Sebenarnya, saya hendak
menyelesaikan seri Catatan Lima Tahun ini sejak berbulan-bulan yang lalu. Saya
tunda, sebab catatan perihal perjalanan pendidikan ini tampaknya terlalu cepat
dirilis rampung sebelum pengumuman kelulusan ujian kompetensi kemarin, dan
ternyata, project ini terlupakan dan baru sempat saya tulis sekarang, dua bulan
setelah tanggal 23 Mei dimana saya dinayatakan lulus dan berkompeten sebagai seorang
fisioterapis.
Melalui pendidikan
formal dengan jurusan fisioterapi di Universitas Hasanuddin sejak 2015 sampai
2021 memberikan banyak pemahaman tidak hanya perihal keilmuan dan akademik,
melainkan tentang pendewasaan diri, cara bergaul, perspektif yang belum tentu
bisa saya dapatkan jika tetap berada di satu lingkungan saja, juga orang-orang
baru yang begitu baik dan menginspirasi.
Melihat
Kembali
Melihat kembali; sebuah
subjudul dengan isi merefleksikan perjalanan selama lima tahun kebelakang. Tidak
ada kata selain syukur. Dulu, saya masih begitu gusar, masih begitu mengejar,
masih terus merasa kurang. Di awal 20an menjadi seorang manusia yang bermimpi
besar tetapi dengan pikiran penuh keraguan pada diri sendiri. Tidak mengapa.
Semua orang pernah berharap menjadi orang lain, atau menjalani kehidupan yang
bukan miliknya; kehidupan dengan lebih banyak previlise.
Merujuk dari catatan
lima tahun sebelum ini, saya sempat bercerita perihal YPAC dan minat pada
fisioterapi pediatri. Saya jadi mengingat-ingat kembali sewaktu pertama kali
berstatus sebagai mahasiswa baru yang bahkan tidak paham tentang profesi ini
sama sekali dan hanya masuk berkat perkataan seorang teman dan dorongan dari
orang tua. Namun perlahan, setelah mendalami dan jatuh cinta dengan profesi
yang saya jalani sekarang, saya bahkan telah memutuskan spesialisasi pada
profesi ini yakni disaster dan pediatric.
Melihat kembali; banyak
hal yang berubah tentang bangaimana cara melihat dunia:
Tidak semua hal harus
baik dan sempurna,
Tidak semua yang
diusahakan akan membuahkan hasil yang manis,
Tidak semua akan
berbalas,
Tetapi,
Semua hal akan
mengajarkan hal lainnya,
Semua yang diusahakan
akan berbuah hikmah,
Semua yang dikerjakan
akan membawa pada lembaran baru dengan pemikiran baru.
Intinya, setelah
melihat kembali proses perjalanan pendidikan formal selama S1 dan Profesi, saya
semakin yakin bahwa segala sesuatu tidak ada yang berbuah kebetulan, dan segala
sesuatu akan membawa pada satu lainnya, tidak ada yang sia-sia.
Yang
Patah Akan Tumbuh
Lima tahun ini
mengajarkan saya perihal ketegaran hati manusia itu sedalam lautan yang tak
terjamah manusia. Kuatnya hati manusia itu, hanya tuhan yang tahu, bahkan, kita
tidak tahu bahwa kita bisa sekuat baja saat dihadapkan pada persoalan-persoalan
berat. Bagi manusia, yang terberat adalah perpisahan: berpisah dengan kerabat,
keluarga, jabatan, posisi, kesibukan, kekasih, bahkan seremeh berpisah dengan
bacaan yang enggan ditamatkan.
Sampai saya menulis
ini, perpisahan masih tetap terasa menyakitkan: saya tidak pernah benar-benar
terbiasa dengan ini. di saat harus berpisah dengan lingkungan pergaulan yang
saya cintai, berpisah dengan orang terkasih, atau berpisah dengan semua
kebenaran yang kau yakini. Namun saya percaya,
Yang Patah Akan Tumbuh.
Boleh jadi, pohon yang
ditanam dengan susah payah akan mati diterpa badai besar, menyisahkan
ranting-ranting rapuh berserakan. Tetapi saya percaya bahwa, bisa saja, bisa
saja dari ranting-ranting itu akan tumbuh pohon-pohon baru yang lebih kokoh dari
ibunya. Bahkan bisa jadi tidak satu; mungkin dua, mungkin sepuluh, mungkin
seratus.
Saya akan bercerita
cerita patah hati perihal Covid-19 kemarin. Ketika perkuliahan profesi di
beberapa tempat di kota Makassar terpaksa dihentikan dan diganti dengan perkuliahan
online, saya begitu patah hati sebab semestinya saya akan magang di KKP dengan
mata kuliah Fisioterapi Ergonomi.
Waktu itu saya patah,
sebab harus kembali ke kampung halaman dan menjalani perkuliahan online,
terpaksa membatalkan beberapa project pengabdian serta impian belajar langsung
di lapangan.
Namun patah hati itu
berbuah puluhan kesempatan yang mungkin tidak akan datang lagi. Kesempatan
untuk mempelajari travelling journalism hingga bisa terjun sebagai freelancer
di bidang ini, berkesempatan untuk menulis banyak tulisan-tulisan
membahagiakan, serta kesempatan untuk berdamai dengan masa lalu yang telah
membusuk sejak lama.
Saya yakin dan
sebaiknya kamu juga: yang patah akan
tumbuh, yang hilang akan berganti.
Pergi
Sejauh Kaki Sanggup Melangkah
Di akhir masa
perkuliahan profesi dan menunggu pengumuman ujian kompetensi, saya mendapat
kesempatan beasiswa peliputan di Wakatobi, Sulawesi Tenggara yang menjadi salah
satu keputusan besar untuk bepergian seorang di lintas provinsi tanpa siapapun.
Saya benar-benar tidak menyangka nama saya masuk kedalam salah satu daftar
penerima beasiswa peliputan. Sewaktu mendapati nama saya di daftar itu, pikiran
saya langsung terbang ke ketakutan-ketakutan bepergian seorang diri, apalagi di
tengah pandemi, ke daerah yang tidak saya ketahui sama sekali.
Akhirnya, berbekal niat
dan semangat memperoleh pengalaman yang benar-benar baru, sayapun memberanikan
diri untuk melangkah ke kesempatan baru yang tak terbatas, meskipun dengna
segala bentuk kekurangan seperti tidak pernah menuliskan liputan mendalam
sebelumnya, tidak pernah membuat video peliputan, serta ke daerah asing tanpa
benar-benar kenal seorang pun.
Tetapi pada akhirnya,
saya pulang dengan kebanggan. Dengan kebanggaan dan pengalaman itu, saya
menjadi leih berani untuk pergi lebih jauh. Percayalah, meninggalkan zona
nyaman untuk mengeksplorasi kemampuan diri akan menghasilkan cerita pengalaman
menakjubkan. Dan tentusaja, akan saya ceritakan pada cerita-cerita selanjutnya.
Hari ini, saya akan bercerita sampai di sini.
Terima kasih kepada Tuhanku, Ayah, Ibu, Kakak, Adek, dan smeua manusia baik
yang mewarnai masa perkuliahan 5 tahun ini. percayalah, aku ingin menuliskan
setiap momen itu pada Catatan Lima Tahun ini, hanya saja jari dan waktuku tidak
sanggup untuk semua hal-hal hebat itu. Mungkin akan kuceritakan pada kesempatan
lainnya.
Sampai berjumpa lagi
dan tetap sehat selama pandemic, Ya!

0 Komentar