Lima Tahun, Lima Puluhan Orang, Sepuluh Semester, Dua Gelar (Bagian Empat)

 


Baruga di Tahun 2019

Baruga tahun 2019 seperti mati suri: merasakan rasa ketidak pastian sebentar, lalu kembali menjadi mahasiswa lagi, tepatnya mahasiswa profesi. Baruga di tahun 2019 adalah wisuda pertama kali. Semuanya terasa baru, menyenangkan, mendebarkan, tidak terduga, buta arah. Semua serba baru dan mendebarkan. Ketakutan akan dunia abu-abu setelah keluar dari Baruga Andi Pangeran Pettarani menghinggapi seiring acara wisuda berlangsung. Saya dengan perasaan yang emosional, menangis seraya paduan suara menyanyikan lagu Indonesia raya dan mars universitas hasanuddin.

Kesadaran perihal tanggung jawab akan gelar, beban sosial, dan tanggung jawab menghidupi diri sendiri berputar cepat. Lagu-lagu dan sambutan-sambutan tidak begitu terdengar, pikiran waktu itu tenggelam dalam problem-problem yang menunggu besok: bisa jadi persoalan kerja, bisa jadi hubungan antar manusia, bisa jadi perasaan sendiri, semua persoalan yang menunggu di depan mata itu, membuat perasaan di hari kelulusan campur aduk.

Baruga di tahun 2019 begitu ramai: satu wisudawan membawa rombongan keluarga belasan orang, beberapa datang dengan sederhana, yaitu sepasang orangtua yang bahagia, beberapa lagi datang dan pulang sendiri: wajah mereka biasa saja, hanya sedikit berhias untuk membaur dengan wisudawan lainnya, beberapa lagi meski datang sendiri, beberapa kawan, junior maupun senior kampusnya menunggu dengan lukisan wajah raksasa untuk tiap mahasiswa kemanya.

Di dalam mobil, perjalanan pulang yang bergulat dengan kemacetan padat merayap, hatiku kosong-melompong. Seperti satu bagian yang berharga telah diambil dan aku tidak bisa berbuat apa-apa. Perasaanku masih terasa kosong selama beberapa hari, lalu kusadari yang membuatku merasa kehilangan adalah status mahasiswa yang kusandingkan dengan pertanyaan:

“Sekarang lagi sibuk apa?”

“Masih mahasiswa.”

Selama 3.5, template jawaban masih mahasiswa begitu melekat dan memberikan kenyamanannya tersendiri. Perasaan penuh ketidakamanan ini, nyatanya hanya berlangsung selama tiga bulan saja. Setelah menyelesaikan strata satu dan pulang ke kampung, pengumuman penerimaan mahasiswa baru prodi pendidikan profesi fisioterapi di kampusku terdahulu terbuka sekitar pertengahan agustus di tahun yang sama. Seketika ruang kosong setelah keluar dari baruga tiga bulan lalu perlahan-lahan mulai terisi. Perasaan tenang yang semu itu, periode sebagai seorang pembelajar akan dimulai sekali lagi.

Kali ini, saya berjanji pada diri sendiri untuk tenggelam sedalam-dalamnya, memeluk bidang keilmuan yang telah ditakdirkan tuhan untuk saya, berjanji untuk membantu sesama manusia lewat profesi sebagai seorang fisioterapis.  

Memulai Profesi

Pendidikan profesi merupakan tahap pendidikan wajib bagi tenaga kesehatan, yang akan menangani manusia selama masa pengabdiannya nanti, begitupun saya sebagai calon fisioterapis. Di semester satu, kami melakukan praktek di beberapa bagian seperti radiologi, Laboratorium patologi klinik, stase musculoskeletal, serta manajemen issu fisioterapi. Semua stase di semester satu dilakukan di Rumah Sakit Pendidikan Unhas, Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo, Klinik Physio Sakti, Puskesmas Somba Opu, dan Puskesmas Samata yang terletak di Kabupaten Gowa.

Sistem pendidikan profesi jauh berbeda dengan sistem pendidikan di masa strata satu. Pada masa pendidikan profesi ini, rasa cinta terhadap profesi yang akan diemban dimasa depan ini semakin besar, semakin bisa mengerti tentang “fungsi” kami dalam masyarakat. Di bagian stase pertama yaitu radiologi dan lab patologi klinik, saya jadi lebih mengerti fungsi hasil xray pasien, bagaimana memberikan terapi berdasarkan kondisi tulangnya, letak patahan, jenis penyakit, dan lainnya. begitupun di Lab patklin, saya jadi mengerti bahwa kertas laporan analisa darah pasien mencerminkan keadaan pasien lebih mendalam, juga bahwa kertas-kertas itu bukanlah sekadar kertas, melainkan rambu-rambu bagi terapis dalam menentukan program latihan pasien.

Memasuki stase musculoskeletal atau otot, tulang, dan rangka, saya dan teman-teman kelompok kun pindah ke Klinik Physio Sakti, klinik fisioterapi yang cukup terkenal di Kota Makassar, diketuai oleh kepala prodi fisioterapi unhas, seorang yang sudah seperti ayah sendiri bagi kami. Di klinik ini, kami diajari dan melihat langsung bagaimana seorang fisioterapis dengan modalitasnya, bisa memperbaiki kualitas hidup pasiennya. Mungkin di fase ini, sebuah kesadaran dan kecintaan akan profesi fisioterapis mulai terbangun:

Melihat pasien yang sewaktu datang pertama kali tidak bisa menggerakkan tangannya sama sekali, lalu di kunjungan ke 3 atau ke 4, pasien tersebut datang dengan wajah sumringah, tangannya sudah bisa digerakkan meski masih butuh beberapa sesi terapi untuk bisa benar-benar bekerja dengan baik.

Di akhir masa stase, kami masuk ke puskesma somba opu dan puskesmas samata selama sebulan. Di sini, saya dan teman-teman melakukan beberapa pekerjaan seperti pemberian terapi pada pasien yang datang ke puskesmas, membantu penyuluhan ke berbagai sekolah, serta melakukan home visit, atau mengunjungi pasien-pasien yang memiliki keterbatasan fisik yang menyebabkan mereka tidak dapat datang ke puskesmas. Mengetuk rumah pasien satu persatu, dari pagi sampai masjid berbunyi di siang hari adalah tantangan yang terbayar lunas dengan ucapan terima kasih dari para pasien, cerita-cerita hangat dari sepasang mata yang sudah tua, juga bonus seduhan teh, dan aneka kue-kue manis.   

Menyelam Lebih Dalam

Di masa preklinik atau S1, saya hanya memasukkan setengah kaki pada profesi ini, bagaikan rusa yang hanya melihat danau dari pinggirnya saja. Namun semenjak terjun langsung di lapangan di masa pendidikan profesi, rusa yang dulu hanya melihat dari pinggir danau saja kini sudah berenang di tengah-tengahnya, bahkan siap untuk menyelam ke kedalaman danau yang penuh misteri.

Baruga di Tahun 2021

Dulu, bahkan sekarang pun, saya tidak tahu benar-benar ingin melakukan apapun atau menjadi siapapun. Namun begitu memasuki masa stase di yayasan pembinaan anak cacat (YPAC) kota Makassar dan bertemu dengan anak-anak istimewa itu, satu panggilan untuk berguna bagi mereka muncul di sana. Bisa dibilang, mimpi dan jalan hidup kedepannya saya temukan di sini, diantara tangisan anak-anak dan rasa sabar membentuk pola gerakan motorik mereka.

Anak-anak itu, juga pasien-pasien yang saya tangani selama masa profesi adalah titik kunci yang menciptakan pikiranku saat ini. Di kali kedua menginjakkan kaki di baruga andi pangeran pettarani sebagai seorang wisudawan, saya mendapati perasaanku jauh lebih kuat disbanding kali pertama. Tidak ada rasa takut, yang tersisa adalah rasa tidak sabar untuk menunaikan panggilan jiwa sebagai seorang fisioterapis.

Siapapun kamu, jika membaca tulisan ini, terima kasih. Saat menulis ini saya sedang berusaha untuk mengejar cita-cita yang lebih besar. Saya ingin belajar lebih, agar bisa menolong lebih banyak orang dengan lebih baik lagi. Doakan saya, ya, tolong doakan saya agar bisa menjadi sosok yang ikhlas membantu orang di masa depan nanti. Saya sudah menemukan hal yang ingin saya lakukan selama sisa hidup ini, semoga kamu juga.    

Posting Komentar

0 Komentar