Berawal
dari #RabuMie, sebuah gerakan makan mie tiap hari rabu, saya berkesempatan
bertemu dan berbincang di sebuah warung mie di perintis kemerdekaan 3 pada
waktu lepas magrib bersama dua orang teman. Dari makan bersama tersebut,
seorang perempuan menyarankan untuk membaca buku-buku Okky Madasari, penulis
yang namanya sering terdengar tetapi belum sempat kubaca satupun karyanya. Akhirnya,
berbekal dengan rekomendasi tersebut, sayapun membeli dua buku Okky, Pasung
Jiwa dan 86. Pasung Jiwa cukup menraik perhatian: Judul dan embel-embel di
bawahnya, “Pemenang Khatulistiwa Award 2012”.
Apa itu kebebasan? Pertanyaan inilah yang diangkat
Okky, perihal kebebasan yang secara etimologi jauh berbeda dari judulnya
“pasung”. Pada bagian awal, pembaca akan dibawa ke tahun 1998, berkenalan
dengan tokoh Sasana kecil. Seorang anak laki-laki sulung kebanggaan orang tua
yang terpandang. Sama seperti kebanyakan jiwa-jiwa diluar sana, seorang dengan
potensi tanpa hasrat. Sasana lihai bermain piano, juga cerdas dikeseharian
akademisnya. Tetapi dibalik segala yang terang-benderang dari Sasana, anak
lelaki itu tidak benar-benar menyukai hal yang dilakukannya, Sebaliknya, Sasana
melakukan semuanya untuk mendapatkan pujian dan terus menjadi kebanggaan orang
tuanya saja.
Hidup
Sasana tidak mudah. Ia mendapatkan perundungan di SMPnya, hingga berakhir di
rumah sakit. Untuk pertama kalinya di pertengahan 1998, Sasana menemukan satu
hal yang menarik perhatiannya. Ia begitu bersemangat, jantungnya berdetak
cepat, dan ia merasa hidupnya lebih baik saat mendengarnya: music dangdut. Sasana
menyukai dangdut: instrumen, goyangan, dan suasana penontonnya. Sayangnya, bagi
orang tua Sasana yang orang terpandang, dangdut tidak lebih dari music
asal-asal kalangan bawah. mereka menentang dengan keras, dan mulai dari situlah
sasana merasa jiwanya terkungkung.
***
Selain
sasana, karakter lain yang ditonjolkan dalam buku ini adalah sosok Jaka Wani,
seorang pengamen dengna cita-cita professional. Jaka, sebutannya, bertemu
dengan Sasana di sebuah warung makan tidak jauh dari kampus. Disana, mereka
bersepakat membentuk sebuah grup music dangdut amatir dengan mimpi suatu saat
bisa manggung di acara-acara besar, jadi grup music professional. Dari satu
warung ke warung lainnya, dari terminal satu ke terminal lainnya, dari lokasi
yang ramai ke lokasi ramai lainnya. Jaka dan Sasa –namanya sekarang,
dipersatukan oleh musik. Dari sini, keduanya merasakan kebebasan, sebuah ruang
untuk menjadi dirinya sendiri, dan makan dari hasil pekerjaan yang mereka
sukai.
Namun,
Okky dengan kecerdasan ceritanya mengatur alur kisah tiap tokoh dengan begitu
tragis, dekat, dan nyata. Hal-hal aneh terjadi di hidup mereka masing-masing,
takdir mempertemukan dan memisahkan, dari kawan hingga menjadi lawan. Sebuah alur
cerita mahal yang tampaknya pantas menyandang gelar pemenang khatulistiwa
award.
Pasung Jiwa adalah Media Berbicara Kepada Diri Sendiri
“Bukankah kamu juga
sudah mendapatkan kebebasan disini?”
“Jika kebebasan itu
ada, aku tidak akan pernah ketakutan lagi,” jawabku. “Kebebasan baru ada jika
ketakutan sudah tidak ada lagi.”
“Apa sebenarnya
ketakutan terbesarmu?”
“Hidupku adalah
ketakutan terbesarku,” jawabku.
-Halaman 144
Di
dalam buku ini, pembaca tidak hanya dihibur dengan kisah-kisahnya, tetapi
diajak merenung perihal dunia yang ada saat ini, juga perihal diri sendiri.
Melalui sosok Sasana dan Jaka, pembaca disuguhi cerita yang benar-benar absurd
sekaligus menyayat hati. Selama cerita ini, pembaca akan sering menemukan
pemikiran-pemikiran yang tampak sayang jika tidak direnungkan. Karena buku ini
bercerita tentang fenomena manusia yang begitu dekat dengan kehidupan
sehari-hari, maka tidak salah jika selama membaca novel ini, saya beberapa kali
menandai halamannya, menutup buku, dan mulai berpikir perihal kehidupan yang
sedang dijalani.
Tulisan yang Khas
dan Berani Memainkan Alur Cerita
Okky
adalah penulis yang berani. Kedua tokoh utamanya, Sasana dan Jaka Wani
merepresentasikan masyarakat Indonesia yang luas, struggle di masyarakat,
pandangan sosial, kesenjangan ekonomi, hingga ketidakadilan yang begitu lekat
di masyarakat kita. Okky dengan berani memunculkan fenomena bullying yang
dialami Sasana sewaktu SMP. Bagaimana Sasana yang tumbuh ceking dan sedikit
kemayu menjadi sasaran teman-teman sekolahnya. Lalu hal yang lebih nekat adalah
Okky yang menampilkan secara gambling bagaimana kekuasaan dan uang dapat
membeli moral dan etika. Bahkan, Sasana yang terbilang cukup kaya dengan ayah
pengacara dan ibu seorang dokter spesialis harus membiarkan para pembullynya
tidak menerima hukuman apapun sebab salah satu dari mereka adalah anak jendral
di tahun 90an. Bagaimana Okky menggambarkan penderitaan Sasana dan keputusasaan
ibunya begitu menyayat hati para pembaca.
Keberanian
lainnya dari Okky adalah bagian novel ini yang menceritakan sosok Marsinah,
buruh pabrik yang hilang setelah menjadi salah-satu yang berani meminta haknya
kepada perusahaan yang mempekerjakannya. Marsinah hilang, dan ayah marsinah
yang mengenal Jaka dan Sasa meminta tolong kepada kedua orang ini agar membantu
menemukan putrinya.
Okky
juga secara berani memunculkan realita dari pekerja-pekerja pabrik di batam
sana. Ketika yang orang-orang tahu sebatas bekerja dengan gaji melimpah dan
cukup dikirim ke kampung halaman, Okky menceritakan kisah hidup mereka yang
selayaknya hewan di dalam kandang. Bekerja pagi-sore, pulang ke mes, lalu
kelaur mencari pelampiasan di akhir pekan. Kehidupan para wanita malam juga
menjadi sorotan dalam novel ini. Terakhir, keberanian Okky juga tercermin dari
bagaimana ia memasukkan unsur organisasi/kelompok agama tertentu yang
tingkahnya berkilah atas nama agama, tetapi masih ditunggangi lembaga tertentu,
bahkan orang-orang besar dan penting. Benar-benar seorang penulis yang berani.
Terakhir,
jika kamu ingin bacaan yang menyegarkan sekaligus berisi, maka buku-buku dari
Okky adalah salah satu pilihan terbaik.
0 Komentar