Dari Rainbow Garden Gowa Ke Malino, Memori Masa Muda yang akan Selalu Terkenang

 

Oktober tahun lalu, saya dan beberapa orang teman menghabiskan akhir pekan dengan bepergian singkat ke Rainbow Garden Gowa, yang terletak di Kecamatan Sungguminasa, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Rombongan berjumlah enam orang: saya, Mila, Stella, Mega, Chandra, dan Vita. Sekitar pukul Sembilan pagi, saya keluar menyusuri jalan Abdullah Daeng Sirua di hari minggu. Tidak macet seperti baisanya, bahkan lenggang saat saya berbelok ke pertigaan tello-abdesir-antang. Tidak sampai 15 menit, saya sudah tiba di indekos Gia Lestari, kos Mila.

Di sini, saya singgah sarapan, sembari menunggu Chandra dan Vita siap (Stella harus melaksanakan ibadah pagi terlebih dulu, sehingga ia akan nyusul bersama Mega kemudian). Sarapan atau waktu makan yang lain di kos mila memang yang terbaik. Di rumah, saya jarang memasak nasi sebab saya hanya tinggal sendiri. Membeli lauk pauk pun jarang, sebab jarang yang menyediakan jasa antar. Biasanya, saya hanya makan dua kali sehari, lewat aplikasi ojek online. Sarapan gratis di rumah teman memang yang terbaik.

Setelah menunggu kabar Vita dan Chandra sekitar 30 menit, kami berdua pun bergerak ke titik kumpul di kos Vita yang kala itu masih di Perintis Kemerdekaan lima. Motorku melaju dengan kecepatan konstan, menyusuri jalanan kampus Universitas Hasanuddin yang tidak disangka akan membuat sebegini rindunya, tidak akan cukup dituntaskan dengan ratusan kata.

Apalah artinya kata bagi perasaan yang terlampau luas?

***

Kami berenam dipertemukan oleh kegiatan wajib mahasiswa mendekati tahun terakhir, Kuliah Kerja Nya(n)ta(i) KKN Dikti Pulau Kodingareng dengan proker utama pembangunan insenerator sampah ramah lingkungan sebagai salah satu solusi penanganan sampah di pulau berpenduduk padat ini. Alih-alih pekerjaan yang menumpuk, yang kudapat dari kegiatan KKN adalah beberapa orang teman yang masih saling mengabari sampai sekarang.

Singkat cerita, perjalanan berlangsung mulus dari Perintis Kemerdekaan, mengambil jalan ‘tol’ baru dan berbelok menuju Antang. Setelah sampai di perempatan Antang-Uin samata-Hertasning, kami mengambil jalan terus, melewati Puskesmas Samata tempat stase semester lalu, beberapa belokan, dan sampailah kami ke Rainbow Garden Gowa. Wisata sederhana beraneka warna ini berada di pinggir perkampungan dengan menyulap lahan sawah yang dulunya ditanami sumber karbo utama masyarakat kita menjadi objek wisata taman bunga aneka jenis dan warna. disini tidak hanya menyediakan fasilitas berfoto dengan taman bunga aneka warna, tetapi juga gazebo dari bambu, penjaja makanan dan minuman ringan, sampai penjual bibit-bibit bunga berusia kurang 1 bulan.

Cuaca cerah. Stella dan Mega yang menyusul kami sampai kurang setengah jam kemudian. Setelah membayar biaya retribusi sebesar Rp10.000/orang, kami pun memasuki wisata sederhana ini. sayang sekali begitu kami masuk, ternyata beberapa bunga belum mekar sempurna, bahkan beberapa lahan masih baru akan ditanami. Kami hanya mengambil beberapa foto di spot bunga yang mekar, balon udara, dan taman kincir angin mini. Akhirnya, besawal dari kekecewaan itu, kamipun memutuskan siang itu juga mengambil perjalanan panjang 75 km ke Malino Kota Bunga, salah satu tujuan wisata akhir pekan warga kota Makassar yang rindu akan dingin san sejuknya udara pegunungan.

***

Tiga motor melaju beriringan. Kami sempat singgah salat dhuhur di salah satu masjid poros jalan UIN Samata, Gowa. Perjalanan kembali berlanjut. Melewati jalanan sempit dan berkelok khas pegunungan, kami akhirnya melewati satu dari dua jembatan besar yang akan dilalui pada perjalanan ini, dan berhenti sejenak untuk mengisi perut yang kosong.

Kala itu saya berboncengan dengan Mila, kawan fisioterapi sekaligus teman KKN juga. Kami sempat menemui insiden di perjalanan, dimana seorang penyetir mobil gila dari arah berlawanan hendak menyalip mobil di depannya saat tikungan, menyebabkan ban kami hampir turun dari bahu jalan, sementara di sekeliling jalan masih berupa kerikil besar dan pastinya tidak stabil untuk ban motor. Untung saja, tuhan melindungi perjalanan kami siang itu. Setelah makan dan beristirahat sekitar setengah jam, kamipun kembali melanjutkan perjalanan ke Malino.

Kami tiba sekitar pukul tiga dan langsung menepi ke masjid yang terletak tidak jauh dari hutan pinus Malino. Setelah beberapa teman menunaikan salat asar, kami langsung bergerak masuk ke hutan pinus. Menikmati udara dingin dengna bebauan pinus yang segar. Di sini, kami menikmati panorama dalam waktu terbatas sebisa mungkin: berfoto, bersenang-senang, mengunjungi kebun stroberi yang ternyata sudah tutup, dan mampir ke rumah kaktus juga.

Hanya sekitar dua jam menikmati pinus malino, kami harus segera bergerak kembali ke Makassar sebelum menghabiskan waktu di jalan berteman gelap terlalu lama. Tapi sebelum itu, kami singgah dulu di tempat terakhir, warung cendol malino, menikmati cendol khas dengan bau telur dan rempah sebagai pewarna cendol, juga gula merah yang manis dan pekat. Kami berenam bercerita banyak hal, termasuk rencana masa depan diiringi tawa sesekali. Sekarang, beberapa bulan setelah perjalanan singkat itu, saya sudah melupakan semua detail percakapan. Namun, yang saya ingat tentang hari itu adalah perasaan bahagia dari sebuah aksi spontanitas.  

***

Kini, kita semua telah melewati fase kehidupan dalam miniature masyarakat yang disebut universitas. Setelah menyelesaikan S1 di tahun 2019 kemarin, akhirnya pada tahun ini, saya, mila, mega, dan vita telah menyelesaikan pendidikan profesi dan siap terjun ke dunia kerja. Stella sudah bekerja di sebuah rumahs akit swasta di kota Makassar sekitar setengah tahun lalu, dan Chandra yang telah menyelesaikan studi S1 beberapa bulan yang lalu kini telah bekerja di pulau Halmahera, jauh disana. Intinya, semua orang punya fase hidup mereka masing-masing. Kita semua bertumbuh, dan pada satu pertemuan akan mengarah ke perpisahan, lalu pertemuan yang lain.

Manusia tidak bisa mencegah kodrat ini, kita hanya bisa belajar lebih bijak darinya. Malam hari menuju pukul dua belas, ketika sedang menuliskan catatan perjalanan ini, saya berharap kesehatan, rezeki melimpah, dan kebahagiaan untuk teman-teman KKN yang telah mengambil peran dalam satu drama fase hidup kemarin. Terima kasih.

 

Posting Komentar

1 Komentar

  1. The Mohegan Tribe is a sovereign, federally-recognized Indian tribe located with a reservation in Southeastern Connecticut. We welcome you to explore our web site to find out about our history, traditions, authorities, business ventures and extra. In February 2016, the Mohegan Tribe made an historic accomplishment once we 점보카지노 crossed international borders. If that does not assist, on-line forums together with these at a number of the} trusted portal itemizing above find a way to|could possibly|might have the ability to} help you. Unfortunately received't|you will not} ready to|be capable of|have the ability to} go to the native authorities or playing regulator for assist. That does not mean would possibly be} fully out of luck within the occasion of a dispute.

    BalasHapus