Ronggeng Dukuh Paruk: Review Novel Karangan Ahmad Tohari



Semangat Dukuh Paruk Kembali menggeliat sejak srintil dinobatkan menjadi ronggeng baru, menggantikan ronggeng terakhir yang mati dua belas tahun yang lalu. Bagi pedukuhan yang kecil, miskin, terpencil, dan bersahaja itu, ronggeng adalah perlambang. Tanpanya, dukuh itu merasa kehilangan jati diri. 

Namun malapetaka politik tahun 1965 membuat dukuh paruk tersebut hancur, baik secara fisik maupun mental, karena kebodohannya, mereka terbawa arus dan divonis sebagai manusia-manusia yang telah mengguncangkan negara ini. Pedukuhan itu dibakar. Ronggeng beserta para penabuh calungnya ditahan. Hanya karena kecantikannyalah srintil tidak diperlakukan semena-mena oleh para penguasa penjara itu. 

Namun pengalaman pahit sebagai tahanan politik membuat srintil sadar akan harkatnya sebagai manusia. 

***

Judul buku: Ronggeng Dukuh Paruk

Penulis: Ahmad Tohari

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit: 2003

Tebal halaman: 403 hlm

***

Buku ini banyak memberikan pengalam pelesir ke masa lalu: itulah hal yang pertama terlintas saat saya membaca buku yang kaya istilah-istilah bersahaja, kata-kata Indonesia yang sudah sangat jarang terdengar hari ini. Dukuh paruh menjadi pedukuhan yang dipilih ahmad tohari dalam menceritakan kisah yang sarat akan nilai budaya, sejarah, serta kemanusiaan ini. Dukuh paruh, sebuah kampung kumuh yang terkena tragedy kematian massal akibat keracunan belasan tahun lalu ini, meninggalkan banyak duka mendalam dan anak-anak yatim piatu. 

Kemiskinan, dan rumah-rumah kumuh menjadi pemandangan sehari-hari. Sejak tragedy kematian massal itu, anak-anak hanya bergantung kepada nenek-nenek mereka. Mereka hidup dalam kesahajaan. Adat dna budaya benar-benar hidup diantara kesederhanaan. Suatu hari, srintil, seorang anak yang masih berusia sebelas tahun diangkat menjadi ronggeng, seorang penari dengan tabuhan gendang; kekayaan budaya dukuh paruk yang terkenal sampai ke kampung-kampung sebelah. 

Buku ini mengilustrasikan praktik perjualan tubuh yang dibungkus atas budaya, disajikan dengan diksi yang mengagumkan; cabul tapi elegan. 

***

Pada dasarnya, buku ini menceritakan tentang dua orang anak: srintil dan rasus. Srintil, perempuan kecil yang mencintai pekerjaannya sebagai ronggeng dan pelacur, atau gundik. Ia tidak menikmati aktivitas menjual tubuhnya di ranjang, tetapi gadis itu menikmati semua kemewahan yang datang setelahnya. Ia menikmati emas, uang ringgit, dan perhatian semua lelaki saat ia berjalan melewati jalan sepanjang pasar dawuan. 

Di satu sisi, rasus, seorang anak yatim piatu yang dibesarkan oleh sang nenek, jatuh cinta sejak dahulu kepada srintil. Namun lelaki muda itu tahu, ia, seorang anak kampung biasa tidak pantas bersanding dengan srintil yang seorang ronggeng dengan kecantikan khas jawa. Jadilah hubungan kedua orang itu menjauh, dan pada akhirnya, rasus menjemput takdirnya sendiri di luar dukuh paruk. 

Hingga akhirnya pada kerusuhan PKI 1965, dukuh paruk pun terkena imbasnya. Srintil dan penabuh ronggeng dari dukuh paruk yang pada dasarnya selalu meramaikan hajat lepas rapat PKI dan Gerakan tani di kecamatan, mulai merasakan bahaya yang datang. Dikarenakan hal itu, mereka pun sempat menolak untuk menari pada rapat-rapat yang mengguncang negara itu, namun setelah tragedy rusaknya makam nenek moyang mereka oleh seorang dari kubu lawan, menarilah srintil dengan bersemangat setiap rapat, tanpa henti, sebagai perlawanan atas penghinaat terhadap kampung mereka dan orang-orang didalamnya. 

Srintil dan orang-orang dukuh paruk yang terlibat di tangkap. Mereka, yang tidak tahu baca tulis, dimasukkan kedalam tahanan karena telah mengguncangkan negara. Di sana, srintil menerima banyak perlakuan buruk yang menyebabkan trauma. 

***

Srintil dan Rasus. Kisah cinta yang dibalut budaya ronggeng, kemiskinan dukuh paruk, dan tragedi sejarah. Dikemas dalam tulisan-tulisan indah Ahmad Tohari, dihias oleh diksi-diksi tradisional yang kini semakin jarang ditemui. “Orang yang tepat dalam waktu yang salah”, benar-benar terasa antara kisah cinta dua orang ini. Akhirnya tetap akan jadi milik pembaca, saya tidak akan membocorkannya pada tulisan ini. Namun percayalah, jika kau mencari kisah sejarah yang kaya budaya dan manusia, maka ronggeng dukuh paruk menjadi salah satu buku yang harus dibaca. 


Selamat hari kamis! 


 

Posting Komentar

0 Komentar