Baruga
di Tahun 2019
Baruga tahun 2019
seperti mati suri: merasakan rasa ketidak pastian sebentar, lalu kembali
menjadi mahasiswa lagi, tepatnya mahasiswa profesi. Baruga di tahun 2019 adalah
wisuda pertama kali. Semuanya terasa baru, menyenangkan, mendebarkan, tidak
terduga, buta arah. Semua serba baru dan mendebarkan. Ketakutan akan dunia
abu-abu setelah keluar dari Baruga Andi Pangeran Pettarani menghinggapi seiring
acara wisuda berlangsung. Saya dengan perasaan yang emosional, menangis seraya
paduan suara menyanyikan lagu Indonesia raya dan mars universitas hasanuddin.
Kesadaran perihal
tanggung jawab akan gelar, beban sosial, dan tanggung jawab menghidupi diri
sendiri berputar cepat. Lagu-lagu dan sambutan-sambutan tidak begitu terdengar,
pikiran waktu itu tenggelam dalam problem-problem yang menunggu besok: bisa
jadi persoalan kerja, bisa jadi hubungan antar manusia, bisa jadi perasaan
sendiri, semua persoalan yang menunggu di depan mata itu, membuat perasaan di
hari kelulusan campur aduk.
Baruga di tahun 2019
begitu ramai: satu wisudawan membawa rombongan keluarga belasan orang, beberapa
datang dengan sederhana, yaitu sepasang orangtua yang bahagia, beberapa lagi
datang dan pulang sendiri: wajah mereka biasa saja, hanya sedikit berhias untuk
membaur dengan wisudawan lainnya, beberapa lagi meski datang sendiri, beberapa
kawan, junior maupun senior kampusnya menunggu dengan lukisan wajah raksasa
untuk tiap mahasiswa kemanya.
Di dalam mobil,
perjalanan pulang yang bergulat dengan kemacetan padat merayap, hatiku
kosong-melompong. Seperti satu bagian yang berharga telah diambil dan aku tidak
bisa berbuat apa-apa. Perasaanku masih terasa kosong selama beberapa hari, lalu
kusadari yang membuatku merasa kehilangan adalah status mahasiswa yang
kusandingkan dengan pertanyaan:
“Sekarang lagi sibuk
apa?”
“Masih mahasiswa.”
Selama 3.5, template
jawaban masih mahasiswa begitu
melekat dan memberikan kenyamanannya tersendiri. Perasaan penuh ketidakamanan
ini, nyatanya hanya berlangsung selama tiga bulan saja. Setelah menyelesaikan
strata satu dan pulang ke kampung, pengumuman penerimaan mahasiswa baru prodi
pendidikan profesi fisioterapi di kampusku terdahulu terbuka sekitar
pertengahan agustus di tahun yang sama. Seketika ruang kosong setelah keluar
dari baruga tiga bulan lalu perlahan-lahan mulai terisi. Perasaan tenang yang
semu itu, periode sebagai seorang pembelajar akan dimulai sekali lagi.
Kali ini, saya berjanji
pada diri sendiri untuk tenggelam sedalam-dalamnya, memeluk bidang keilmuan
yang telah ditakdirkan tuhan untuk saya, berjanji untuk membantu sesama manusia
lewat profesi sebagai seorang fisioterapis.
Memulai
Profesi
Pendidikan profesi
merupakan tahap pendidikan wajib bagi tenaga kesehatan, yang akan menangani
manusia selama masa pengabdiannya nanti, begitupun saya sebagai calon
fisioterapis. Di semester satu, kami melakukan praktek di beberapa bagian
seperti radiologi, Laboratorium patologi klinik, stase musculoskeletal, serta
manajemen issu fisioterapi. Semua stase di semester satu dilakukan di Rumah
Sakit Pendidikan Unhas, Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo, Klinik Physio Sakti,
Puskesmas Somba Opu, dan Puskesmas Samata yang terletak di Kabupaten Gowa.
Sistem pendidikan profesi
jauh berbeda dengan sistem pendidikan di masa strata satu. Pada masa pendidikan
profesi ini, rasa cinta terhadap profesi yang akan diemban dimasa depan ini
semakin besar, semakin bisa mengerti tentang “fungsi” kami dalam masyarakat. Di
bagian stase pertama yaitu radiologi dan lab patologi klinik, saya jadi lebih
mengerti fungsi hasil xray pasien, bagaimana memberikan terapi berdasarkan kondisi
tulangnya, letak patahan, jenis penyakit, dan lainnya. begitupun di Lab
patklin, saya jadi mengerti bahwa kertas laporan analisa darah pasien
mencerminkan keadaan pasien lebih mendalam, juga bahwa kertas-kertas itu
bukanlah sekadar kertas, melainkan rambu-rambu bagi terapis dalam menentukan
program latihan pasien.
Memasuki stase
musculoskeletal atau otot, tulang, dan rangka, saya dan teman-teman kelompok
kun pindah ke Klinik Physio Sakti, klinik fisioterapi yang cukup terkenal di
Kota Makassar, diketuai oleh kepala prodi fisioterapi unhas, seorang yang sudah
seperti ayah sendiri bagi kami. Di klinik ini, kami diajari dan melihat
langsung bagaimana seorang fisioterapis dengan modalitasnya, bisa memperbaiki
kualitas hidup pasiennya. Mungkin di fase ini, sebuah kesadaran dan kecintaan
akan profesi fisioterapis mulai terbangun:
Melihat pasien yang
sewaktu datang pertama kali tidak bisa menggerakkan tangannya sama sekali, lalu
di kunjungan ke 3 atau ke 4, pasien tersebut datang dengan wajah sumringah,
tangannya sudah bisa digerakkan meski masih butuh beberapa sesi terapi untuk
bisa benar-benar bekerja dengan baik.
Di akhir masa stase, kami
masuk ke puskesma somba opu dan puskesmas samata selama sebulan. Di sini, saya
dan teman-teman melakukan beberapa pekerjaan seperti pemberian terapi pada
pasien yang datang ke puskesmas, membantu penyuluhan ke berbagai sekolah, serta
melakukan home visit, atau mengunjungi pasien-pasien yang memiliki keterbatasan
fisik yang menyebabkan mereka tidak dapat datang ke puskesmas. Mengetuk rumah
pasien satu persatu, dari pagi sampai masjid berbunyi di siang hari adalah
tantangan yang terbayar lunas dengan ucapan terima kasih dari para pasien,
cerita-cerita hangat dari sepasang mata yang sudah tua, juga bonus seduhan teh,
dan aneka kue-kue manis.
Menyelam
Lebih Dalam
Di masa preklinik atau
S1, saya hanya memasukkan setengah kaki pada profesi ini, bagaikan rusa yang
hanya melihat danau dari pinggirnya saja. Namun semenjak terjun langsung di
lapangan di masa pendidikan profesi, rusa yang dulu hanya melihat dari pinggir
danau saja kini sudah berenang di tengah-tengahnya, bahkan siap untuk menyelam
ke kedalaman danau yang penuh misteri.
Baruga
di Tahun 2021
Dulu, bahkan sekarang
pun, saya tidak tahu benar-benar ingin melakukan apapun atau menjadi siapapun. Namun
begitu memasuki masa stase di yayasan pembinaan anak cacat (YPAC) kota Makassar
dan bertemu dengan anak-anak istimewa itu, satu panggilan untuk berguna bagi
mereka muncul di sana. Bisa dibilang, mimpi dan jalan hidup kedepannya saya
temukan di sini, diantara tangisan anak-anak dan rasa sabar membentuk pola
gerakan motorik mereka.
Anak-anak itu, juga
pasien-pasien yang saya tangani selama masa profesi adalah titik kunci yang menciptakan
pikiranku saat ini. Di kali kedua menginjakkan kaki di baruga andi pangeran
pettarani sebagai seorang wisudawan, saya mendapati perasaanku jauh lebih kuat disbanding
kali pertama. Tidak ada rasa takut, yang tersisa adalah rasa tidak sabar untuk
menunaikan panggilan jiwa sebagai seorang fisioterapis.
Siapapun kamu, jika
membaca tulisan ini, terima kasih. Saat menulis ini saya sedang berusaha untuk
mengejar cita-cita yang lebih besar. Saya ingin belajar lebih, agar bisa
menolong lebih banyak orang dengan lebih baik lagi. Doakan saya, ya, tolong
doakan saya agar bisa menjadi sosok yang ikhlas membantu orang di masa depan
nanti. Saya sudah menemukan hal yang ingin saya lakukan selama sisa hidup ini,
semoga kamu juga.

0 Komentar