Kebun Kecil di Lantai Dua dan Pikiran-Pikiran Gila Masa Muda

Kebun kecil, atau lebih tepatnya deretan pot-pot yang ditumbuhi aneka tanaman yang bisa dimakan ini merupakan hobi baru yang mulai saya lakukan sejak pertengahan tahun 2020, setelah melalui berbulan-bulan physical distancing di kampung halaman. Berkebun sedikit banyak membuat saya merasa lebih tenang dan tidak keberatan melalui hari-hari seorang diri tanpa bertemu orang-orang. 






Saya mulai tertarik untuk menumbuhkan tanaman di balkon rumah sejak melihat beberapa siaran youtube tentang hal ini. saya senang sekali menonton siaran youtube seperti living big in a tiny house, Jonna Jinton, her 86m2, green renaissance, dan exploring alternatives. Tayangan-tayangan yang mereka sajikan pada suatu titik berhasil mengisi sebuah kekosongan di dalam diri ini, sebuah ujung dari muara pertanyaan-pertanyaan penuh ketertarikan: bagaimana andai saya …, atau andai kemarin saya begini, mungkin saya sudah begini ….

Mungkin hal ini terdengar lucu, bahkan bagi sebagian besar kawan yang pernah mendengarnya langsung. 

“Saya ingin tinggal di hutan dan bercocok tanam,” kataku.

Teman-teman yang mendengarnya terlihat kaget, beberapa langsung tertawa lepas. Apakah manusia yang lahir dan bertumbuh di kota tidak cukup waras untuk memilih hidup berdampingan dengan alam bersama seluruh kesusahan dan kesulitan hidupnya?

Saya berbincang pada diri sendiri beberapa kali dalam sehari. Tentang sebuah mimpi di awal usia 30an (kalau tuhan sudi memberi waktu sebanyak itu). Kubilang pada diriku yang rapuh, masa-masa muda ini tidak boleh berakhir dengan leha-leha. Kubilang, kalau ingin mematahkan cara kerja dunia, aku harus punya cukup kekuatan, kualitas-kualitas modern yang akan membuatku tetap bertahan dalam hidup yang bisa jadi panjang, mungkin juga singkat. Kubilang pada diriku sendiri, aku akan bekerja seperti orang gila: bukan uang, tetapi membangun jalanku sendiri. Aku akan bekerja sangat keras, belajar menumbuhkan aneka tanaman dengan tangan sendiri, belajar mengolah aneka bahan menjadi makanan lezat, belajar untuk tumbuh menjadi manusia yang dapat beradaptasi, belajar untuk menemukan kualitas-kualitas baru yang setidaknya tidak akan membuatku kelaparan dua puluh tahun kemudian. 

Belajar untuk ikhlas dan mengerti, bahwa dunia memang begini adanya. Singkat, dapat berlalu sekejap mata, tetapi di satu sisi, penuh pilihan, kuasa, dan mendebarkan. 

Sesekali aku merindukan impian-impian yang terasa semakin jauh. Oleh karena itu, aku mulai menanam; dimanapun. Di rumahku, aku menanam di halaman yang tidak terlalu luas. Di kota rantauan ini, aku menanam tanaman-tanaman berakar kecil di dalam pot-pot alakadarnya. Sedikit banyak hal ini menolongku, membuatku merasa lebih tenang walau sedikitpun tidak mendekati kebun-kebun yang berbuah beberapa kali dalam semusim, kebun luas yang telah tumbuh subur dipikiranku. 

Mungkin ini terdengar egois, seolah-olah hidupku saat ini adalah persiapan untuk kabur dari semua hal-hal yang mengikat dalam masyarakat tanpa memikirkan orang tua, keluarga, pasangan, tanggung jawab moral, dan semuanya. Kukatakan: bisa iya, bisa jadi juga tidak. Bukankah dunia sudah cukup kacau dengan semua ketidakpastiannya? Bahkan, mungkin saja jawaban dari semua ketidak-tenangan hati, kerisauan, juga kepenatan hidup adalah alam, kan? Bisa saja, manusia yang berlomba-lomba berdiri di atas rantai sosial tertinggi salah. Bagaimana jika dunia tanpa kasta, tanpa tingkatan sosial itu bisa diciptakan dengan menyatukan kehidupan bersama alam? Tanpa perlu lingkaran pemenuhan kebutuhan, manusia bisa memproduksi kebutuhannya sendiri. Toh, ribuan tahun lalu sebelum adanya uang, manusia memang hidup dari tenaganya dan alam saja?

Duh, saya ini bicara ngawur apa sih? 

Sebenarnya, hari ini saya sedang bersemangat untuk mengenalkan tanaman-tanaman di kebun balkon kecil saya. Saya menanam beberapa jenis tumbuhan yang edible, sebagai wujud kecil gagasan memproduksi makanan sendiri. Hehehe. 

Pertama, saya menanam cabai dan tomat, mengingat orang Indonesia tidak bisa lepas dari sambal, begitupun saya. Bibit tomat saya dapatkan dari penjual bibit lokal di Makassar. Waktu emngadopsi bibit yang berjumlah dua tersebut, tomat itu sudah tumbuh sekitar 10 cm dengan daun kecil-kecil. Untuk cabai, saya menyemai sendiri dari biji cabai kering yang saya rendam lalu pindahkan ke media tanam di dalam polybag kecil. 

Saya juga menanam mint, tentu saja. Mint bisa dibilang merupakan tanaman yang paling cepat tumbuh juga paling mudah cara perawatannya. Yang perlu diperhatikan dalam menanam tanaman ini hanya tanah yang subur, dan air yang cukup. Mint dengan cepat beranak pinak dengan akar yang bertumbuh sangat pesat. Awalnya tanaman ini serupa batang tegak dengan daun-daun di sisinya. Namun seiring pertumbuhannya, tanaman ini akan mulai merambat dengan lebat dan cepat, membuat saya berpikir untuk menggunakan tanaman ini sebagai hiasan pagar rumah impian suatu hari nanti. Dengan bau yang enak yang khas dan sejuk, merambat pada pagar-pagar kayu hitam, wah indahnya bukan main!

Oh iya, tanaman mint ini juga merupakan tanaman yang rutin saya panen. Saya sering mengeringkan daunnya lalu disimpan untuk digunakan nanti, ataupun daun segar mint yang diseduh dengan air hangat untuk dinikmati setiap hari. 

Tanaman selanjutnya adalah seledri dan bayam. Seledri juga saya beli diwaktu yang sama dengan tomat, dari seorang pekebun lokal kota Makassar. Seledri tumbuh lebat dengan cepat, besar, dan menggembirakan. Tidak hanya itu, saya juga sudah menggunakan beberapa batangnya untuk memasak. Salah satu yang terenak adalah cireng salju yang super nagih. Tanaman terakhir yang saya tanam di deretan pot-pot sederhana di lantai dua ini adalah bunga matahati.Meskipun musim yang cocok untuk menanam bunga matahari sebentar lagi berakhir, tetapi saya tidak menyangka bibir terakhirnya bisa tumbuh sebanyak enam batang. Saat ini, bunga matahari saya masih berdaun empat, baru ditanam sekitar empat hari yang lalu. Saya berencana untuk memberikan sebagian bunganya ke beberapa teman pekebun lainnya dan akan mencoba menanam dua bibit sisa di balkon rumah. 

Kedepannya, saya berharap bisa membeli lebih banyak tanaman, menanam lebih banyak, dan tentu saja berbagi kebaikan kepada lebih banyak orang. Oh iya! Untuk kamu yang sedang membaca tulisan ini dan berdomisili di Makassar, saya memiliki beberapa bibit mint, bunga matahari, dan cabai yang siap di adopsi. Ssst! Benih-benihnya bisa kalian adopsi secara gratis; lima bibit cabai, empat bibit bunga matahari, dan lima bibit mint. 

Terima kasih sudah membaca postingan ini, semoga harimu manyenangkan. Sampai jumpa di postingan selanjutnya! 


Posting Komentar

1 Komentar

  1. Casinos in California | Casino games at the casino
    online casino with free spins and https://vannienailor4166blog.blogspot.com/ no deposit needed. online casino with www.jtmhub.com free spins and no deposit needed. online casino with free spins https://febcasino.com/review/merit-casino/ and jancasino.com no deposit needed. wooricasinos.info online casino with free spins and no deposit needed.

    BalasHapus