Sejumlah hal yang perlu diperhatikan saat berencana melakukan liburan singkat di akhir pekan adalah biaya, akses, dan destinasi wisata. Kali ini, Teman Brisik akan diajak mengunjungi salah satu pulau di tengah Kota Makassar dengan akses mudah dijangkau.
Namanya Lakkang, sebuah pulau di tengah Kota Makassar. Sekeliling pulau seluas 195 hektar ini ditumbuhi pepohonan nipah di sepanjang aliran sungai yang memisahkan pulau dengan daratan Kota Makassar. Berbeda dengan pulau pada umumnya, Lakkang dipisahkan oleh tiga aliran sungai, yaitu Sungai Tallo, Sungai Pampang, dan Sungai Universitas Hasanuddin.
Destinasi alam ini menawarkan sejumlah wahana unik, seperti menyaksikan lebih dekat tumbuhan nipah di sepanjang aliran sungai, serta wisata sejarah dari jejak peninggalan tentara Jepang berupa bunker di tengah pepohonan bambu tinggi nan lebat.
Lakkang dan Sejarah
Salah satu daya tarik pulau ini adalah sejarah di dalamnya. Menurut cerita beredar turun-temurun, Pulau Lakkang pernah menjadi tempat peristirahatan pasukan Jepang di Kota Makassar. Hal ini dibuktikan dengan adanya peninggalan bangunan berupa bunker. Para pengunjung dapat melihat secara langsung bunker dari jarak dekat. Bungker ini menempati salah satu sudut pulau yang dipenuhi bambu lebat menjulang tinggi.
Bukan itu saja, konon di pulau ini dulunya terdapat banyak bunker. Sayangnya sebagian besar sudah ditutup oleh warga sekitar ketika belum mengetahui bahwa bangunan itu merupakan peninggalan bersejarah. Selain sejarah, pengunjung dapat berwisata dengan mengitari aliran sungai yang mengelilingi pulau.
Akses dan Penginapan
Untuk mencapai Pulau Lakkang dapat berangkat dari tiga dermaga, yakni Dermaga Kera, Dermaga Pampang, serta dermaga di samping Tol Ir. Sutami. Jika baru pertama kali mengunjungi Pulau Lakkang, disarankan naik dari Dermaga Kera yang berada di belakang kampus Unhas sekaligus bisa menikmati suasana pagi hutan kota.
Nantinya, pengunjung akan naik perahu besar tersusun atas dua jolloro (perahu panjang yang ramping dan biasanya digunakan untuk menangkap ikan). Alas kapal biasanya terbuat dari papan kayu. Kapal ini dibuat oleh warga Pulau Lakkang sebagai transportasi utama warga untuk wara-wiri. Meski terlihat kurang aman, tetapi perahu ini cukup cocok dengan karakteristik aliran sungai yang tenang dan tidak berombak. Tarif per orang untuk sekali jalan adalah Rp3.000 dan Rp5.000 untuk sepeda motor.
Perjalanan mengitari aliran sungai begitu mengasyikan. Pengunjung dimanjakan dengan panorama hijau pohon nipah dan pohon bakau yang tumbuh subur.
Artikel ini telah tayang sebelumnya dengan judul yang sama disini

0 Komentar