Mereka yang Menunggu di Banda Naira, Sebuah Teatrikal Penuh Haru dari Indonesia Kaya

Banda Neira, namanya telah santer terdengar sejak lama, pulau yang termahsyur akan kekayaan rempahnya, terkhusus pala. Bahkan dari namanya saja, pulau ini sudah mengundang saya untuk menginjakkan kaki disana sejak beberapa tahun sebelum tulisan ini. 

Lakon 'Mereka yang Menunggu di Banda Neira' oleh teatrikal Indonesia Kaya membuat keinginan saya untuk mengunjungi Banda Neira muncul makin membara di awal tahun 2022. Teatrikal ini menampilkan kisah empat tokoh pergerakan nasional yang diasingkan ke Banda Neira. 

Para tokoh pergerakan tersebut di antaranya Sutan Sjahrir (diperankan oleh Reza Rahadian), Mohammad Hatta (Tanta Ginting), dr. Cipto Mangoenkoesoemo (Lukman Sardi), dan Iwa Koesoema Soemanteri (Verdi Solaiman). 

Sumber gambar: inilah.com

Teartikal ini disampaikan dengan apik, seperti menyaksikan lantunan kisah sejarah saat duduk di bangku sekolah. Lakon yang ditanyangkan di channel youtube Indonesia Kaya ini merupakan dokumentasi pementasan pada bulan November di Gedung Kesenian Jakarta. 

Saya cukup beruntung sebab mengetahui perihal tayangan gratis di kanal YouTube Indonesia Kaya ini, sebab ternyata video dokumentasi yang menakjubkan tersebut hanya tersedia selama 6 bulan saja. Saya cukup sedih sebab hanya akan bercerita dalam tulisan ini berdasarkan ingatan dan perasaan saat menyaksikan tayangan tersebut, padahal, saya berniat untuk menonton sekali lagi sebelum menulis ini. 

Selama kurang lebih 120 menit, teatrikal ini menampilkan sejumlah konflik yang berputar pada keempat tokoh pergerakan nasional tersebut, dibalut dalam kesederhanaan dan adegan-adegan penuh ketegasan api semangat-semangat perjuangan yang terus menyala bahkan dalam pengasingan mereka. 

Reza Rahadian adalah seorang aktor yang brilian, dengan kapasitasnya, beliau berhasil menyajikan sisi lain dari Sutan Sjahrir, bagaimana pria tersebut begitu merindukan kekasihnya yang orang belanda, dan bagiamana rasa kecewa pria tersebut akan orang-orang yang menentang hubungan keduanya. beberapa kali adegan dalam teatrikal ini menampilkan keduanya yang saling menyapa lewat lagu-lagu, puisi, dan narasi-narasi yang apik. 

Teatrikal dibuka dengan kedatangan Sjahrir dan Hatta di Banda Neira pada tahun 1936. seorang anak yang tampak bersemangat menemui mereka di pelabuhan, menunjukkan rumah dr. Cip kepada dua orang pendatang tersebut. 

Keyakinan tokoh pergerakan tersebut selama masa pengasingannya memberikan getaran tersendiri pada para penonton, termasuk saya. Bagaimana di masa pengasingan mereka tetap menyalakan api perlawanan dengan sebaik-baiknya di bidang sosial dan pendidikan dengan mendirikan sekolah bagi anak-anak yang ingin belajar, juga menjadi tokoh yang dipegang warga lokal ditengah pengaruh belanda di pulau tersebut. 

Sampai saat keempatnya meninggalkan Banda Neira dan adegan seorang anak mengucapkan selamat tinggal dengan kalimat yang sama saat bung sjahrir dan bung hatta pertama datang ke pulau Bandaa Neira, rasa haru dan bersyukur sebab berkesempatan menyaksikan teatrikal ini tetap tinggal sampai beberapa hari kedepannya, bahkan sampai hari ini, berbulan-bulan sejak menyaksikan "Mereka yang Menunggu di Banda Neira"


Posting Komentar

0 Komentar