Satu Lagi Mahakarya Film Animasi dari Pixar, The Soul

 


Salah satu film animasi yang menggugah, tentang mimpi, dinamika dunia, dan perasaan manusia yang begitu rapuh. Film yang dikemas dengan cerita fantasi ini, menghadirkan pesan yang benar-benar riil. Bahkan bisa jadi kita semua pernah berada dalam kondisi pemeran utama film animasi ini. film yang dirilis pada hai natal di Disneyplus tahun lalu ini, menceritakan tentang sosok guru musik di SMP. Karakter utamanya, Joe, seorang guru SMP yang tidak pernah seharipun melupakan cita-citanya sebagai seorang pemain jazz professional, bermain diatas panggung dengan penonton-penonton yang berdecak kagum.

Film yang disutradarai oleh Pete Docter, sutradara dibalik animasi sukses pixar lainnya seperti Up (2009) dan Inside Out (2015). The Soul bercerita tentang Joe dan mimpinya menjadi seorang pianis jazz. Sejak dulu, ia bermimpi menjadi pemain jazz andal, dan terus emngejar mimpinya itu bahkan setelah melihat sang ayah yang gagal menggapai mimpi yang sama sepertinya. Namun seperti kebanyakan kita, Joe berakhir sebagai guru jazz sekolah menengah pertama, alih-alih menjadi pianis jazz seperti cita-citanya.

lalu suatu hari, Ia mendapatkan kesempatan emas itu: mengiringi seorang penyanyi jazz professional yang secara kebetulan manggung di sebuah teater di kotanya, sementara pianis untuk acara tersebut berhalangan hadir. Joe merasa kesempatan sekali seumur hidupnya itu akhirnya datang. Dengan tergesa-gesa, ia datang ke tempat acara yang dimaksud, dan berhasil membuat penyanyi tersebut berdecak kagum. Sayangnya, saat perjalanan pulang, Joe terjatuh dan mengalami koma.

Jiwa Joe yang mengalami koma terbang ke The Great After, tempat persinggahan jiwa-jiwa orang yang meninggal. Joe yang tidak siap meninggal saat kesempatan impiannya berada di depan mata itu, memutuskan menjelajahi The Great Before, tempat dimana jiwa-jiwa yang belum lahir ke dunia berada, sebab Joe belum ingin mati. Di sana, Joe bertemu dengan jiwa nomor 22, jiwa yang sudah sangat lama menetap di The Great Before sebab ia belum menginginkan lahir ke bumi. Di sini, jiwa Joe membantu jiwa nomor 22 untuk menemukan “api”, atau hal terakhir yang membuatnya siap lahir ke bumi. Joe akhirnya menemani jiwa 22 turun ke bumi. Ia memasuki tubuh seekor kucing, sementara jiwa 22 memasuki tubuh Joe. Mereka pun terlibat petualangan penuh renungan dan filosofi perihal kehidupan.

Penuh Filosofi Kehidupan

Sang sutradara sekaligus penulis naskah ingin mengajak para penontonnya untuk kembali mempertanyakan perihal kehidupan yang mereka jalani lewat tiap adegan yang disajikan. Perihal Joe yang terlalu tenggelam dalam impian dan kecintaannya terhadap jazz, sehingga tanpa disadari dirinya tidak begitu memerhatikan lingkungan dan orang-orang terdekatnya, atau perihal jiwa nomer 22, jiwa yang tidak memiliki tujuan sehingga belum benar-benar siap hidup didunia.

Lalu, apakah tiap jiwa-jiwa yang berjalan dimuka bumi ini benar-benar siap dengan seluruh kehidupan yang mereka jalani?

Pete Docter pernah berkata, “ide bahwa manusia bangun dari tidur dan melakukannya setiap hari menurut saya adalah hal yang menarik.”

The Soul, film yang cocok bagi orang-orang yang tengah mempertanyakan perihal kehidupan, atau kawan-kawan yang tengah bertarung dengan quarter life crisis.

Film yang Menggugah

Saya telah selesai menonton film ini di awal tahun 2021, tepatnya pertengahan Januari. Film dengan animasi spektakular khas pixar yang dibungkus genre komedi ini, awalnya terkesan ringan. Di awal film, saya merasakan empati terhadap sosok Joe, pemeran utama yang berakhir sebagai guru music, bukannya pianis jazz sesuai cita-citanya. Kita semua pernah berada di titik itu: titik dimana kita menyadari impian sama sekali bukanlah hal yang mudah. Sewaktu kecil, saya ingin menjadi dokter. Mimpi mainstream itu, berakhir di titik dimana saya menyelesaikan pendidikan profesi sebagai seorang fisioterapis.

Tidak seperti Joe yang beruntung memiliki satu kesempatan mewujudkan mimpinya, sebagian besar orang hanya bisa bersabar mengikhlaskan impian mereka dan menjalani kehidupan yang tersedia di depan mata. Untuk itu, Joe, pria yang tidak pernah benar-benar menjalani hidupnya dan hanya terkungkung didalam ambisi menjadi pianis jazz professional, mendapati momen pencapaian itu pun akan terlewati juga pada akhirnya: Lalu apa yang tersisa dari manusia?

Film ini membuat saya mempertanyakan hidup dan langkah kehidupan yang saya ambil selama 23 tahun kebelakang. Apakah saya benar-benar telah hidup? Sejauh mana saya membagi proporsi kehidupan antara hidup di hari ini dan mengusahakan mimpi-mimpi untuk hari-hari berikutnya?

Terima kasih Pete Docter dan Pixar untuk karya spektakular The Soul!  

Posting Komentar

0 Komentar