Beberapa orang bisa saja tertarik menonton film ini karena embel-embel “remake” dari film berjudul sama tahun 1940 dan disutradarai oleh sutradara legendaris, Alfred Hitchcock. Tak tanggung-tanggun, Rebecca berhasil memenangi penghargaan bergengsi Oscar tahun 1941 dalam kategori Best Picture. Namun, saya justru penasaran dengan film garapan Netflix ini setelah sebelumnya mengetahui “kontroversi” hubungan terlarang dua pemain utama, Lily James dan Armie Hammer. Berdasarkan infotainment, keduanya menjalin hubungan setelah bertemu di lokasi syuting, yang berimbas pada kandasnya rumah tangga Hammer.
Alur cerita remake Rebecca ini masih sama dengan cerita sebelumnya, menceritakan seorang wanita muda yang berkerja untuk seorang wanita kaya menyebalkan. Adegan dimulai di Monte Carlo, di sebuah hotel mewah berbintang. Maxim de Winter, seorang duda kaya, bertemu dengan seorang wanita muda pirang (Lily James) yang waktu itu bekerja sebagai asistem pribadi seorang wanita bangsawan.
Lily digambarkan sebagai seorang wanita muda yang bersemangat. Ia seorang wanita sebatang kara yang harus bekerja untuk dirinya sendiri. Sewaktu bertemu dengan Maxim, lelaki itu langsung menunjukkan ketertarikan terhadap perempuan muda tersebut. Dengan beberapa kali perjalanan rahasia bersama, dalam kurun waktu yang cukup singkat, Maxim melamarnya, dan akhirnya ia berganti menjadi Nyonya de Winter, nyonya di tanah warisan Maxim di Manderley.
Konflik film dimulai ketika Nyonya de Winter mulai menempati kediaman mewah barunya di Manderley. Ia terus dibayang-bayangi oleh sosok Rebecca, mendiang istri suaminya. Semua orang mendeskripsikan wanita itu sebagai sosok yang sempurna dan sangat mencintai suaminya, sebagaimana suaminya pun mencintai istrinya. Hari-hari nyonya de Winter yang baru tidak pernah tenang, terlebih lagi dengan perlakuan kepala pelayan, Ny. Danvers, yang terus-menerus mengungkit mendiang Rebecca.
Kehadiran Rebecca tidak pernah luput dari rumah itu, bahkan Maxim, suami Nyonya de Winter pun terlihat menyembunyikan sesuatu dari istri barunya.
Genre Thriller-Psychology dengan Bumbu Gothic-Romance
Film ini mungkin cocok bagi anda yang menyukai film dengan plot twist di akhir cerita, meskipun menurut saya, pembangunan cerita di awal sama sekali tidak menunjukkan dukungan plot twist cerita ini. pada awal film, penonton akan dibawa kedalam romansa yang menyenangkan, lalu perasaan positif itu mulai berganti dengan thriller-psikologi setelah nonya de winter baru menempati kastil di Manderley.
Genre thriller-psikologi pada film inipun juga semakin didukung dengan sinematografinya yang apik. Penonton dapat melihat perbedaan suasana dari pantai Monte Carlo yang berwarna dan romantis, berganti pantai dan suasana tanah Manderley yang suram dan misterius.
Remake yang Tidak Begitu Sukses
Berdasarkan situs review film lainnya, film Rebecca ini gagal mendulang kesuksesan film 1941 sebelumnya. Beberapa kekurangan memang dapat terlihat dari penggarapan film ini, seperti penokohan yang kurang digali, konflik yang terus menimbulkan tanda tanya, sampai plot twist yang tidak didukung dengan pembangunan karakter-karakter yang ada.
Meskipun begitu, sebagai salah seorang penikmat film yang belum pernah menonton Rebecca tahun 1941, saya dapat menyatakan bahwa film ini cukup menghibur dan dapat dijadikan salah satu list film Netflix yang mesti kalian tonton. Keseluruhan, saya memberi rating 7/10 untuk film Rebecca.



0 Komentar