Saya pernah mendengar
ini dari sebuah acara di televise: “lebih memilih jadi ikan besar di kolam
kecil atau ikan kecil di kolam besar?”. Kurang lebih seperti itulah pertanyaannya.
Saya menonton tayangan pemilihan Miss Indonesia ini sewaktu tingkat akhir SMP.
Kontestan perempuan cantik di dalam layar itu memilih menjadi ikan besar di
kolam kecil, dengan analogi bagai orang berpengaruh di lingkungan terbatas,
dengan harapan dapat membawa perubahan pada lingkungan kecilnya.
Saya masih sering
merenungkan pertanyaan sederhana yang saya dengan hampir belasan tahun lalu
itu. Semakin kecil ukuran seekor ikan, maka ia berada semakin di bawah dari
sebuah skema rantai makanan, berarti: semakin gampang dimangsa. Namun apa
artinya menjadi besar dalam lingkungan yang kecil, tanpa pernah merasakan
lingkungan luas sama sekali? Bisa jadi ikan besar dapat memberi pengaruh pada
lingkungan kecilnya, tetapi di satu sisi, bisa jadi ikan besar di lingkungan
kecil juga sebagai representasi orang kolot yang kurang mengenal dunia.
Benar kata seseorang
lainnya: cepat tersinggung adalah tanda kamu mainnya kurang jauh, dan memang
benar begitu. Semakin pendek kaki melangkah, maka pikiran akan semakin sempit
juga. Salah satu keputusan terbaik selama lima tahun ini (selain masuk Maperwa
tentu saja), adalah terjun ke dunia “kolam” yang benar-benar baru, yakni dunia
kerelawanan. Dunia ini punya warna yang sangat berbeda dari warna-warna yang
pernah saya kenal sebelumnya. Sebuah lingkungan dengan pergaulan yang sangat
luas. Di lingkungan ini, saya berkesempatan membangun perspektif-perspektif
baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.
Sikola
Cendekia Pesisir
Komunitas pertama ini,
bisa dibilang sebuah pilihan yang akan selalu saya syukuri. Pilihan yang
mengantarkan pada puluhan tempat-tempat baru, serta ratusan orang-orang unik
yang berbahagia. Saya akan selalu ingat tanggalnya: 18 Agustus 2017. Hari itu,
sebenarnya saya hendak pergi bersama rombongan AIESEC dan Kira ke Pulau
Samalona, acara perpisahan sebelum para volunteer internasional itu kembali ke
negara mereka masing-masing. Sayangnya, alih-alih berada di pelabuhan
penyeberangan kapal di depan benteng Fort Rotterdam, saya justru sedang
menunggu rombongan pemberangkatan SCP di depan masjid Pelabuhan Paotere.
Pemberangkatan
dijadwalkan pukul 09:00 WITA. Cuaca mendung dan awan abu-abu tampak tidak
begitu senang. Begitu saya tiba di dermaga paotere, saya melihat dua orang
lainnya sudah ada di titik kumpul lebih dulu. Jusi dan Ulfa. Teman relawan
pertama, mahasiswa angkatan 2015 Unhas, sama sepertiku. Kami menunggu disisipi
sedikit cerita. Pukul setengah Sembilan, berita baru datang. Katanya, kapal
tidak jadi sandar di dermaga paotere, melainkan di samping lelong tidak jauh
dari dermaga.
Bersama sekitar 12
orang calon relawan, kami berjalan kaki dari Paotere ke Lelong, masuk ke
bangunan dengan pagar biru di sebelah kiri, sampai ke satu dermaga ‘kecil’ yang
sering digunakan jolloro berukuran sedang. Pagi itu, beberapa orang mulai
mengomel sebab relawan-relawan yang tidak tepat waktu. Beberapa orang sibuk
menghubungi, sementara saya memilih duduk tenang di tepi, melihat pergerakan
kecil kapal yang dibawa ombak.
“Akhirnya untuk pertama
kalinya saya naik kapal!!”
Waktu itu saya tidak
kenal satu orang pun. Saya juga tidak pernah naik kapal, belum pernah mengajar
anak-anak, belum pernah ke pulau-pulau sama sekali. Satu keputusan berawal dari
rasa penasaran itu, membawa pada hal-hal besar tahun-tahun setelahnya. Maka
ketika seorang filsuf bilang: satu langkah hari ini menentukan ribuan langkah
di hari selanjutnya, saya tidak bisa lebih setuju dari pernyataan tersebut.
Ombak pada pelayaran
perdana waktu itu adalah yang terhebat, bahkan setelah puluhan pelayaran
selanjutnya. Awan kelabu menggulung mengantarkan kapal kami bergerak lepas dari
tanah ibu Makassar. Sekitar setengah perjalanan, hujan deras turun. Buku yang
kubaca sewaktu awal perjalanan buru-buru kusimpan di dalam tas yang dibungkus
pelapis anti air. ¾ jarak menuju Pulau Langkai, kapal semakin bergoyang. Saya yang
duduk di depan kapal (bagian ujunng kapal yang biasanya berbentuk lancip) basah
kuyup, terpelanting kesana-kemari. Untung saja beberapa relawan lain disekitar
saya menyelamatkan saya ditengah goncangan kapal yang cukup hebat kala itu.
Dan kami sampai dengan
selamat. Tidak ada mabuk laut dan sepertinya saya ditakdirkan untuk berlayar
hahaha. Tiga hari di pulau langkai adalah yang terbaik. Berkenalan dengan kak
lina langit, kak uci, kak ulfa, kak ati, kak rosni, dan kaka-kaka lainnya.
semua hal begitu menyenangkan. Mandi dengan air payau, pagi hari di pulau dengan
tanah putih, rumah-rumah panggung dan terik siang hari, terima kasih.
Sekolah
Kolong Project
16-18 Maret 2018. Bersama
alfar, kami memberanikan diri mengajar selama dua hari di pedalaman Kabupaten
Maros, sebuah sekolah di bawah kolong rumah warga, terletak di Desa Barabaraya,
Tompobulu. Pagi itu kami berkumpul di pertamina pintu satu Unhas. Beberapa orang
tampak tidak asing, beberapa lagi benar-benar asing. Mereka tampak akrab,
sementara sebagai seorang outsider dan introvert kronik, berbincang di awal
pertemuan tampaknya mustahil. Alhasil, saya tidak banyak bicara bahkan setelah
perjalanan yang cukup panjang dan guyuran hujan yang lumayan lebat.
Kami singgah di salah
satu rumah panggung di sebelah kiri. Rumah yang dikhususkan sebagai tempat
parkir relawan yang hendak masuk ke dalam barabarayya. Hujan mulai reda saat
kami berjalan masuk ke bara-baraya. Berbeda dengan medan sekarang, dulu jalanan
masih berupa setapak-setapak dengan rumput-rumput hijau. Terdapat sebuah pagar
sederhana untuk menghalau hewan ternak maupun hewan liar memasuki lahan warga,
berupa bambu yang disusun tiga dan dipasang sejajar setinggi pinggang orang
dewasa. Pemimpin rombongan membuka dua bambu. Kami melompat kecil melewatinya,
dan perjalanan dilanjutkan sepanjang pinggir ladang warga. Sawah bertingkat
yang kala itu hijau pekat dan seragam benar-benar memanjakan mata orang kota.
Perjalanan berlangsung
biasa saja, melewati turunan ekstrem dengan medan bebatuan besar, kami harus
ekstra hati-hati di setiap pijakan kaki. Kaki mulai lelah saat suara air
mengalir yang menabrak bebatuan sungai tampak samar-samar. Di depan kami,
tampak jembatan gantung tua. Besi pegangannya sudah berkarat, sedangkan
kayu-kayunya tampak tua dan lembab. Saya menyeberang dengan hati-hati, dan
disinilah semua penderitaan pendakian dimulai. Empat kali berhenti tiap kali
bertemu tanah yang sedikit lebih landai. Dulu, saat pertama kali berkunjung ke
barabarayya, belum ada jalur landai baru di sebelah kanan, tepatnya jalur
sebelum memasuki kampung seperti sekarang. Dulu, saya mendaki tanjakan seram dengan
batu-batu super besar: rasanya ingin pulang saja.
Kami sampai menjelang
magrib. Cahaya kuning matahari yang lewat dibalik sela-sela daun pepohonan
lebat, sebuah rumah panggung sederhana dengan sebidang tanah plontos di
sampingnya. Di kolong rumah itu tampak meja dan bangku-bangku tua dengan cat
kayu yang sudah pudar. Sebuah papan tulis spodol berwarna putih adalah satu-satunya
yang baru dan tampak modern di bawah kolong itu.
Anak-anaknya masih
begitu malu-malu. Saya dan para perempuan tidur di rumah mama rossi, sementara
laki-laki tidur di rumah daeng raga. Kebiasaan dan kegemaran memasak bisa
dibilang mulai terbentuk setelah bergabung di kolong. Resep pudding yang
disukai anak-anak, makanan sederhana seperti tempe goreng sambel tomat, atau
ikan kering dan kacang, serta aneka sayur apa adanya menjadi hidangan pertama
yang bisa benar-benar jadi dan dimakan habis.
Berawal dari satu hari
yang tidak terlupakan itu, membuka jalan ratusan perspektif baru tentang
kebahagiaan, kesederhanaan, rumah untuk pulang, dan orang-orang hebat dengan
cara mereka sendiri.
Pajappa
Bangkeng
30-31 Maret 2018, di
Desa Borongnangka adalah kali pertama saya mengenal komunitas Pajappa Bangkeng.
Waktu itu saya, kak takdir, kak naning, dan kak caca mewakili SCP mengikuti
milad pajappa bangkeng di lokasi binaannya di Borongnangka. Perjalanan dengan
sepeda motor terasa begitu jauh. Kami baru tiba di lokasi saat waktu menjelang
isya, setelah berangkat dari teknik gowa unhas setelah ashar. Tiba di suatu
lokasi yang benar-benar dingin. Saya begitu bersyukur para perempuan bisa tidur
diatas ranjang empuk dengan selimut-selimut tebal.
Saya sudah mengenal
founder dari PB, Kak Lina jauh sebelum mengenal Pajappa Bangkeng. Pagi itu,
kami sarapan bersama panitia, lalu berangkat senam pagi di depan sekolah, MI
Borongnangka. Sekolah itu diapit pohon-pohon dan semak-semak. Tidak ada lantai
dan atap yang memadai. Bahkan dinding-dinding sekolahnyapun tidak cukup
menangkal angin. Sedih sekaligus jatuh cinta. Sedih dengan kendisi sekolahnya,
tetapi jatuh cinta dengan keindahan alam kabupaten gowa dan keramahan warga
Borongnangka.
31 Mei-3 Juni 2018 di
angkatan 18 Pajappa Bangkeng, saya kembali mengunjungi Borongnangka sebagai
salah satu relawan, menghabiskan tiga hari yang lebih panjang, bukannya sehari
semalam seperti kunjungan pertama kemarin. Pajappa Bangkeng, satu komunitas
yang benar-benar berkesan. Komunitas yang mempertemukan banyak orang dan
menjadikan Kabupaten gowa seperti halaman belakang rumah. Saya tidak pernah tau
ada keindahan pegunungan, warga yang ramah di segala penjuru, dan orang-orang
sebaik di sini.
Seperti ikan kecil di
kolam besar, di usia awal 20an sekarang, tidak banyak yang bisa dilakukan. Takdirlah
yang menjadikan anak muda sebagai ikan kecil di usia 20an. Tidak banyak yang
bisa dilakukan selain tetap berusaha tumbuh sedikit demi sedikit.Tetapi hal
baik dari menjadi ikan kecil adalah kemampuan bergerak cepat, gesit, dan muat
di kolam manapun. Di usia ini, semakin luas kolamnya, maka semakin tinggi juga
potensi untuk tumbuh besar bedepannya.
Pada bagian tiga dari “Lima Tahun, Lima Puluhan Orang, Sepuluh
Semester, Dua Gelar”, saya bercerita perihal dunia di luar kampus: teruslah
bertahan dan bertumbuh sedikit-sedikit.

0 Komentar