Little Women, sebuah film yang masuk dalam deretan film perempuan yang sangat saya rekomendasikan untuk ditonton. Film yang memperoleh 6 nominasi Oscar ini bercerita perihal anak-anak keluarga March, Meg, Jo, Amy, dan Beth. Keempat perempuan yang hidup bersama sang ibu pasca perang dunia kedua di Amerika Serikat. Keempat anak perempuan ini tumbuh dengan bahagia dan begitu senang mengekspresikan perasaan mereka lewat pertunjukan-pertunjukan seni, terutama teatrikal.
Kehidupan tidak pernah mudah setelah perang. Ayah mereka harus pergi dari rumah ke tempat yang jauh dan berbahaya, sementara keempat anak keluarga March harus hidup dengna ibu mereka dalam keadaan yang sederhana. Saya selalu menyukai film-film besutan Greta Gerwig, termasuk Little Women ini. Meski merupakan film adaptasi dari buku berjudul sama karangan Louisa May Alcott tahun 1868, Gerwig sangat berhasil meniupkan nyawa pada tiap karakter yang ada dalam film ini. Pemilihan pemeran yang apik, acting yang memukau, sinematografi yang pas, pantas saja membuat film ini meraih 6 kategori nominasi Oscar 2020.
Little women berkisah tentang empat perempuan dengan mimpi, rintangan, dan realita mereka masing-masing. Meg, Jo, Amy, dan Beth bagai representatif perempuan-perempuan dengan berbagai keresahan mereka. Meg sebagai putri tertua (diperankan oleh Emma Watson) adalah kakak tertua dari keempat bersaudara. Ia wanita tercantik dan terlembut di antara mereka. ia begitu cantik dan anggun, sehingga tidak heran bibi mereka paling berharap Meg akan menikahi pria bangsawan kaya dan menyelamatkan keluarga itu dari apa yang bibinya sebut dengan “kemiskinan”. Meskipun begitu, pada akhirnya Meg jatuh cinta dengan seorang guru sederhana di kotanya dan akhirnya menikah. Pernikahan dengan pria sederhana alih-alih dengan pria bangsawan kaya membuat sang bibi teramat kecewa. Tetapi apa yang bisa dilakukan? Meg sangat mencintai suaminya dan bersedia hidup dengan semua resiko bersamanya.
Selanjutnya, Jo, tokoh utama dalam film ini. Ia merupakan seorang perempuan dengan gaya berpakaian tomboy. Pakaiannya bisa jadi identitas perempuan ini bahwa dia “kuat, berpendirian, dan akan menaklukan apapun.” Ia senang menggunakan setelan pria dan pergi ke kota dengan topi fedora abu-abunya. Jo sejak dulu menolak menjadi seperti Meg. Ia ingin menjadi perempuan mandiri dan bercita-cita menjadi seorang penulis terkenal. Ia pun tidak pernah menanggapi Laurie, tetangga bangsawan yang jatuh cinta padanya sejak dulu, dan memutuskan untuk berangkat ke kota dan menjadi seorang guru paruh waktu sembari menghabiskan malam dengan menulis cerita-cerita.
Amy adalah anak ketiga. Ia anak yang keras kepala sekaligus manja. Sejak kecil ia merasa memiliki persaingan dengan Jo, sebab Jo adalah yang paling berbakat di keluarga mereka. berbeda dengan Jo, Amy tidak keberatan dengan ide bibi mereka untuk menikahi pria bangsawan kaya; menurutku, Amy tipe wanita yang realistis. Ia tetap tekun melukis, meski ia kerap merasa tidak seberbakat seniman-seniman lainnya. lalu yang terakhir, si bungsu Beth, anak perempuan yang tumbuh tidak begitu sehat. Ia adalah apel di mata semua orang di keluarganya, sebab Beth terlahit sakit-sakitan. Sayangnya, gadis itu tidak berumur panjang.



0 Komentar