Kim Ji Young: Born 1982 adalah sebuah film garapan sutradara Cho Nam-Ju yang bisa dibilang sukses membangkitkan sebuah kesadaran baru di masyarakat, khususnya terkait isu-isu perempuan seperti budaya patriarki yang mengakar, pelecehan seksual, dan kesehatan mental pasca melahirkan. Meski tergolong sukses dengan cerita yang begitu membekas, nyatanya film ini menciptakan serangkaian kontroversi di masyarakat korea di sana. Beberapa pihak mengklaim penggambaran film yang terlalu dilebih-lebihkan, juga bahwa film tersebut terlalu “berat sebelah”.
Film ini menceritakan sosok Kim Ji Young, seorang wanita yang sudah menikah dan memiliki seorang anak perempuan. Adegan dibuka dengan Kim Ji Young yang menjalani tugasnya sebagai ibu rumah tangga korea biasa: memasak di pagi hari, memandikan anak, mengantar anak ke preschool, lalu mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. scene dengan cepat berganti ke adegan dimana Kim Ji Young tengah duduk di taman sambil menikmati segelas kopi hangat. Lalu tidak jauh dibelakang perempuan itu, beberapa orang yang tampaknya pekerja kantoran saling bercerita, tepatnya berkeluh kesah perihal pekerjaan mereka. lalu, salah seorang perempuan di kelompok itu berceloteh,
“Ah enaknya jadi ibu rumah tangga, bisa ngopi santai pakai uang suami.”
Kim Ji Young yang mendengar hal itu langsung merasa tersindir dan beranjak dari kursi tempatnya duduk tadi. Sebenarnya, sebelum Kim Ji Young menikahi suaminya dan memiliki seorang anak, ia dulunya adalah seorang pekerja kantoran yang cekatan dan ambisius. Karena mencintai dan ingin membangun keluarga, ia pun memutuskan meninggalkan passionnya dan menjadi ibu rumah tangga. Hal ini ternyata memberikan tekanan mental yang kuat pada Kim. Ia tidak bisa tersenyum, selalu melamun, dan menjalani hidupnya penuh dengan tekanan bagai burung di dalam sangkar.
Korea Selatan, Negara Maju dengan Tingkat Diskriminasi Gender yang Tinggi
Jangankan melihat penggambaran di film Kim Ji Young, bahkan dari drama/film kore lain, para penonton dapat melihat fenomena ini dengan cukup jelas. Korea selatan memang selalu menghasilkan drama atau film yang uuwuwuu, tetapi negara ini juga memiliki budaya yang cukup aneh (terutama bagi kacamata orang Indonesia). Sebut saja, ditengah perkembangan dunia, budaya patriarki masih ada di negara ini. dalam film ini, penggambaran bagaimana posisi perempuan selalu salah tergambar dengan jelas.
Ketika seorang perempuan memilih untuk menjadi ibu rumah tangga dan mengurusi anak, ia justru dicap tidak berguna dan hanya bisa menghabiskan uang suami. Namun di sisi lainnya, ketika ia memutuskan untuk berkarir di luar, ia justru di cap menelantarkan tugasnya di rumah. Bahkan, di salah satu adegan film ini dapat terlihat bagaimana “pria kantoran” tidak begitu senang dengan kinerja “wanita kantoran” karena sering terlambat dengan dalih mengurusi keluarga.
Tidak sampai disitu, diskriminasi gender kembali diperlihatkan pada berbagai kesempatan. Bagaimana orang-orang tua korea lebih menyayangi anak lelaki dibandingkan anak perempuan mereka, seperti ayah Kim Ji Young yang sangat menyayangi putranya dibandingkan dua anak perempuannya yang lain. pesan ini ditunjukkan dengan memberi makanan enak ke anak lelakinya, juga memberikan tonik/obat cina yang baik bagi kesehatan tetapi tidak memberikan perlakuan yang sama kepada anak perempuannya.
Yang membuat saya cukup tertohok menonton film ini adalah adegan dimana Kim Ji Young mengunjungi mertuanya saat liburan dan upacara peringatan kematian di sana. Penonton di suguhkan adegan bagaimana mertua perempuan Kim ji Young terus membuat Kim Ji Young bekerja seharian di dapur, sementara anaknya (suami Kim) hanya bersantai-santai di ruang keluarga bersama anak mereka.
Kesehatan Mental dan Komunikasi yang Baik Itu Penting
Satu hal lain yang menyita perhatian penonton dalam film ini yakni kesehatan mental. Film ini bagai memberikan peringatan bahwa seorang ibu bisa tidak baik-baik saja. Seorang ibu yang baru menjalani fase kehidupan barunya dapat terkena sindrom, dan dapat benar-benar tidak siap dengan segala tanggung jawab baru yang dimilikinya.
Puncak dari tekanan batin yang diderita oleh Kim Ji Young adalah munculnya masalah mental, dimana ia memunculkan karakter baru dalam hidupnya (bisa saja nenek Ji Young, ayah mertuanya, atau orang yang benar-benar lain). parahnya, pergantian karakter ini terjadi di alam bawah sadar Kim. Hal yang membawa kesadaran baru pada sang suami dan orang-orang terdekatnya bahwa mereka harus menyediakan sebuah lingkungan baru untuk Kim karena wanita itu sudah sangat menderita dengan semua tekanan sosial yang ada disekitarnya.
Setiap pasangan menikah harus memiliki komunikasi yang baik. Hal ini juga ditekankan dalam film ini. sang suami adalah sosok pria yang begitu mencintai istrinya. Namun, ia tidak bisa bertanya kepada sang istri, begitupun sang istri yang hanya memendam perasaan tertekannya seorang diri
Seni sebagai Kritik Sosial
Film Kim Ji Young Born 1982 adalah sebuah kritik sosial dibungkus dalam alur cerita yang begitu melekat dengan kehidupan masyarakat korea selatan. Film yang diangkat dari buku dengan judul yang sama ini, membawa isu-isu panas korea selatan, salah satunya perempuan sebagai objek seksual illegal. Seperti yang kita ketahui, di korea selatan sedang marak pemasangan cctv illegal di tempat-tempat umum (termasuk kamar hotel dan wc umum perempuan). Tentu hal ini menjadi ancaman dan terror bagi wanita-wanita di sana, hal yang ikut disoroti dalam film ini.
Uniknya, film dengan alur cerita realis ini menuai beragam reaksi dari masyarakat korea selatan itu sendiri. Gerakan #Metoo dan perkembangan feminism di korea selatan mendapatkan pertentangan dari beberapa golongan secara terang-terangan. Bahkan beberapa lelaki di korea selatan juga menyebut diri mereka sebagai “korban diskriminasi gender” sebab harus bekerja dan melakukan wajib militer. Uniknya lagi, beberapa orang di korea selatan justru memberi rating rendah pada film apik ini karena anggapan bahwa pesan yang disampaikan terlalu dilebih-lebihkan.
Apapun itu, Kim Ji Young adalah salah satu bukti seni yang mengkritik, bahwa karya dapat berbicara lebih lantang dan nyaring.



0 Komentar