Little Women, Keresahan Empat Perempuan (2019)



Little Women, sebuah film yang masuk dalam deretan film perempuan yang sangat saya rekomendasikan untuk ditonton. Film yang memperoleh 6 nominasi Oscar ini bercerita perihal anak-anak keluarga March, Meg, Jo, Amy, dan Beth. Keempat perempuan yang hidup bersama sang ibu pasca perang dunia kedua di Amerika Serikat. Keempat anak perempuan ini tumbuh dengan bahagia dan begitu senang mengekspresikan perasaan mereka lewat pertunjukan-pertunjukan seni, terutama teatrikal. 

Kehidupan tidak pernah mudah setelah perang. Ayah mereka harus pergi dari rumah ke tempat yang jauh dan berbahaya, sementara keempat anak keluarga March harus hidup dengna ibu mereka dalam keadaan yang sederhana. Saya selalu menyukai film-film besutan Greta Gerwig, termasuk Little Women ini. Meski merupakan film adaptasi dari buku berjudul sama karangan Louisa May Alcott tahun 1868, Gerwig sangat berhasil meniupkan nyawa pada tiap karakter yang ada dalam film ini. Pemilihan pemeran yang apik, acting yang memukau, sinematografi yang pas, pantas saja membuat film ini meraih 6 kategori nominasi Oscar 2020. 




Little women berkisah tentang empat perempuan dengan mimpi, rintangan, dan realita mereka masing-masing. Meg, Jo, Amy, dan Beth bagai representatif perempuan-perempuan dengan berbagai keresahan mereka. Meg sebagai putri tertua (diperankan oleh Emma Watson) adalah kakak tertua dari keempat bersaudara. Ia wanita tercantik dan terlembut di antara mereka. ia begitu cantik dan anggun, sehingga tidak heran bibi mereka paling berharap Meg akan menikahi pria bangsawan kaya dan menyelamatkan keluarga itu dari apa yang bibinya sebut dengan “kemiskinan”. Meskipun begitu, pada akhirnya Meg jatuh cinta dengan seorang guru sederhana di kotanya dan akhirnya menikah. Pernikahan dengan pria sederhana alih-alih dengan pria bangsawan kaya membuat sang bibi teramat kecewa. Tetapi apa yang bisa dilakukan? Meg sangat mencintai suaminya dan bersedia hidup dengan semua resiko bersamanya. 

Selanjutnya, Jo, tokoh utama dalam film ini. Ia merupakan seorang perempuan dengan gaya berpakaian tomboy. Pakaiannya bisa jadi identitas perempuan ini bahwa dia “kuat, berpendirian, dan akan menaklukan apapun.” Ia senang menggunakan setelan pria dan pergi ke kota dengan topi fedora abu-abunya. Jo sejak dulu menolak menjadi seperti Meg. Ia ingin menjadi perempuan mandiri dan bercita-cita menjadi seorang penulis terkenal. Ia pun tidak pernah menanggapi Laurie, tetangga bangsawan yang jatuh cinta padanya sejak dulu, dan memutuskan untuk berangkat ke kota dan menjadi seorang guru paruh waktu sembari menghabiskan malam dengan menulis cerita-cerita. 

Amy adalah anak ketiga. Ia anak yang keras kepala sekaligus manja. Sejak kecil ia merasa memiliki persaingan dengan Jo, sebab Jo adalah yang paling berbakat di keluarga mereka. berbeda dengan Jo, Amy tidak keberatan dengan ide bibi mereka untuk menikahi pria bangsawan kaya; menurutku, Amy tipe wanita yang realistis. Ia tetap tekun melukis, meski ia kerap merasa tidak seberbakat seniman-seniman lainnya. lalu yang terakhir, si bungsu Beth, anak perempuan yang tumbuh tidak begitu sehat. Ia adalah apel di mata semua orang di keluarganya, sebab Beth terlahit sakit-sakitan. Sayangnya, gadis itu tidak berumur panjang. 




Kenapa Little Women adalah salah satu film terbaik tahun 2019? Menurutku ada beberapa aspek: satu, film ini membawa penonton merasakan kehangatan sebuah keluarga kecil. Dua, film ini begitu sarat akan makna perempuan tahun 1800an, ketiga, sinematografi menawan, dan terakhir, pemain yang memerankan peran dengan apik. 

Selama awal film, saya sering tersenyum melihat tingkah keempat anak-anak keluarga March ini. Mereka bisa membangun emosi penonton dengna adegan-adegan penuh keceriaan, haru-biru, sampai adegan-adegan yang ikut menyayat hati. Penonton dibawa bahagia dengan pernikahan Meg, bagaimana Beth bermain piano di rumah Mr. Dashwood, bagaimana keempatnya mengikutkan Laurie dalam teatrikal mereka, bagaimana mereka bermain salju dan pergi ke perta dansa, semua hal menyenangkan. Lalu penonton ikut dibawa ke kisah masing-masing anak.
 
Seperti judul review ini, para perempuan itu bagaikan representasi perempuan yang ada saat ini. Pertama, beberapa perempuan di sekitar kita memilih jatuh cinta dengan sederhana. Mereka memilih cinta dibandingkan kemungkinan lain yang mungkin ditawarkan dunia. Pada film ini, beberapa kali Meg ingin membeli kain pesta mahal, atau setidaknya barang-barang yang sedikit mewah untuk menyenangkan hatinya. Namun, ia harus menahan semuanya karena penghasilan suaminya tidak cukup banyak dan mereka punya anak untuk diberi makan. 

Perempuan lainnya seperti Jo. Perempuan muda yang berusaha mencari tempatnya di dunia. Ia menolak menjadi tipe yang melankolis seperti kakaknya, juga menolak saran bibinya untuk menikahi pria bangsawan kaya. Ia bertekad untuk berhasil sendiri. Wataknya keras, kuat, penuh semangat, sekaligus lemah dan rentan. Ia pergi ke kota dan kerap menulis untuk penerbitan lokal di sana, sekaligus bekerja sebagai guru. Jo tetap bermimpi menjadi seorang penulis, tetapi sepanjang film, penonton dibawa pada keresahan perempuan itu, dan bagaimana kesepiannya ia berjuang sendirian. 

Oh iya, dan jangan lupakan bagiamana film ini dikemas dengan sinematografi sederhana namun tetap indah. Bagaimana Gerwig berhasil membawa latar 1800an dengan semua bangunan, kebiasaan, bahkan sampai kostum-kostum sederhana dan menawan dalam film ini. Meski tidak dipenuhi adegan yang memicu adrenalin, atau ending dengan twist plot, tetapi film ini begitu menyenangkan, menghibur, sekaligus menambah perspektif. Saya sendiri sangat menyukai film ini, satu mahakarya dari Greta Gerwig yang sayang dilewatkan.

***

Cast

Jo March         (Saoirse Ronan)
Meg March (Emma Watson)
Amy March (Florence Pugh)
Beth March (Eliza Scanlen)
Marmee March (Laura Dern)
Laurie (Thimothee Chalamet)
Mr. Dashwood (Tracy Letts) 
Father March (Bob Odenkirk)
John Brooke (James Norton)
Fredrick Bhaer (Louise Garrel) 




Posting Komentar

0 Komentar