Pernah nggak sih? Ingin
menanam tetapi terbatas dengan lahan, apalagi para masyarakat urban
metropolitan yang kadang satu rumah dengan rumah lainnya hanya berbatas tembok
saja? Tidak bisa kita pungkiri bahwa lahan menjadi isu dalam memulai aktifitas
berkebun di daerah-daerah urban. Ketika lahan tinggal bahkan terbatas bagi
beberapa orang, sehingga keinginan untuk mulai menanam adalah sesuatu yang
mahal.
Maka beruntunglah kita,
orang-orang yang mempunyai sedikit petak tanah. Saat ini, jika kawan-kawan
melihat beberapa inspirasi urban farming yang ada di Indonesia maupun di dunia,
khususnya negara-negara padat penduduk, berkebun di balkon rumah menjadi solusi
yang cukup diminati.
Pada tulisan kali ini,
saya akan berbagi perihal pengalaman berkebun di balkon rumah. Saya sudah
berkebun di balkon lantai dua indikos yang saya sewa selama 4-6 bulan,
khususnya setelah kembali dari kampung untuk melanjutkan studi profesi yang
tertunda akibat pandemic Covid-19 kemarin. Dan kali ini, saya akan berbagi
sedikit tips ataupun cerita selama menanam di balkon lantai dua J
****
1. Pilihlah tempat tanam dengan cermat
Untuk beberapa orang yang beruntung tinggal di rumah milik sendiri (tidak seperti saya yang hanya tinggal di indekos), pemilihan tempat tanam dapat sangat beragam. Kawan-kawan pekebun bisa menanam dengan bedding (kira-kira kotak besar yang terbuat dari kayu dengan kapasitas besar, sangat cocok untuk membuat kebun mini di lantai dua), pot, ataupun dengan tempat tanam lain seperti pipa, maupun pot-pot gantung yang digantung.
Saya pribadi memilih opsi kedua, yaitu menanam dengan pot dengan beberapa pertimbangan.
Pertama, pot sangat mudah diperoleh, ringan, dan gampang dipindahkan. Saya pun memilih pot panjang, yang muat ditanami 3/5 jenis tanaman seperti seledri, tomat, dan mint. Kedua, pot sangat mudah dimobilisasi, kalau-kalau masa studi/urusan saya di Makassar telah selesai, saya bisa kembali ke palopo membawa pot-pot ini. ketiga, pot-pot berukuran sedang sangat cocok ditanami tumbuh-tumbuhan berakar kecil seperti mint, seledri, bayam, sawi, semua tumbuh-tumbuhan yang memang ingin saya kembangkan di rumah.
Selain pot dan bedding, kawan pekebun juga dapat menggunakan pipa paralon dengan metode tanam hidroponik, atau hanya sebagai tempat tanam tanaman-tanaman kecil, contohnya stroberi.
2. Perhatikan komposisi media tanam
Berhubung menanam di lantai dua berarti tidak bersentuhan dengan tanah yang luas, pekebun harus bisa memerhatikan kelembaban tanah, tingkat nutrisi, dan pertumbuhan akar untuk mencegah koloni-koloni hama di tanah yang tentunya akan memengaruhi pertumbuhan tanaman kita. Selain itu, setelah musim panen, pekebun disarankan untuk melakukan rotasi tanam di setiap beddingnya. Hal ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan nutrisi tiap bed.
Berkebun di lantai dua tentu memiliki tantangan tersendiri, salah satunya pekebun harus dengan cermat membersihkan dan mengendalikan tingkat nutrisi tanah setiap selesai musim panen, membersihkan tanah dari sisa-sisa akar tanaman sebelumnya, dan masih banyak pekerjaan-pekerjaan lainnya.
Namun tentu saja, tantangan ini akan sebanding dengan kebahagiaan memanen tanaman sendiri di kota. Semangat!
3. Menanam tanaman merambat seperti mentimun dan kembang telang bisa menjadi pilihan cermat
Salah satu tantangan bagi pekebun yang memanfaatkan balkon/lahan di lantai dua adalah intensitas matahari. Perlu dicatat bahwa tidak semua tanaman tahan dengan intensitas cahaya matahari yang terik dan sering. Oleh sebab itu, perlu adanya tanaman merambat dengan daun-daun yang dapat menjadi peneduh beberapa tanaman dibawahnya. Saya sangat menyarankan menanam kembang telang, atau mentimun.
Kedua tanaman ini cenderung tumbuh lebat dalam waktu singkat. Selain itu, tanaman-tanaman ini juga menghasilkan hasil panen yang sehat. Sebut saja kembang telang untuk dibuat teh dipagi hari/ campuran lainnya. mentimun tidak usah ditanya lagi, kan? Hehehe.
Itulah beberapa tips
berkebun di lantai dua. Selanjutnya, saya akan bercerita persoalan pengalaman mengeringkan
daun mint. Seperti yang kita ketahui, mint merupakan salah satu tanaman semak
yang tumbuh cepat dengan dedaunan-dedaunan lebat. Tanaman ini sangat sayang
jika dibiarkan tumbuh tanpa diolah. Oleh sebab itu, saya memutuskan
mengeringkan beberapa tangkai beserta daunnya yang kelewat subur.
Saya melakukan
pengeringan pada daun-dan mint sebanyak tiga kali, dengan dua metode berbeda.
Sebelum saya berbagi pengalaman, para pekebun tampaknya perlu tahu beberapa
cara mengeringkan tanaman herbal, diantaranya:
· Mengeringkan dengan sinar matahari
· Mengeringkan di dapur dengan panas dari kompor saat memasak
· Mengeringkan dengan mengangin-anginkan di dekat aliran udara/jendela yang terbuka
· Mengeringkan dengan oven
· Mengeringkan dengan microwave
· Mengeringkan dengan bahan pengering
Dari beberapa metode
pengeringan di atas, saya baru mencoba dua metode, yakni mengeringkan dengan
sinar matahari dan mengeringkan di dapur dengan panas dari kompor saat memasak.
Kedua metode tersebut terbilang cukup mudah. Namun, saya bisa merasakan
perbedaan hasil mint kering dari keduanya. Untuk metode dengan panas matahari,
mint yang dihasilkan lebih kering dengan rasa yang lebih pekat dan sepat.
Selain itu, warnanya lebih coklat dan gelap dibandingkan metode lain yang saya
coba. Berbeda dengan mint yang dihasilkan dari proses pengeringan di dalam
rumah, dimana mint hasil pengeringan lebih hijau, kering, dengan rasa yang
lebih lite.
Saya pribadi lebih
menyukai cara pengeringan di dalam rumah, meskipun membutuhkan waktu yang lebih
lama. Sekian ceritaku hari ini, terima kasih telah membaca sampai akhir.
Semoga hari kalian
menyenangkan, sampai jumpa di postingan selanjutnya J
0 Komentar