Travel Journey: Cerita Perihal 10 Hari Menelusuri Labuan Bajo , Tips Travelling dan Orang-Orang Baik Flores

Berlibur ke Labuan Bajo tepat setelah hari raya Idul Fitri merupakan salah satu dari kesekian pengalaman yang tak terlupakan. Perjalanan ini terbilang nekat, sebab persiapannya sekitar seminggu sebelum keberangkatan, bahkan dengan beberapa variabel yang tidak terduga seperti salah seorang teman yang membatalkan keberangkatannya. Tetapi apapun itu tidak menyurutkan niat kami mengunjungi Wae Rebo. 


 

3 Mei 2022

Perjalananku dimulai tepat sehari setelah perayaan hari raya Idul Fitri. Menaiki bus dari tujuan Palopo menuju Makassar yang ditempuh sekitar 8 Jam lebih. Bus yang akan menembus jalanan malam ini melewati 365 km, memiliki tempat duduk yang cukup nyaman ditambah jarak antar kursi yang cukup luas. Bus yang saya tumpangi berangkat sekitar pukul 20:00 dan tiba saat pagi sekitar 06:00 di Kota Makassar. 

4 Mei 2022

Setelah beristirahat sebentar dan melepaskan penat dari semalaman duduk di atas bus, lepas dhuhur saya langsung bergeser menuju pelabuhan Makassar. Kapal kami berangkat sekitar 16:00, tetapi saya memutuskan untuk berangkat menuju pelabuhan lebih awal untuk menukar tiket online ke tiket fisik di gerai yang telah tersedia. 

Pelabuhan ini nampak tidak asing, sebab saya sempat mengikuti pelatihan di KKP saat masih berstatus mahasiswa profesi fisioterapi, sekitar dua tahun lalu. Setelah melewati gerbang pelabuhan, saya langsung berbelok ke kanan dan memasuki satu-satunya daerah ramai dengan sebuah spanduk bertuliskan "pengurusan tiket" atau semacamnya. 

Tempat ini menjadi salah satu yang teramai di pelabuhan. setelah menukarkan dua tiket --punyaku dan Kak Istya, saya memutuskan untuk duduk sembari menunggu Kak Istya, senior sekaligus kawan perjalanan kali ini. Selama waktu menunggu, saya berbincang banyak dengaN dua bapak-bapak, yang satu asli bima dan satunya asli Ruteng, kota yang letaknya tidak jauh dari Wae Rebo.

Sekitar pukul 16:00 tepat, Kak istya datang. kamipun melewati beberapa loket check in, sampai kami memasuki kapal. Di dalam kapal, berhubung tidak begitu banyak penumpang, kami memutuskan untuk memilih tempat tidur kami di deck paling bawah, satu deck sebelum deck para ABK. 

Ini pertama kalinya saya menaiki kapal untuk tujuan pelayaran diatas 24 jam. Kapal ini jauh lebih bagus dengan fasilitas yang jauh lebih lengkap dibanding kapal yang saya tumpangi dari Wangi-Wangi menuju Kendari pertengahan tahun lalu. Di sini, setiap tempat tidur dilengkapi dengan tempat penyimpanan barang di atas, serta satu stopkontak. Meskipun begitu, saya cukup cepat menyadari bahwa kerangka ranjang-ranjang ini merupakan habitat serangga-serangga kecil yang bergerak cepat, dan senang mendatangi anggota tubuh yang tidak terlindungi kain. 

Note: Sangat penting untuk membawa kain sebagai alas tidur

Salah satu hal unik yang saya temui di sini juga terkait kiblat saat menunaikan salat. Dua kapal yang saya tumpangi sejauh ini, seluruh surau mereka terletak di bagian belakang kapal, di deck tertinggi. setelah membereskan barang-barang, saya dan kak istya memutuskan untuk melihat pemandangan dari bagian atas kapal, salah satu yang terbaik dari perjalanan menggunakan kapal laut. 

 

 5 Mei 2022

Hari ini merupakan hari pertama dengan matahari menyambut diantara awan laut flores, sekaligus hari dimana kapal kami akan tiba di tujuan, Labuan Bajo tepat sebelum tengah malam. Di pagi hari, kapten kapal mengumumkan bahwa sekitar pukul 10 pagi nanti kapal akan bersandar di pelabuhan Bima. sekitar pukul 08:00 beberapa ABK melakukan pemeriksaan tiket kapal. Mengetahui nomor kami yang tidak sesuai, merekapun mengantar kami menuju ranjang yang seharusnya. saya pun harus berpisah dengan bapak yang menemani saya sejak di pelabuhan, bahkan dengan baik hatinya menawari mengambilkan makanan kami berdua saat makan malam kemarin. 

Setelah memindahkan barang-barang dibantu seorang ABK yang baik hati, kami langsung menyusuri bagian lain kapal sembari mengambil sarapan. Makanan di kapal terkenal hambar dan sederhana, memang. dan jika membeli makanan disini, harganya bisa 4x lebih mahal dibanding harga di daratan sana. Di sini, harga satu buah popmie kuah sekitar 20.000, cukup kaget tetapi entah mengapa rasanya lebih enak (?)

Note: Agar hemat, selalu membawa makanan tahan lama seperti popmie sebab disini penumpang bisa mendapatkan air panas gratis

Kapal kami bersandar sekitar 10:00 selama 4 jam lebih dan baru kembali berlayar sekitar 14:00. selama itu, kapal yang tadinya luang perlahan dipadati banyak penumpang dengan sebagian besar tujuan Bima-Makassar. saya duduk disamping seorang wanita awal 30an, seorang yang telah menyelesaikan studi S2nya dan diterima sebagai seorang dosen di salah satu perguruan tinggi di Wamena. dari Makassar, beliau akan bertolak langsung dengan pesawat ke Wamena. 

Note: agar tidak bosan, banyak-banyaklah sokab di kapal

 

Sunset terakhir di kapal  menyimpan rasa haru tersendiri. selalu ada bagian menakjubkan tentang bepergian dengan kapal, sebab alternatif ini menyediakan banyak waktu untuk berbicara dengan diri sendiri, dan mengenal makna dari tidak terburu-buru. bosan? kadang-kadang. namun, transportasi ini murah dan cukup menyenangkan jika bertemu dan berkesempatan bercerita dengan orang-orang di atasnya. singkat cerita, kami tiba terpat 23:30, bersandar di pelabuhan Labuan Bajo. salah satu yang termewah yang pernah saya datangi. 

kami berjalan kaki sepanjam 1km menuju penginapan yang telah kami sewa, yakni La Boheme Bajo sebelum berangkat menuju Wae Rebo keesokan harinya. 

6 Mei 2022

Sebelum berangkat ke Wae Rebo, saya sempat mencari kontak traveller lain yang hendak berlibur ke lokasi yang sama di sebuah grup facebook 'Backpacker Indonesia'. percayalah, nyari teman-teman travelling merupakan salah satu tips paling jitu untuk menghemat pengeluaran selama travelling. Di sini, saya bertemu dengan kak Riyadi dari Jakarta. berhubung kak Riyadi tiba lebih awal, jadi ia bersama seorang temannya yang asli Labuan Bajo mengurusi perihal motor sewaan kami. 


Setelah sarapan pagi, saya dan kak Riyadi mengambil motor sewa kami yang dititipkan di rumah Oma Maria, sekaligus menitipkan beberapa tas yang tidak akan kami bawa ke Wae Rebo. selepas itu, tepat pukul 10:00, kamipun memulai perjalanan panjang dari Labuan Bajo-Waerebo. 

Perjalanan yang dilalui cukup panjang dan medannya juga cukup sulit, bebatuan, licin, terjal, tanjakan curam, juga belokan yang cukup berbahaya. Sekitar sejam melewati jalanan berbelok, ban motor saya dan kak riyadi kempes. untung saja kami menemukan tempat tambal ban tidak jauh dari lokasi kejadian. 

 

Beberapa orang mengingatkan kami untuk tidak melewati jalur Ruteng dan berbelok  ke nanga lili begitu sampai di Lembor. Sayangnya, jalur ini terlewat oleh rombongan kami, alhasil kami menghabiskan berjam-jam lebih lama di jalan, hingga tiba di arkiran Wae Rebo sekitar pukul 17:00 sore. Untung saja, kami menyewa guide sebab perjalanan memakan waktu 2 jam lebih, sehingga kami baru tiba saat hari gelap.

 

Begitu kami sampai, kami tidak diperbolehkan mengambil dokumentasi sebelum dimulainya acara penyambutan oleh tetua di rumah utama, atau niang mbaru, rumah kerucut yang berukurna paling besar dan terletak di tengah-tengah deretan rumah tersebut. satu-satunya rumah dengan tumpukan batu dan halaman yang lebih tinggi dibanding rumah lainnya. 

Saat kami tiba, suasana dingin dengan lapangan pandang yang meluas, juga lampu satu-satu yang menghiasi tiap rumah tersebut memberikan kesan bahagia yang tersendiri: sebuah tempat yang hanya ada di angan-angan beberapa tahun lalu, hari ini, kami singgahi, kaki kami menapak di tanah ini. kami dituntun oleh guide kami memasuki rumah utama. saat berada di sana, kami harus menunggu sekitar 10 menit sebab satu keluarga dari salah satu rumah adat tersebut tengah mengadakan upacara syukur atas wisuda salah seorang anggota keluarganya.

Kami berbincang hangat setelah membereskan barang bawaan kami di atas tempat tidur sederhana masing-masing (satu tikar, satu bantal, dan satu selimut). berhubung pengunjung hari itu cukup ramai dan kapasitas rumah yang biasa ditinggali oleh wisatawan tidak mampu menampung kami, sehingga kami tinggal di rumah utama malam itu. 

setelah makan malam, kami ngopi sambil menikmati dingin udara malam manggarai, sayangnya salah satu tujuan wisata waerebo, yakni pemandangan bintang malamnya tertutupi oleh awan malam itu. kami berbincang akrab tertawa karena lawakan lugu dari orang-orang disini, terkhusus Guide kami, serta ceritanya soal katerina yang diceritakan dengan begitu lucu.

Berhubung listrik menggunakan tenaga genset, di desa Wae Rebo ini listrik akan mati tepat pukul 11 malam, menandakan  malam panjang penuh cerita yang akrab itu telah selesai.  

7 Mei 2022

 

Pemandangan pagi ini menyambut kami dengan begitu megahnya. sebuah kampung di tengah-tengah seperti telah ditakdirkan di sana, dengan keseluruhan perjalanan kaki yang melelahkan, benar-benar menjadi hadiah terhebat dari sebuah perjalanan panjang. 

Jika berkunjung kesini, maka anda harus bangun subuh hari, bahkan sebelum matahari terbit. selain spot foto akan saling antri, subuh hari akan menampilkan banyak hal-hal menarik, seperti suasana pagi, kicauan burung, hingga banyak penampakan alam yang indah, termasuk melihat bagaimana cahaya matahari perlahan muncul di balik deretan pegunungan. 

Jalanan pulang terasa lebih mudah sebab medan yang dihadapi lebih banyak turunan. Begitu tiba di bawah kami langsung menuju jalan pulang, meskipun dengan satu drama ban kempes tambahan, beruntung, banyak warga yang menolong kami. 

Note: beberapa desa sekitar parkitan Wae Rebo mengalami mati listrik di pagi hari saat kami berkunjung sekital awal mei, jadi pastikan motor dalam kondisi prima agar perjalanan lebih aman dan lancar. 

 Perjalanan pulang kami melewati rute nanga lili, jauh lebih dekat meskipun dengan beberapa tantangan seperti jalanan yang jauh lebih ekstrim, namun pemandangan selama kurang lebih 3 jam melewati pesisir pulau flores adalah yang terbaik! 

Singkatnya, kami tiba kembali di Labuan Bajo sekitar sore hari, dan memutuskan langsung singgah di rumah Oma Maria untuk bersih-bersih sekaligus memikirkan langkah selanjutnya. Lepas magrib, saya dan kak Istya memutuskan keluar berboncengna menikmati suasana malam Labuan Bajo dengan segala keindahannya, sembari mencari penginapan selama beberapa hari kedepan, juga laundry ekspress yang bisa kami temui di kota tersebut.

Kami cukup beruntung sebab menemukan penginapan, tepatnya Home stay "Golo Koe Sejahtera", persis dibelakang rumah Oma Maria dengan harga super miring, hanya skeitar 200an ribu untuk dua orang, dari tanggal 7 hingga tanggal 10. tidak hanya itu, kami jug asangat beruntung sebab pengelola dari penginapan ini begitu ramah dan senang bercerita banyak hal. Tanggal 7 berakhir di Homestay, setelah makan malam yang menyenangkan di rumah Oma Maria. 

kalau kalian penasaran dengan home stay ini, saya sudah menulis tentang Golo Koe Sejahtera beberapa minggu yang lalu. silahkan klik disini. 

8 Mei 2022

Tanggal 8 merupakan hari yang baru. Saat ini, salah seorang teman kami, Kak Aji sudah harus pulang kembali ke Lombok sebab kampusnya mulai beraktivitas normal esok harinya. Sayapun cukup sedih sebab tanggal 9, saya juga sudah harus kembali ke kesibukan perkuliahan online. Kepergian kak Aji digantikan dengan kak Dini dari Jakarta. 

Pagi itu, rombongan kami keluar pagi-pagi sekali, sebab malam harinya kami sepakat untuk berkunjung ke Kampung Todo, kampung tertua di Manggarai dengan struktur rumah sama seperti di Desa Wae Rebo. hanya saja, secara sejarah kampung tertua ini memiliki banyak daya tarik, dengna medan yang lebih mudah, termasuk di dalamnya terdapat gendang dari kulit manusia yang menjadi pusaka yang dilindungi kampung todo'

Perjalanan hari kedua ini jauh lebih menguras tenaga, sebab hujan deras mulai menyapa kami tepat ketika kami melewati deretan jalan-jalan lurus di Lembor, berganti jalan berbelok dengan turunan dan tanjakan curam. Di siang hari, kami sempat singgah dan menikmati kopi serta kacang rebus di salah satu warung semi permanen yang kami temui, bisa dibilang warung pertama dari sejak kami meninggalkan Lembor. 

Note: warung makan sangat jarang kecuali di sekitaran daerah pasar lembor, sehingga sangat disarankan untuk membawa makanan sendiri.

Kami sampai di Kampugn Todo' saat hujan masih membasahi dan sebagian besar jarak pandang masih terbatas oleh kabut yang cukup tebal. Sekitar setengah jam bercerita banyak hal dengan dua pengurus di compang todo', hujan akhirnya berhenti dan kami berkesempatan untuk mengunjungi kampung ini. Kampung ini menawarkan suasana yang berbeda dengan Wae Rebo, meskipun rumahnya memiliki struktur yang sama. Mungkin karene moderenisasi sudah cukup akrab dengan kampung ini, seperti rumah-rumah warga yang letaknya berdekatan, listrik yang tersedia seharian, ataupun suara karaoke dari salah satu rumah adat yang terdengar oleh kami. 

Meskipun begitu, tempat ini cukup menyenangkan sebab kami menjadi turis terakhir sore itu. puas berfoto dengan memakai kain adat khas manggarai, kami cukup membayar sekitar 45.000/orang, ditambah sumbangan seiklasnya.


Kami tiba kembali di Labuan Bjo dengna selamat, setelah menikmati sejam istirahat di Lembor sambil makan nasi padang yang masih buka malam itu, sekitar pukul 9 malam dan tiba di Labuan Bajo tepat tengah malam. Kami langsung menuju tempat laundry, namun sayangnya sudah tutup. akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke penginapan, bersiap untuk aktivitas masing-masing ke esokan harinya. 

9 Mei 2022

Agenda tanggal 9 kami lalui berbeda-beda. Kak Riyadi dan Kak Istya akan sailing 1 day Trip ke beberapa pulau di sekitaran Labuan Bajo serta taman nasional Komodo. Kak dini akan menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk, sementara saya harus berkuliah sebab hari ini merupakan hari pertama kuliah via daring. 

Setelah mengantar kak istya subuh hari, saya kembali untuk berberes-beres, mengambil laundryan yang tidak sempat malam kemarin, serta berberes-beres kamar, menyetrika baju-baju yang tidak terurus beberapa hari, mencuci sepatu, menjemur tas yang kotor, serta bercerita sebentar dengan Kak Jojo dan Opa. 

Perkuliahan saya selesai lewat tengah hari. Kak dini yang menyewa kamar di depanku dan kak Istya sedang keluar, sementara aku dan kak Gusti, teman kak Riyadi harus mengembalikan motor sewa kami sore harinya. Setelah menyelesaikan semuanya, saya dan kak gusti berpisah di dekat gerbang pelabuhan. Karena bingung dan tidak ingin buru-buru kembali ke penginapan, saya pun memutuskan untuk menimati sore hari Labuan Bajo, berjalan dari dermaga sampai ke Kampung ujung. berhenti sebentar membeli ice cream, lalu menikmati sunset dan kapal-kapal yang bersandar di kampung ujung. 

Kak Dini menjemputku sekitar setengah jam kemudian. kami berdua menikmati sunset dari bukit waringin. Kak dini menikmati sunset dengna caranya tersendiri, mengambil footage timelapse, sementara saya senang dengan langit yang perlahan gelap dan lampu-lampu kapal yang jadi lebih terang. setelah itu, saya dan kak dini menikmati malam sambil ngopi, hingga pukul 9 baru kembali ke penginapan. Kak istya telah tiba terlebih dulu. 

10 Mei 2022

Hari ini merupakan momen terakhir bersama kak istya dan kak diny, sebab penerbangan mereka berdua sekitar pukul 10 pagi. Sama seperti kemarin, hari ini pun saya dan kak Istya bangun subuh hari. setelah salat, kami memacu motor di jalanan Labuan Bajo yang masih lenggang. Spot terakhir yang akan kami datangi yakni sunrise di bukit sylvia, yang menampakkan keindahan Labuan bajo, keunikan topografinya, juga savananya yang berharmoni sempurna dengan lautan yang biru cerah. 

Setelah itu, kami berjalan-jalan dan memilih souvenir di toko-toko sepanjang jalan utama Labuan Bajo yang macetnya minta ampun di pagi hari, lalu kembali ke penginapan sebab kak istya harus bersiap-siap dan sayapun harus berkuliah kurang dari sejam. 

Kak Istya dan kak Diny pulang bersamaan, meninggalkan saya sendiri di penginapan itu. kak Riyadi juga harus pulang di waktu sore, di hari yang sama, dengan kapal menuju lombok.

Saat mereka pulang, saya merasa cukup kesepian, namun, saya memiliki segudang tugas, tulisan yang harus diselesaikan, dan kak Jojo juga sangat sering mengajak saya bercerita. beliau bahkan menemani mencari makan malam tidak jauh dari penginapan, bahkan meminjamkan motornya selama saya di Labuan Bajo. 

10-11 Mei 2022

Tidak banyak hal yang saya lakukan di dua hari ini, selain berjalan-jalan pagi mengelilingi Golo Koe, berkuliah pagi-sore, lalu menikmati sunset di waringin ataupun kampung ujung bersama Kak Gusti dan satchi, anjingnya. Dua hari ini juga memberikan saya banyak kesempatan menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda, sekaligus menunggu waktu kepulangan di tanggal 13. 

12 Mei 2022

Sehari sebelum kembali ke Makassar, Kak Gusti, salah satu manusia baik yang saya temui di Labuan Bajo menyempatkan sore harinya menemani saya ke begitu banyak pantai dan spot-spot menyenangkan di Labuan Bajo. Kami berjalan-jalan santai di sepanjang dermaga bersama satchi, mendatangi 2-3 pantai, menikmati nasi goreng abang-abang, juga banyak hal lainnya. 

13 Mei 2022

Hari ini merupakan hari terakhir saya di Labuan Bajo. Kapal yang akan membawa saya kembali ke Makassar akan berangkat malam nanti. Oleh sebab itu, di pagi harinya saya keluar dari penginapan dan beristirahat sebentar di rumah Oma Maria sembari menunggu kak gusti selesai bekerja. 

Labuan Bajo penuh dengan orang-orang baik. itulah yang saya alami selama di sana. Kak jojo sempat menawari extend tanpa harus membayar, salah satu yang membuat saya begitu respek dengan beliau. selain itu, ojek yang saya tumpangi menuju rumah oma maria, bahkan menawari saya untuk mengecek tiket ke kantor pelni, dan singgah berbelanja dengan ramahnya, bahkan menolak uang tambahan yang saya berikan. 

Selain itu, setelah kak Gusti selesai bekerja dan perkuliahan saya juga sudah selesai ke esokan harinya, kami menghabiskan sore di sekitaran dermaga. berjalan kaki dengan santai bersama satchi, menikmati sunset, bercerita banyak hal dengan terbuka, serta menikmati makanan sederhana yang enak sambil menunggu petugas pelabuhan tiba. 

14 Mei 2022

Di atas kapal juga tidak kalah menyenangkannya. saya bertemu dengan kak Fitrah, dan kami bercerita sangat banyak hal-hal yang menyenangkan. Sepertinya perjalanan lambat cocok dengan saya, sebab saya selalu senang memandangi laut, menrasakan kuping yang pekak, menikmati waktu yang syahduh di surau kapal, atau sekedar bercerita kosong dengna sembarang orang yang saya temui di kapal. 

Tepat pada sore, kapal kami bersandar di Makassar, menandakan perjalanan itu benar-benar berakhir. Setelah perjalanan ini, keinginan untuk menjelajahi daerah lain di indonesia semakin tumbuh subur. Sejak dari wakatobi seorang diri, juga setengah perjalanan flores sendirian, saya menemukan banyak sekali hal-hal baru, serta kesadaran bagaimana keramahan orang-orang yang benar-benar ringan tangan menolong orang-orang dalam perjalanan seperti saya. Sungguh, saya ingin menjadi manusia dewasa seperti mereka. 

***

Sejak dulu, menulis selalu menyelamatkan saya, juga ingatan yang sangat terbatas ini. saya selalu senang mengabadikan momen dan perasaan-perasaan di dalamnya untuk dibaca di masa depan. Jadi jika tulisan ini dibaca oleh orang-orang yang berjasa pada momen itu, maka terima kasih. terima kasih yang sedalam-dalamnya, karena telah menunjukkan begitu banyak kebaikan yang menginspirasi. 

Semoga kita semua sehat dan selalu dalam lindungan Tuhan, Salam.










Posting Komentar

2 Komentar

  1. Budget perjalanan selama 10 hari berapaan sih?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk budget relatif sih kak, soalnya daerah flores apalagi lbj itu punya beragam harga untuk setiap kebutuhan wisatawan sana. karena kemarin backpackeran plus ada travelmate jadi bisa sharing cost, terus ketemu warga lokal dan nginap juga disana, plus dapat penginapan murah, jadi sekitar <2.5jtaan

      Hapus