Setahun dengan Majelis Permusyawaratan Mahasiswa
Inaugurasi menandakan berakhirnya tahun pertama, freshman’s year yang penuh perjuangan menempatkan diri sebisanya dalam lingkungan kampus yang benar-benar baru. Bisa dibilang, critical phase ini menjadi salah satu tonggak proses yang akan mengantar pada kontemplasi cerita tahun-tahun kedepannya. Saya ingat sekali, Maperwa menjadi lembaga pertama dimana saya diberikan kesempatan untuk belajar lebih luas lagi di kampus, tidak hanya sebatas himpunan thok.
Majelis permusyawaratan mahasiswa (Maperwa) di himpunan saya terdiri dari tiga angkatan aktif, dengan masing-masing tiga perwakilan/angkatan. Saya yang waktu itu baru saja menyelesaikan tahap pengaderan, terpilih bersama dua orang teman lainnya: Anti dan Yulinar. Sementara, itu, dua angkatan di atas kami juga sama terdiri dari tiga orang. Ketua maperwa saat pengurusan kami bernama Kak Rangga, angkatan 2013. Beliau merupakan mantan ketua BPH periode sebelumnya, lalu melanjutkan sebagai ketua Maperwa. Dari beliau dan dua orang temannya: Kak Firda dan Kak Ita, saya merasa diperlakukan sebagai adik yang benar-benar diberikan bimbingan. Selain itu, angkatan 2014 juga terdiri dari 3 orang, Kak Diba, Kak Keke, dan Kak Mazda.
Not gonna deny, but I am kinda shy person. I don’t talk often, and it is hard for me to encourage my idea. Tapi di maperwa saya belajar untuk berbicara di depan banyak orang. Sesuatu yang sulit diawal, tetapi dengan semua dukungan yang ada, saya akhirnya bisa sedikit lebih baik dari diri saya di masa lalu. Tidak hanya itu. Menjadi satu bagian kecil dan diperhatikan secara khusus, membuat kami (lebih tepatnya angkatan termuda), belajar lebih banyak hal. Tentang critical thinking, manajemen organisasi, wejangan-wejangan berfaedah, sampai hal-hal diluar itu.
Meski sudah berlalu sekitar 3 tahun yang lalu, namun saya masih mengingat sebagian kecil hal-hal yang kami lakukan selama di Maperwa. Saya masih ingat, dulu tergabung ke sub-divisi penulisan bersama Kak Diba, dan Kak Firda. Salah satu yang menjadi produk dari kepengurusan kami adalah terbitnya draft pedoman pengaderan yang berhasil kami rampungkan setelah beberapa periode maperwa sebelumnya.
Beberapa hari yang lalu, saya berbincang bersama Anti, salah satu anggota maperwa seangkatan. Kemarin kami banyak bercerita perihal nostalgia masa kepengurusan di Maperwa, juga keresahan-keresahan lembaga dalam periode online class ini. Kami berdua tenggelam dalam percakapan yang benar-benar panjang, dan sampai pada satu kesimpulan: memilih bergabung ke Maperwa merupakan keputusan terbaik masa perkuliahan yang kami lakukan.
LK2 MIPA
Latihan Kepemimpinan pada umumnya menjadi satu tahapan wajib dalam rentetan tahap pengaderan, baik tingkat fakultas maupun jurusan. Setelah bergabung kedalam Maperwa jurusan, saya, yuli, dan anti disarankan (tepatnya kandang paksa), mengikuti latihan kepemimpinan tingkat dua. Saya mengikuti LK2 di Fakultas Mipa, bersama Wahyu Usman, teman seangkatanku yang kebetulan pergi bersama melalui tahapan-tahapan pengaderan.
Seperti gelas kosong, saya memasuki sisi kampus yang benar-benar baru, belum pernah saya temui sebelumnya. Saya masih sangat ingat sekali, sewaktu pertama kali turun ke Mipa (well, it literally going down due to the landscape of this campus), saya benar-benar kaget/cultural shock sebab belum pernah mendapati bumbungan asap rokok sampai-sampai sekeliling tertutup asap, keramaian malam dengan gaya berpakaian yang jarang kutemui di kehidupan kampus sehari-hari, juga sorot mata mereka.
Sewaktu turun ke Mipa, saya dan ayu ditemani Kak Rangga dan Kak Nana, kedua senior yang sudah seperti kakak sendiri, menuruni tangga dari arah sekret himpunan (yang saat itu masih berlokasi di lantai dua gedung fakultas kedokteran). Tiap anak tangga membuat perutku semakin mulas, dan sampailah kami di depan ruang BEM Mipa. Saya ingat sekali, screening (sejenis pre-test sebelum memasuki hari-H latihan kepemimpinan) pertama yang saya lakukan adalah materi kemahasiswaan, dengan screener dari jurusan fisika, Kak Wahyu.
Membawa papan tulis kecil, sebuah spidol, dan penghapus. Saya duduk di koridor arah fakultas pertanian, lumayan jauh dari tempat saya dan senior tadi menunggu giliran screening. Kami berbicara perihal kemahasiswaan, dari sejarah mahasiswa, pergerakannya, perihal peristiwa-peristiwa penting, sampai pandangna terhadap gerakan mahasiswa masa kini. Meski sudah mendapatkan beberapa “bekal” dari senior sebelum turun kesini, saya tetap mengakui bahwa saya belajar banyak hal pada screening malam itu. Akhirnya, kami pun selesai melakukan screening sekitar pukul tiga pagi di hari pertama. Selanjutnya, saya datang di hari kedua dan ketiga, dengan dua pemateri screener yang berbeda, Kak Alam dan Kak Dedi.
Awalnya kami bertiga mengikuti LK2 di Mipa: aku, ayu, dan seorang senior bernama fadil. Saya dan ayu pun dipilih menjadi dua orang yang berhasil melwati tahap screening dan berlanjut ke latihan kepemipinan dua yang waktu itu diadakan di asrama amkop, di jalan meranti. Tiga hari yang berkesan, saya menjalin pertemanan dengan banyak orang, seperti agustan, sidik, nindy, iin, dan beberapa peserta lainnya. tidak banyak yang berkesan, tetapi yang paling berkesan adalah sewaktu menonton documenter samin vs semen, sbeuah documenter perjalanan ekspedisi Indonesia biru yang baru kudalami sekitar akhir tahun 2019, setelah salah satu dokumenternya, sexy killer viral di Indonesia menjelang pemilihan presiden kala itu.
Saya tidak menyangka menonton salah satu karya ekpedisi ini di tahun 2017. Dulu saya benar-benar terkagum-kagum, dan semakin kagum mengetahui proses dibalik layarnya. Saat sedang emnulis ini, saya semakin kagum dan yakin dengan konsep “cerita tidak harus selesai satu kali”. Benar, bahkan perihal video dokumenter yang saya tonton di tahun 2017 lalu, saya baru mendapati kelanjutan ceritanya di akhir 2019.
Badan Pengurus Harian Himafisio Unhas
Tempat bertumbuh di kampus selanjutnya adalah menjadi pengurus di Badan Pengurus Harian (BPH) jurusan. Di sini, saya dipercayakan menjabat sebagai koordinator bidang pendidikan dan pengembangan keilmuan (PPK). Divisi ini pada dasarnya bertanggung jawab pada aspek keilmuan fisioterapi kami, seperti mewadahi mahasiswa baru untuk bimbingan tambahan, mengadakan seminar dan workshop berskala nasional, sampai kajian-kajian rutin keilmuan lainnya.
Kepemimpinan pertama kali saya implementasikan di sini, mengarahkan lima orang anggota divisi lainnya. sama seperti proses di dalam kampus lainnya: tidak mudah, tapi sepadan.
…Bersambung ke Tulisan Selanjutnya

0 Komentar