Liburan: satu kata yang bisa mengembalikan semangat kerja weekdays para pekerja kota-kota besar di Indonesia. Wakatobi merupakan salah satu kabupaten kepulauan yang terletak di Sulawesi Tenggara. Kabupaten ini telah terkenal tidak hanya di dalam negeri melainkan di luar negeri untuk keindahan alam bawah lautnya. Jika tertarik berkunjung ke sini, saya sangat menyarankan anda melakukan perjalanan di bulan Oktober-November. Sebab pada bulan ini, anda bisa menikmati festival wakatobi wave yang diadakan setiap november di pulau wangi-wangi, ibukota kabupaten wakatobi.
Perjalanan untuk menuju daerah ini bisa ditempuh dengan dua kendaraan, yakni dengan pesawat terbang maupun dengan kapal laut. pertama kali saya mengunjungi kabupaten ini yakni dengan pesawat terbang dari Makassar, Sulawesi Selatan dengan harga tiket sekitar 1 juta-an. namun jika ingin lebih murah, anda bisa menggunakan pesawat terbang sampai di Bandara Haluoleo di kendari, lalu menaiki kapal laut selama 8 jam dari pelabuhan nusantara di kendari, ke pelabuhan di wanci, di pulau wangi-wangi, wakatobi, sulawesi tenggara. jika menggunakan kapal laut, anda hanya perlu membayar Rp100.000 dari kendari ke wangi-wangi maupun sebaliknya.
HARI 1
Hari pertama saat tiba di pulau wangi-wangi begitu pesawat landing di bandara matahora, saya dijemput oleh seorang kawan bernama Hasrim di Wanci. Jika anda bepergian tanpa mengenal siapa pun, maka anda tidak perlu khawatir sebab di bandar udara kecil ini juga menyediakan mini bus yang bisa mengantar anda sepanjang jalan memutar pulau ini. tidak perlu khawatir tersesar, sebab pulau indah ini bisa dijelajahi dengan mobil hanya dalam waktu satu jam.
Selama di wanci, saya menginap di rumah kak malil yang terletak di jalan utama pulau wangi-wangi. namun jika anda melakukan perjalanan tanpa mengenal seorangpun, and bisa menginap di beberapa hotel yang tersedia di kota ini. salah satu yang saya rekomendasikan adalah hotel wakatobi dengna tarif sekitar Rp200.000/malamnya. karena perjalanan saya ke wakatobi kali ini disertai tugas liputan mendalam, maka saya pun melakukan beberapa kali kontak dengan host di pulau ini dari pihak WWF sebelum menentukan lokasi peliputan selama di kabupaten ini.
HARI 2
Hari ke dua di Wakatobi saya habiskan dengan menyusun data awal liputan setelah menetapkan lokasi peliputan di pulau kaledupa, wakatobi. selama beberapa hari kedepan, saya berencana untuk menghabiskan satu minggu melakukan peliputan mendalam tentang tenun pajam di kaledupa, wakatobi. di hari ke dua, saya fokus mengikuti FGD yang training of trainer yang difasilitasi oleh WWF di salah satu hotel di Wakatobi. setelah menyaksikan FGD yang berlangsung dari pagi sampai sore hari.
Di malam hari, saya bersama seorang rekan reporter menghabiskan sisa waktu dengan berdiskusi di salahs atu kafe yang menghadap pinggur laut. kafe ini berdiri di atas batuan besar di tengah-tengah laut. untuk menuju tempat ini, anda harus melewati jembatan kecil berbahan kayu yang cukup kokoh untuk dilewati.
Restoran ini bernama Nua Beach, dengan harga yang murah dan pemandangan lepas pantai wangi-wangi yang menakjubkan, tempat ini saya sangat sarankan untuk rekan-rekan yang berencana mengunjungi wakatobi.
HARI 3
Hari ke tiga dimulai pagi-pagi sekali, bahkan sebelum matahari muncul dengan sempurna. setengah jam lepas salat subuh, saat rumah yang saya tumpangi masih sunyi, saya memutuskan berjalan kaki di sekitar jalan utama, mencari toko kelontong yang sudah buka. di sini, saya mencari beberapa perlengkapan bersih-bersih yang tidak sempat saya bawa dari makassar, seperti sandal swallow, sabun, dan pasta gigi. setelah membandingkan harganya, ternyata harga di pulau wakatobi, tidak semahal rumornya. bisa dibilang harganya sama dengan ahrga barang-barang di kota makassar.
Lepas jalan-jalan, saya langsung bersiap-siap dan sarapan sebelum berangkat ke pulau kaledupa pagi itu. kapal penyeberangan antar empat pulau; Wangi-wangi, kaledupa, tomia, dan binongko ada setiap hari di beberapa pelabuhan di wakatobi. namun jika hendak pergi ke pulau-pulau kecil, anda harus mencari tahun dermaga yang harus didatangi, sebab pulau ini memiliki sekitar 3 dermaga. untuk menuju pulau kaledupa, saya menaiki kapal speed Valentine Bahari dari pelabuhan Numana di wangi-wangi, berjarak sekitar 5 menit dari rumah yang saya tinggali selama di wanci.
kapal berangkat sekitar pukul 09:30 wita. penumpang bisa menempati tempat duduk dengan bebas. tempat duduk di bawah kapal berupa deretan kursi-kursi penumpang yang diisi tiga penumpang per barisnya. di atas kapal, penumpang bisa duduk di bagian belakang kapal dengan atap terbatas, atau berbaring di bagian vip kapal. semua tempat selama di kapal dihargai sama, Rp50.000/kepala.
Perjalanan memakan waktu sekitar 1,5 jam. Sinta, kawan dari makassar telah menunggu saya di dermaga. karakteristik pulau ini cukup berbeda dengan pulau-pulau yang pernah saya datangi di dekitara sulawesi selatan pada umumnya. selain pulau yang luas, topografi yang menanjak dengan banyak dataran pegunungan membuat jalanan di desa ini berbelok-belok. selama di kaledupa, saya tinggal di Ambeua, daerah rumah Sinta. di dekat pantai, atau kawasan nongkrong di pulau ini, saya melihat beberapa villa yang disewakan, meskipun dikarenakan saya datang saat pariwisata sedang sepi-sepinya, sehingga deretan villa ini tampak tertutup.
Di hari pertama, saya langsung berkunjung ke Desa Pajam, lokasi peliputan hari ini. tidak banyak yang saya dapatkan di hari pertama, hanya sebatas footage-footage perjalanan, melihat lokasi penenunan, serta mengatur janji bertemu dengan seorang inisiator kelompok tenun di Pajam. sisa hari saya habiskan dengan berjalan-jalan bersama sinta, menikmati keindahan kaledupa, dan mengembangkan kerangka tulisan.
HARI 4
Hari ke empat merupakan awal peliputan. di pagi hari setelah sarapan, saya dan sinta langsung menuju desa pajam. perjalanan ditempuh sekitar 15 menit dari Ambeua, Kaledupa. Wawancara berjalan lancar. saya juga diberikan contoh beberapa diversifikasi produk tenun selain kain tenunnya. kain tenun khas pajam ini dihargai mulai Rp700.000 sampai di atas Rp1.000.000. tidak heran, beberapa wisatawan lebih tertarik membeli produk yang lebih murah, seperti tas, ikat kepala, pouch, gantungan kunci, dan lainnya yang dibanderol mulai Rp10.000-Rp200.000, tergantung produknya.
Kami selesai melakukan peliputan sekitar tengah hari. setelah selesai dari pajam, kami langsung menuju rumah nenek sinta yang dekat dengan daerah pesisir, sebab siang itu saya memiliki agenda zoom pendampingan peliputan, berupa laporan progressnya. Saya menulis laporan serta melakukan zoom di beranda rumah nenek Sinta. satu hal yang perlu digarisbawahi juga adalah, di pulau ini listrik baru menyala pukul 6 sore dan mati tepat pukul 6 pagi.
HARI 5
Hari ke lima merupakan hari peliputan terakhir. data tulisan sudah rampung sekitar 90%, tinggal melengkapi beberapa footage video peliputan dan mewawancarai narasumber lain terkait tambahan dari isi liputan, yakni perihal proses pembuatan tenun dengan cara yang masih sangat tradisional. peliputan terakhir itu berjalan sampai sebelum tengah hari. di sisa hari, saya menghabiskan aktu berkeliling kaledupa dengan sinta, menghabiskan waktu menulis, dan bermain-main di balai rumah tantenya.
HARI 6
Pada malam hari ke lima, saya tidak bisa tidur. perasaan berat bagaimana membalas jasa baik orang-orang di pulau ini menghantui saya, setidaknya sampai lewat tengah malam. malam itu saya membereskan semua cucian, baju-baju, dan membereskan segala peralatan liputan. seisi rumah bangun tepat sebelum subuh. setelah salat subuh, saya dan adik sinta yang kebetulan memiliki urusan terkait perkuliahan di makassarpun bersama-sama naik kapat pertama di subuh hari dari pelabuhan kaledupa, menuju pulau wangi-wangi.
hujan masih melanda saat perahu kami tiba di pelabuhan numana kembali. untuk anda yang berkunjung kesini tanpa saudar atau teman, anda tidak perlu khawatir sebab anda akan dengna mudah menemukan ojek di pelabuhan ini. untuk sampai ke rumah kak malil tempat saya menginap selama di wanci, saya perlu membayar sekitar Rp20.000 untuk sekali jalan. begitu tiba di rumah kak malili, saya langsung beristirahat sampai sore hari.
di sore hari, saya bertemu dengan kak juwita, seorang dokter gigi satu almamater di salah satu kampus di makassar. secara kebetulan, kami duduk bersampingan saat dalam perjalanan dari kendari ke bandara matahora di wangi-wangi. dari situ, kami mengethaui bahwa rekan satu angkatan dari kak juwi adalah teman komunitas ku di kab. maros. di hari terakhir, kak juwita mengantar saya mencari oleh-oleh. sayangnya, tokok banyak yang tutup di hari mingguu, selain itu, pasar-pasar juga sudah tutup di atas pukul lima sore. alhasil, saya hanya membeli seadanya dan berniat untuk memberli oleh-oleh saat di kendari saja.
HARI 7
Hari terakhir di wakatobi. seperti biasa, saya diberikan sarapan oleh kak malil di pagi hari. pagi itu sebelum bertolak ke dermaga, saya bermain untuk terakhir kalinya dengna ali si sulung dan paca si bungsu. saya begitu senang, sebab mereka anak-anak yang baik. di rumah ini sebelum bertolak ke kendari, saya sekali lagi dibuat terharu sebab kak malil memberikan buah tangan untuk saya, padahal saya begitu merepotkan beliau. setelah itu, kak malil mengantarkan saya ke pelabuhan tempat kapal menuju kendari bersandar.
dengan membayar sekitar Rp190.000, saya sudah mendapatkan tiket kepulangan hari itu. kak malil tidak lupa mengantar saya menemukan tempat tidur saya selama di perjalanan. diakhir pertemuan itu, saya mengucapkan perpisahan dengna menciumi tangan kak malil, perempuan baik hati yang sudah saya anggap seperti kakak sendiri.
di hari ketujuh saya habiskan sebagian besar di atas kapal. selama kurang lebih 8 jam, akhirnya tepat dengNan berkumandangnya adzan magrib, saya akhirnya tiba di dermaga kendari. setelah emnunggu sekitar 10 menit, Kak Gin, seorang rekan kuliah sewaktu di unhas. bersama sang suami dan anak perempuan remajanya, beliau menjemput saya di dermaga. sebelum pulang ke rumah beliau, kami singgah makan di salah satu rumah makan, dan mengunjungi masjid yang menjadi ikon kota kendari yang sayangnya sudah tutup di jam segitu.
HARI 8
Hari ke delapan adalah hari mengucapkan selamat tinggal dengan perjalanan peliputan ini. setelah rapid tes di pagi hari, saya pun langsung emmbeli tiket pesawat untuk penerbangan terakhir dari kendari menuju makassar di sore hari. dari pagi sampai menuju sore, saya menghabiskan waktu mengelilingi kota kendari dengan kak gin. dari membayar tiket pesawat, membeli oleh-oleh, dan mengunjungi beberapa tempat seperti taman bakau, dan rumah makan khas sunda.
akhirnya di sore hari, dengan sedikit terburu-buru, akhirnya saya pun menikmati sisa perjalanan dari atas pesawat kendari-makassar, ditemani senja yang begitu, begitu, begitu .... indah.
SELESAI
Cost Selama di Wakatobi
- Pesawat Makassar-Wangi-Wangi : Rp.895.000
- Rapid Test Antigen: Rp170.000
- Perlengkapan tambahan liputan: Rp300.000
- PP Kapal Wanci-Kaledupa: Rp100.000
- Biaya makan selama liburan: Rp50.000 (Ini murah nyaris gratis karena selama di wakatobi saya selalu tinggal di rumah teman)
- Ongkos transportasi selama di wanci: Rp50.000
- Tiket kapal wanci-kendari: Rp.200.000
- Oleh-Oleh: Rp300.000
- Pengeluaran selama di kendari: Rp150.000
- Tiket pesawat Kendari-Makassar: Rp500.000
Tempat-Tempat yang harus kamu kunjungi di Wakatobi
1. Nua Beach and Resto di Wangi-wangi
2. Jembatan Pelangi di Kampung Molla Bajo, Wangi-Wangi
3. Desa Liya Togo, Pulau Wangi-Wangi
4. Pulau Hoga, Kawasan Pulau Kaledupa
5. Desa Pajam, Pulau Kaledupa
6. Dermaga Wanci , Pulau Wangi-Wangi
7. Hengge Gallery, Pulau Tomia
8. Pombero Lodge, Pulau Tomia
0 Komentar