Pandemi Covid-19 yang tejadi sejak akhir desember tahun 2019, mengajarkan satu hal ditengah kehidupan yang serba cepat abad ini: take a deep breath and stay at home. Jalanan yang dulunya macet pada jam-jam pergi-pulang kantor berubah lenggang, udara semakin terasa dingin dan ringan, dan langit jadi tampak makin cerah. Percaya atau tidak, perubahan-perubahan pada lingkungan –dan tentu pada kebiasaan manusia selama beraktivitas dari rumah, memberi secercah harapan untuk iklim bumi yang lebih baik.
Berdasarkan data dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, perubahan yang signifikan pada iklim bumi kita ini, disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya efek gas rumah kaca, pemanasan global, kerusakan lapisan ozon, kerusakan fungsi hutan, penggunaan CFC yang tidak terkontrol, hingga gas buang industri yang tentu semakin banyak di era industri 4.0 ini. Eksploitasi secara brutal demi pemenuhan kebutuhan manusia, tak ayal membuat bumi kita lelah. Beberapa dampak akibat ketidakseimbangan ini mulai kita rasakan di kehidupan kita.
Beberapa dampak dari perubahan iklim diantaranya kenaikan muka air laut yang akan berdampak pada kenaikan angka abrasi dan tenggelamnya pulau-pulau kecil; terjadinya badai dan puting beliung akibat kejadian siklon torpis, seperti yang terjadi di Flores baru-baru ini; curah hujan meningkat yang akan berdampak pada frekuansi terjadinya banjir dan longsor di Indonesia, serta peningkatan suhu permukaan bumi yang menyebabkan mencairnya es di kutub, kekeringan, kebakaran hutan, serta rusaknya ekosistem laut. Sebagai generasi muda yang akan mengemban tanggung jawab utama pada 20-30 tahun kedepan dalam mewujudkan arah pembangunan nasional yang berarti aktor utama menentukan keberlangsungan ekosistem dan alam di negara kita. Membangun kesadaran akan urgensi pentingnya mitigasi perubahan iklim harus dibangun dari sekarang untuk masa depan generasi selanjutnya yang sustainable.
Ancaman-ancaman terkait climate change di atas terasa mengerikan, bukan?
Namun bukan berarti kita tidak bisa berbuat apapun. Seperti slogan salah satu iklan di TV, “segala sesuatu dimulai dari hal yang kecil”. Hal kecil yang bisa kita lakukan untuk mencegah climate change bahkan bisa dimulai dari rumah sendiri, mulai dengan menurunkan tingkat konsumtifitas dan lebih bertanggung jawab pada produksi sampah sendiri untuk bumi yang lebih baik #UntukmuBumiKu. Beberapa aksi lain yang bisa dilakukan seperti menghemar air dan listrik, mengurangi pemakaian gas aerosol, bertanggung jawab atas sampah sendiri, serta lebih rajin jalan kaki. Saya pun mulai melakukan beberapa aksi-aksi kecil dalam mengurangi dampak perubahan iklim, seperti mulai menanam tanaman sendiri dan membeli lebih sering di pasar tradisional pada keseharian.
1. Menanam dari lantai dua halaman rumah
Menanam menjadi salah satu stress relief selama masa pandemi. Selain menjadi hobi baru, kegiatan ini juga secara tidak langsung mengajarkan untuk memproduksi makanan sendiri. Sejak senang bertanam, saya jadi lebih kurang menghabiskan aktivitas-aktivitas diluar rumah, juga semakin sedikit aktivitas membeli makanan dari luar. Meskipun saya baru menanam dan mengeringkan beberapa tanaman herbal, tetapi hal ini menghasilkan banyak kebiasaan-kebiasaan yang menyenangkan dan pemahaman untuk selalu lebih menghargai setiap makanan yang dihidangkan di atas meja.
Saya mulai dengan menanam mint, tanaman dingin yang enak dan tumbuh dalam waktu yang sangat cepat. Selain mint, saya lalu menanam cabai, lalu bunga matahari, bayam, dan tumbuhan-tumbuhan dengan rentang hidup 2-3bulan sebelum masa panen.
2. Membeli dari bulk-store
Salah satu masalah yang menyebabkan penumpukan sampah di berbagai daerah adalah meningkatnya tingkat konsumtifitas masyarakat. Orang-orang lebih senang membeli makanan mereka, yang berarti lebih banyak sampah plastic bungkusan makanan, juga kantongan-kantongan plastic untuk menampung belanjaan.
Membeli dari bulk-store bisa menjadi salah satu solusi selain mengurangi tingkat belanja dan mulai berbelanja dengan membawa kantong serta wadah sendiri. Kehadiran bulk-store saat ini sudah semakin menjamur, terutama di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan kota-kota besar lainnya. sayangnya, bulk store yang mulai menjamur di daerah saya (Makassar) hanya menjual barang-barang yang tidak terlalu umum, sehingga pembeli masih merasa memiliki kebutuhan untuk tetap berbelanja di convenient store yang berarti produksi sampah plastic lainnya.
3. Kita belajar, kita berubah
Mulai dengan menyadari bahwa perubahan iklim adalah sesuatu yang nyata dan perlu tindakan perubahan dari sekarang. Dimulai dari menyadari, maka kita akan mulai bertindak menyikapi fenomena ini. sama seperti yang lainnya, saya juga masih sangat kesulitan dalam memberlakukan pola hidup yang lebih ramah lingkungan. Sulit, tetapi kita akan sampai suatu hari nanti, dimulai dengan latihan untuk terus konsisten pada hal-hal kecil, semoga hal ini bisa berdampak baik bagi bumi kita yang semakin panas ini.
Aksi-aksi dari rumah yang saya lakukan mungkin terlihat sepele, tetapi dengan melakukan hal-hal kecil di atas, saya yakin akan membawa pada berubahan-perubahan yang besar. Tentu saja tidak aka nada perubahan yang besar tanpa sumbangsih banyak orang. Yuk #TimeforActionIndonesia, saatnya #MudaMudiBumi beraksi.


2 Komentar
Banyak cara untuk membantu melestarikan alam ya asal kita konsisten menjalankannya
BalasHapusbenar sekali kak dewi, semangat menjaga bumi untuk kaka. sehat-sehat terus ya :)
Hapus