Setelah membaca Pasung
Jiwa, saya pun langsung berpindah ke buku Okky selanjutnya, 86. Sebuah buku
dengan judul yang tidak begitu menarik buatku. Novel ini kemarin dibeli bersama
‘Pasung Jiwa’, satu buku tempo, dan buku Selasa Bersama Morrie. Buku 86 masih
mengadopsi kental gaya bahasa, serta ide cerita Okky: dekat sekaligus jauh.
Okky selalu menggunakan latar tempat, penokohan, pun suasana yang ebgitu dekat
dengan keseharian, tetapi di satu sisi ia menggali cerita-cerita gila (dan
tabu).
86, sebuah novel yang
menceritakan sosok pegawai pengadilan rendahan bernama Arimbi. Pegawai pengadilan
yang menerima gaji PNS tiap bulan, tinggal di kontrakan petak ibu kota diantara
gang-gang sempit, berjibaku dengan ratusan pekerja dipagi hari, berebut udara
pengap di dalam kopaja, dan hal lainnya.
Arimbi
Arimbi, bagai
manifestasi bayi yang perlahan tumbuh. Setelah selesai dengan perkuliahannya
dan keluar kampus dengan gelar sarjana, Arimbi diterima sebagai PNS di
pengadilan negeri pusat. Sehari-hari ia bekerja sebagai juru ketik di
pengadilan, lalu di sore hari pulang dan berjibaku dengan kemacetan, menghabiskan
sisa hari dengan menonton berita di televise, mencari sosok dirinya di antara
wartawan yang sibuk meliput berita-berita perceraian, korupsi, dan pidana yang
sudah menjadi keseharian Arimbi.
Arimbi, seperti halnya
anak-anak dari keluarga petani di kampung, menjadi satu-satunya kebanggaan
terbesar kedua orang tuanya. Seorang anak dari kalangan petani yang berhasil
menyelesaikan studi dan bekerja sebagai PNS di pengadilan negeri pusat. Semua orang
begitu menunggu-nunggu libur akhir tahun atau perayaan lebaran, waktu dimana
Arimbi akan terlihat di jalanan kampungnya, menenteng dua tas kresek besar
berisi oleh-oleh dari kota.
Arimbi, seperti kita
semua, adalah wanita polos pada awal masuk ke lingkungan pengadilan negeri. Ia
bekerja dengan keras mengikuti arahan atasannya, berusaha bertahan dengan gaji
tak seberapa sebagai pegawai negeri, dan menikmati semua dinamika ibu kota. Lalu,
dirinya mulai bertransformasi. Dari pegawai lugu yang tidak banyak tahu,
menjadi salah satu tangan orang-orang yang tak lagi punya malu. Arimbi, pegawai
polos itu mulai berubah sedikit-sedikit. Dari AC gratis, lalu seratus-dua ratus
ribu untuk setiap perkara yang ia tangani, kemudian berpindah ke
kejahatan-kejahatan lumrah yang lebih besar.
Potret
Sosial “Tak ada yang tak benar kalau sudah dilakukan banyak orang”
86, sebuah istilah yang
akrab di telinga masyarakat kita. 86 = pokoknya beres. Seiring membaca novel
ini, saya semakin tahu makna judulnya. Istilah 86 yang sangat umum itu,
disandingkan dengan praktek-praktek korupsi, kolusi dan nepotisme yang sudah
mengakar. Orang-orang di luar sana pasti sudah sangat paham dengan istilah uang
pelicin, calo, dan lainnya. Tampaknya Okky ingin mengangkat isu salah berjamaah
dalam novelnya ini. Ia menggambarkan bagaimana hal-hal salah berjalan sebagai
hal yang lumrah dan sering ditemui dalam keseharian, seorang pegawai negeri
Arimbi dan orang-orang besar disekelilingnya yang tanpa malu menerima suap agar
orang-orang yang lebih besar itu menjalani kehidupan dengan mudah.
Okky, seorang penulis
yang gemar mempermainkan nasib tokohnya secara ekstrim. Dari seorang gadis
biasa yang nyaris jadi perawan tua, Arimbi mulai mengenal dunia 86 di tempat
kerjanya, lalu mengenal seorang pria dari kamar kos sebelah. Arimbi yang polos
berubah tak tahu malu. Dari bertahan dengan gajinya sebagai pegawai ibukota,
berubah jadi Arimbi yang berusaha mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya dari
kasus yang ditanganinya. Dari wanita diakhir 20an yang polos, berubah menjadi
Arimbi anak ibukota yang menganggap lumlah kumpul kebo bersama pasangannya.
Seperti pepatah “selincah-lincahnya
tupai melompat, pasti akan jatuh juga”, Arimbi yang bernasib sial harus
menghabiskan 7 tahunnya di dalam penjara karena duit 50 juta yang akhirnya
disita KPK. Lalu di dalam tahanan, Arimbi mengenal sekelompok gembong narkoba
di dalam sel, dan memengaruhi suaminya menjadi pengedar narkoba agar ibunya
dikampung mendapatkan pengobatan yang layak untuk sakit gagal ginjalnya.
Pada akhirnya, sang ibu
meninggal. Arimbi yang berhasil membeli rumah dari pekerjaan suaminya menjadi
pengedar narkoba. Setelah keluar dari penjara, ia memulai hidupnya yang baru
dan tak lama kemudian melahirkan seorang anak yang sangat ia sayangi. Untuk kehidupan
baru yang lahir dari tubuhnya, Arimbi berniat untuk menjalani kehidupan yang lurus.
Ia berkali-kali meminta sang suami berhenti menjadi pengedar narkoba dan mencari
uang seadanya dari berjualan barang-barang murah. Namun, di akhir cerita,
kehidupan Arimbi yang naik turun harus menemui kenyataan pahit ketika sang
suami dibekuk polisi saat tengah melakukan pesta narkoba di sebuah hotel di
Jakarta.
Detail
Novel
Judul:
86
Penulis:
Okky Madasari
Penerbit:
Gramedia
Tahun
Terbit: 2011
Tebal
Halaman: 256 hlm
1 Komentar
Merkur 34c Review | Merkur 34C Review | 2021 |
BalasHapusThe Merkur 34C is an extremely 벳 365 popular adjustable safety razor. This is one of many adjustable razors available. This 우리 카지노 본사 razor 메리트카지노총판 is by far the most Rating: 9/10 · 스포츠 토토 사이트 Review by Alan Jones