirannya, lelaki semua sama: peselingkuh dan suka main wanita, seperti mantan suaminya dan kakak iparnya, Alfred. Namun tentu saja, penilaiannya berubah begitu ia mengenal Gabriel, pria yang begitu setia kepada mendiang istrinya, bahkan setelah tujuh tahun sejak kematiannya. 

***

Novel ini tidak hanya bercerita tentang romansa antara Gabriel dan Roberta, tetapi lebih dalam dari itu, bagaimana perjuangan seorang ibu yang berusaha melawan stigma perempuan bercerai di lingkungannya, sembari bekerja sebagai perawat keliling. Stigma perempuan bercerai sangatlah buruk di wilayah Maine, pada masa ini, para perempuan di daerah itu akan saling bergosip di pertemuan-pertemuan sosial, maupun lewat jaringan telepon. 

Adanya ketidaksetaraan gender yang begitu besar dijelaskan dengan gamblang oleh penulis. Dalam novel ini, wanita tidak pernah memiliki kebebasan dan harus hidup dengan gaya orang terhormat ala Maine agar dapat diterima di masyarakat. Perempuan tidak bisa memiliki mobil sendiri, tidak ada perempuan yang menyetir sendiri di jalanan. Anak-anak perempuan dididik untuk selalu bersikap sopan, menghabiskan waktu di rumah, juga mengerjakan pekerjaan rumah. Sementara itu, para wanita Camden yang begitu ngeri menyandang status janda, lebih memilih membiarkan suaminya berselingkuh dengan wanita lain daripada mendapatkan perlakuan bias dari masyarakat, seperti yang terjadi pada kakak Roberta, Grace. 

Saya begitu kagum dengan sosok Roberta, perempuan kuat dan mandiri. Ia menanamkan begitu banyak prinsip-prinsi kebebasan kepada ketiga anaknya, membiarkan mereka tumbuh berani dan ceria. Seorang diri, Roberta berupaya bertahan dengan semua cerita miring tentang dirinya di Maine, berkendara dari satu daerah ke daerah lain, dan pada akhirnya, ia harus menguatkan tekadnya untuk membongkar pelecehan seksual yang ia alami, hal yang begitu memalukan bagi orang-orang Maine di masa itu. Sebuah novel tentang perempuan pemberani yang berusaha mengubah prespektif kolot tentang gender dalam lingkungan tinggalnya.

Novel ini diterjemahkan dengan begitu baik. Penerjemah menggunakan bahasa yang mudah dipahami, dengan beberapa kata yang sengaja tidak diterjemahkan agar makin memperdalam emosi pembaca. Selain itu, sampul buku yang mengusung tema vintage dengan font dan ilustrasi sebuah rumah di pinggir pantai, begitu sesuai dengan isi novel ini, salah satu novel terjemahan brilian yang jarang diketahui banyak orang.      

Judul : That Camden Summer
Penulis : Lavyrle Spencer
Penerjemah : Endang Sulistyowati 
Penerbit         : Gagasmedia
Tahun terbit : 2011
Tebal halaman: 448 hlm

Posting Komentar

0 Komentar