Keindahan Tersembunyi Dusun Malenteng di Tombolo Pao, Kabupaten Gowa


Perjalanan Menuju Tombolo Pao, Gowa

Saya mengunjungi dusun Malenteng diakhir tahun 2019. Dusun ini merupakan salah satu dusun yang terletak di desa Erelembang, Kecamatan Tombolo Pao, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Nama Erelembang diambil dari bahasa konjo dimana ere diartikan air dan lembang berarti lembah. Desa Erelembang sangat kaya akan hasil pertanian, dengan kelimpahan air, juga topografi desa yang terletak di ketinggian, sehingga desa ini terkenal sebagai penghasil pertanian andal Kecamatan Tombolo Pao. 

Kami berjumlah empat orang. Menggunakan dua sepeda motor, kami menembus dinginnya udara malam menuju Desa Pao, Kecamata Tombolo Pao, Kabupaten Gowa. Perjalanan di mulai selepas magrib dari arah Makassar. Dingin malam memberikan sensasi yang benar-benar berbeda setelah seminggu lebih bergelut dalam kesibukan kota. Jalur yang kami lalui lumayan ekstrem dengan tikungan, tanjakan, juga truk-truk sayur dari arah berlawanan, sehingga kami harus berkendara lebih hati-hati.

 Kala itu, pertama kali saya menempuh jarak Makassar-Malino hanya dalam satu jam. Benar-benar sebuah pengalaman menegangkan, ditambah deru sepeda motor nyaring. Setiba di Malino, kami memutuskan untuk menepi sebentar dan menikmati semangkuk indomie telur ditemani sarabba, tentu sebat sebatang tidak boleh terlewatkan. 

Oh iya, perjalanan kali ini bertujuan menemukan bakal lokasi binaan baru salah satu komunitas yang bergerak di bidang pendidikan anak-anak di pelosok Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, yakni Pajappa Bangkeng. Dinginnya angin malam Kabupaten Gowa menusuk sampai tulang-tulang terdalam begitu kami melewati daerah kanrepia, daerah terdingin di dataran tinggi ini. Kami tiba di Kecamatan Tombolo Pao sekitar pukul sepuluh malam dan menginap di salah satu rumah milik seorang warga di Desa Pao. Rencananya, kami akan mengunjungi sekolah tersebut esok hari. 


Keramahan Orang-Orang

Saya selalu berpikir, “kalau tidak pernah terjun ke dunia relawan, mungkin saja saya tidak akan pernah menemukan sisi baik orang-orang asing.”

Benar, kalau tiga tahun yang lalu saya tidak cukup berani untuk melakukan pelayaran pertama bersama salah satu komunitas, mungkin sekarang saya tidak akan ada di sini, merasakan keramahan pemilik rumah yang kami tinggali selama dua hari. Namanya Kak Emil, kawan salah satu rombongan kami. Ayah dan ibunya benar-benar baik dan ramah. Oh iya, karena berada di dataran tinggi, rumahnya pun unik, bertingkat ke bawah. Saya dan Kak lina tidur di satu kamar. Dinginnya malam desa pao kami redam dengan selimut tebal dan jaket, maklum, udara Makassar tidak pernah sedingin ini.

Malam berlalu cepat, dan pagipun datang. Saya terbangun mendengar suara tangis anak-anak, sepasang anak kembar yang menggemaskan. Setelah bangun dan membereskan beberapa hal, saya dan Kak Lina pun bergabung dengan Kak Tata, Kak Syahrir, dan Kak Emil di ruang tamu atas. Mereka tengah menikmati teh hangat, rokok, dan beberapa cemilan saat kami bergabung. Kak lina dengan cekatan membuat rokok lintingan dari kertas rokok dan tembakau kering di atas meja. Sayapun ikut bergabung dengan beliau. Akhir 2019 adalah waktu pertama kali saya melinting rokok sendiri dan menikmati tembakau khas di Desa Pao. 

Tidak sampai sejam, orang tua Kak Emil memanggil kami dari bawah untuk ikut sarapan bersama mereka. Kami menikmati sarapan komplit dengan meja penuh makanan. Orang tua kak emil sangat ramah, beberapa kali beliau menanyakan perihal kampung halamanku di Kota Palopo. Kami pun menikmati beberapa percakapan tentang bahasa, seperti nama mentimun di pao, malakaji, maupun di palopo dan bugis. Sarapan pagi yang benar-benar menyenangkan, semoga berkah bagi kebaikan orang-orang ramah.   

Dusun Malenteng dan SD Negeri Parangbobbo

Setelah sarapan pagi, kami lalu berangkat ke dusun malenteng. Perjalanan ditempuh dengan sepeda motor. Kak Emil selaku warga lokal yang menunjukkan jalan ke dusun tujuan kami. Perjalanan berlangsung sekitar 20 menitan. Sepanjang jalan yang beraspal mulus itu, saya menikmati hamparan pegunungan di sisi kiri dan tebing serta pohon-pohon rindang di sisi kanan. 

Satu momen yang membuat saya takjub dengan dusun ini, adalah puncak tanjakan sebelum turunan menuju dusun. Dari atas sana, saya bisa melihat dusun malenteng bagai hamparan hijau bak lukisan di dalam kuali besar. Benar-benar pengalaman yang sangat berkesan, bahkan setelah setahun sejak kunjungan kesana.     

Kami memarkir motor di ujung jalan beraspal, sekitar 100 meter sebelum rumah kepala dusun. Aspal mulus yang kami lewati tadi berakhir di sini, menyisakan jalan dengan tanah merah yang masih berupa pengerasan. Kak Emil dan Kak Tata yang tampaknya berteman dengan kepala dusun langsung mengarahkan kami ke rumah panggung di sebelah kiri dengan banyak tanaman bunga. Begitu menaiki tangga, kami disambut lelaki yang tampak seumuran. Saya cukup terkejut sebab kepala dusun malenteng masih sangat muda, hanya beberapa tahun di atas saya. 

Dusun ini tekenal sebagai penghasil beras merah. Lahan di sekitar sini pun tampak ditanami padi-padi yang masih muda. Kami menikmati sedikit camilan sebelum berangkat ke sekolah. Kak Emil dan Kak Tata tidak ikut kesekolah, hanya saya, Kak Lina, dan Kak Syahrir. Jarak dari rumah kepala dusun ke sekolah tidak begitu jauh, sekitar 400-500 meter saja. Namun berbeda dengan aspal mulus yang kami lewati tadi, perjalanan dengan kaki menuju sekolah sangat menantang karena tanah merah basah berlumpur yang kami lewati.  

Begitu sampai di sekolah, anak-anak tampak penasaran melihat kedatangan kami. Beberapa ornament di sekolah ini pun menunjukkan bahwa sekolah ini pernah dijadikan daerah binaan oleh komunitas lain sebelumnya. Kami berbincang dengan kepala sekolah di sini, juga beberapa guru. Berbeda dengan lokasi binaan kami sebelumnya di SD Borong Nangka yang hanya diajar oleh satu guru saja, sekolah disini memiliki beberapa orang guru dengan ruang kelas dari dinding bata yang kokoh. 

Setelah berkeliling sekolah, kami pun kembali ke kantor sekolah. Di sini, kami disuguhkan dengan bakara goreng, teh hangat, dan cemilan lainnya. kami mengembil beberapa data siswa, dan sekolah secara umum, kemudian pamit pulang sebelum pukul dua belas. 


Kadang hal-hal unik dan baru tidak dipelajari di sekolah

Banyak hal unik yang saya pelajari pada perjalanan singkat ini, salah satu yang paling berkesan adalah seorang teman yang ternyata mengetahui baca-baca untuk menangkal hujan. Sewaktu masih berada di pom bensin untuk menunaikan salat magrib, hujan gerimis mulai turun. Lalu seorang teman itu mulai komat-kamit dengan tangan terkepal-membuka, sembari terus mengendarai motor dengan kecepatan tinggi. Benar saja, hujan tidak setitikpun membasahi kami sewaktu perjalanan menuju Tombolo Pao. Wallahu’Alam. 

Cerita perjalanan di Tombolo Pao ini dari akhir thaun 2019. Meski sudah terpaut jauh, tetapi detail dari perjalanan ini masih begitu membekas, berkat kebaikan dan keramahan warganya. Semoga bisa mengunjungi Tombolo Pao lagi kemudian hari.   


Posting Komentar

0 Komentar