Cerita Menanam Mint di Halaman Rumah

 





Mint adalah salah satu tanaman impian yang ingin saya tumbuhkan di halaman rumah sejak dulu. Mint memiliki bau khas yang akrab dikeseharian kita, rasanya dingin, cocok diseduh dengan teh, juga baik dikeringkan. Awalnya saya membeli bibit mint di salah satu pekebun kota Makassar. Kalau teman-teman tertarik memiliki tanaman ini di belakang rumah, teman-teman bisa menghubungi instagram ayahberkebun.id. Kala itu saya membeli bibit dengan tinggi sekitar 20 cm dan sudah memiliki 8 daun segar. Meskipun begitu, kamu juga bisa menumbuhkan tanaman mint baru dengan beberapa metode, seperti menanam tanaman mint baru dari tangkai mint (stek) ataupun menanam dari biji yang bisa kamu beli di online shop/toko pekebun yang ada di kotamu.

Tanaman mint merupakan tanaman dengan wangi yang khas. Bahkan hanya dengan tertiup angin saja, bau dingin dan menyengat khas mint akan memenuhi pekarangan rumah, atau minimal sekitar tanaman mint itu. Oh iya, mint juga memiliki banyak jenis. Kalau tanaman mint yang saya tanam di halaman rumah berjenis chocomint. Saya memili varietas ini karena daunnya lebar, tidak terasa pahit, juga sangat cocok diseduh dengan teh.

Menanam Tanaman Mint

  •  Pemilihan lahan: Salah satu yang perlu diperhatikan dalam menanam adalah pemilihan lahan/media yang digunakan. Tanaman mint dapat ditanam di beberapa tempat, seperti pot, tanah lapang, dan air. Setiap lahan memiliki keuntungan dan kekurangan masing-masing. Untuk lahan kosong/tanah yang lapang, mint dapat tumbuh dengan baik dan subur. Namun pemilihan lahan ini perlu memperhatikan beberapa hal, termasuk asupan sinar matahari dan pengairan/drainasenya. Meski tanaman mint suka dengan tanah yang lembab, tetapi tanah dengan air tergenang juga tidak disukai karena dapat membuat akarnya menjadi busuk (apalagi tanpa sinar matahari langsung). Penanaman tanaman di pot juga memiliki tantangan tersendiri. Mint yang ditanam di pot harus sering dipangkas karena tanaman ini termasuk jenis tanaman yang tumbuh dengan cepat. Selain itu, untuk memaksimalkan pertumbuhannya, sebaiknya diberi pupuk setiap seminggu sekali. Untuk pemberian pupuk sendiri, saya menggunakan bokashi dari ayahberkebun.id. menggunaannya lumayan mudah dan akan dapat petunjuk penggunaannya juga.  Terakhir, untuk media tanam menggunakan air tentu perlu perlakuan yang lebih dibandungkan dua jenis media sebelumnya. Pastikan air bersih dan tidak terdapat lumut/ganggang/jamur. Selain itu, pastikan untuk mengganti air setiap 3 hari-1 minggu sekali.   

  •         Metode tanam : terdapat beberapa metode tanam pada tanaman ini. namun setahu saya, salah satu yang termudah adalah dengan metode stek. Jadi, batang tanaman mint dewasa/tanaman yang sudah cukup tinggi/cabang tanaman ini bisa dipangkas lalu ditumbuhkan ke tanah yang baru. Cara ini sangat efektif, bahkan bahkan berdasarkan pengalaman, cara ini ampuh 90% dengan semua stek barunya dapat tumbuh menjadi individu mint baru. Cara kedua adalah dengan menumbuhkan mint dari benih/bijinya. Untuk metode ini, kamu bisa membeli bibitnya di ecommerce ataupun toko-toko berkebun di kotamu.  
  •         Memelihara tanaman mint: tanaman mint termasuk jenis tanaman yang mudah dipelihara. Untuk menanamnya, pekebun hanya perlu menyediakan waktu dan sedikit tenaga. Mint pada dasarnya merupakan tanaman yang tidak memerlukan perhatian khusus, hanya perlu sering-sering memangkas batang yang tua saja, juga memberikan pupuk untuk tanaman pot.  

Karena tanaman mint termasuk jenis tanaman merambat, saya juga mendapatkan beberapa sumber yang menjadikan mint sebagai tanaman dekorasi yang dibiarkan merambat di pagar/kebun vertikal. Tentunya tanaman mint dengan warna hijau dan wanginya yang khas dapat menambah suasana nyaman dan earthy di rumah. Kalau untuk sekarang, saya masih menggunakan mint sebatas campuran untuk meningkatkan aroma teh seduh, dikeringkan agar dapat bertahan lama, juga campuran kue.

Oh iya. Saya punya dua tanaman mint. Satu di Palopo dan satunya lagi di Makassar. Tanaman mint yang sudah panen lebat sementara masih mint di Palopo, mungkin karena di palopo udara lebih dingin, dan curah hujan lebih sering. Tanaman mint di palopo juga terkena sinar matahari dan hujan langsung, berbeda dengan tanaman di Makassar, soalnya saya menanam di lantai dua. Tanaman mint di lantai dua baru terkena matahari langsung diatas pukul 2 siang, dan sangat jarang terkena air hujan sebab balkon indekos di Makassar dinaungi atas yang lumayan lebar.

Kedua tanaman ini saya beli dalam rentang waktu yang tidak begitu lama. Karena di tumbuhkan di daerah yang berbeda, saya jadi tahu lingkungan kesukaan tanaman ini, serta cara menanam yang baik. Oh iya, ini foto tanaman mint yang ada di palopo, sekitar 3 minggu setelah panen besar pertama (hasil panennya saya keringkan dan kalau sedang tidak malas, kapan-kapan saya juga akan menuliskan beberapa tips untuk mengeringkan herbal ini.) dari dua tanaman ini, saya berkesimpulan bahwa mint senang tanah yang lembab dengan pengairan yang bagus. Selain itu, mint punya waktu tumbuh yang lumayan cepat pada bagian akan dan batangnya, sehingga tanaman ini sangat cocok dibiarkan tumbuh di tanah luas. Meski begitu, mint juga salah satu herbal yang sangat cocok tumbuh di pot, kok. Hanya perlu memastikan bahwa tanaman ini diberi pupuk yang cuku tiap minggunya.

(Bonus gambar kunyit putih dan pandan di halaman rumah )

Itu tadi cerita seputar menanam tanaman mint di halaman rumah. Sampai jumpa di cerita-cerita menanam selanjutnya!

Posting Komentar

0 Komentar