Seni Tinggal Di Bumi, Sebuah Buku yang Harus Dibaca



Farah Qonita dengan ‘Seni Tinggal di Bumi’ adalah buku yang saya ulas selanjutnya. Buku ini merupakan salah satu buku yang memerlukan waktu membaca lebih dari seminggu. Bukan karena tidak menyenangkan dan menarik, tetapi justru sebaliknya.

“Karena kita hidup di sepetak kerajaan-Nya, Ketahuilah seni tinggal di sana.

Mulai dari Seni Melangkah Di Bumi, tentang bagaimana kita menorehkan setiap guratan warna-warni luas dalam kanvas kehidupan. Tentang Hati yang Ingin Dicintai, perihal bagaimana seharusnya kita memerlakukan hati sang pengemudi diri. Tentang Perempuan, ketahui bagaimana spesialnya perempuan di mata-Nya. Manusia langit, kenali dan pelajari lebih jauh manusia-manusia yang telah sukses mendapat medali kemenangan nan agung. Dunia Di sekitarmu, ketahui bagaimana romantisme perjuangan pembebasan Palestina, dan perihal dunia islam pada umumnya. Terakhir, Menapaki Keabadian, tentang bagaimana kita seharusnya bersikap pada kehidupan setelah kematian.”

Seni Tinggal di Bumi, adalah sebuah buku agama dengan pesan-pesan menyentuh. Intisarinya disajikan singkat, mengena, tetapi tetap dekat dengan keseharian pembacanya. Buku ini ditulis dengan singkat. Satu esai/pembahasan rata-rata hanya menghabiskan 1-2 halaman saja, tetapi justru karena terdiri dari sedikit kata, makna tiap esainya jadi jauh lebih terasa.

Dari segi makna dari kisah-kisah menarik yang dituturkan penulis, penulis tidak hanya bercerita yang menyenangkan pembaca, tetapi juga riwayat-riwayat sahabat nabi, dan didukung pula dengan hadits-hadits sahih. Saya banyak merenung di setiap lembar yang saya baca pada buku ini.

Buku ini bisa dibilang tidak memiliki masa kadaluwarsa. Berapapun dibaca tidak akan membuat bosan, serta setiap pembelajaran dalam buku ini benar-benar bisa mensterilkan hati pembacanya dari setiap hal-hal kotor dan salah tentang dunia dengan segala kefanaannya ini.

Seperti imbauan penulis pada halaman terakhir bukunya, “Terima kasih telah membaca. Aku harap jika kamu menemukan kebaikan di dalamnya, kamu tidak sungkan membagikannya pada orang lain.” Oleh karena itu, saya akan mencoba menyampaikan satu cerita singkat setiap bab buku yang begitu mengena.

***

 

Pesan Tersembunyi

Ada berapa juta orang yang naik gunung atau pergi ke dataran tinggi? Tetapi tak semuanya bisa seperti Al-Birumi. Ia bisa menghitung diameter bumi hanya dengan melihat kemiringan derajat dari puncak gunung ke horizon.

Berapa juta orang yang telah melakukan hitung-menghitung uang? Tetapi tak semuanya bisa seperti Al-Khawarizmi. Ia menemukan al-jabar saat banyak yang kesulitan menghitung pembagian harta waris.

Berapa miliar orang yang setiap hari melihat daun jatuh? Tetapi tak semuanya seperti Umar bin Khattab, “jangan-jangan Allah menegurku karena aku jadi pemimpin yang lalai.” Batinnya ketakutan saat sebuah daun jatuh tepat di depannya.

Iri gak sih? Mereka bisa dapat pelajaran berharga hanya dari hal-hal sederhana. Urusan hikmah ini ternyata telah Allah jelaskan di Surat kedua ayat 269.

“Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang berakallah yang dapat mengambil pelajaran.”

 

***

 

Beberapa kalimat dengan cetak miring di atas adalah sedikit tampilan bagaimana penyajian buku ini. Begitu singkat, menggugah, dan meyakinkan bukan? Penulis kerap kali menyelipkan kisah-kisah tokoh islam, ayat-ayat Al-Qur’an, dan hadits-hadits sahih yang dirangkaikan dengan keseharian kita sebagai umat di bumi Allah ini.

Benar-benar Seni Tinggal di Bumi, bukan?



 

Posting Komentar

0 Komentar