Itinerary dan Cerita Liburan di Pulau Samalona

 

Samalona selalu menjadi salah satu pulau get away dari hiruk-pikuk kemacetan kota Makassar, terutama kemacetan jalan-jalan Pettarani, pertigaan Alauddin-Pettarani, dan jalur sekitar Pantai losari di malam minggu. Pekerjaan yang menumpuk, kehidupan sosial yang kacau, ekspektasi-ekspektasi di luar realita, menjadi faktor yang membuat hiburan dan liburan sangat dibutuhkan setiap insan yang berpacu dalam dinamisasi dunia.

Jika kamu sedang mencari pilihan liburan sehari yang dekat dengan kota Makassar tetapi tentu menyajikan kualitas liburan dan alam yang alami, maka Pulau Samalona dapat menjadi destinasi liburan di akhir pekanmu.

Pulau yang terlihat dari Pantai Losari

Samalona merupakan satu dari sedikit pulau yang dapat terlihat dari dermaga kayu bangkoa maupun dari anjungan pantai losari. Pulau ini masuk dalam area administrasi kecamatan sangkarrang, kecamatan termuda di kota Makassar. Pulau samalona terletak sekitar 2 km dari dermaga depan Benteng Fort Rotterdam, yang dapat ditempuh dengan perahu sekitar 20-30 menit saja.

Pulau ini memiliki luas 2 hektare dengan banyak pohon-pohon tinggi di sekitar pulaunya. Pasirnya putih dengan air laut biru. Meski pulau ini tidak terlalu besar, tetapi para pengunjung bisa menikmati fasilitas lengkap seperti mushallah, toilet, air bersih, beberapa pedagang makanan, penginapan sederhana, dan gazebo yang disewakan sepanjang pantai.

Cerita liburan: Berita di malam hari

Malam hari, sekitar pukul sepuluh, aku mencoba tidur. Belum sampai seminggu sejak kedatanganku kembali ke Makassar. Pukul sepuluh lewat sedikit, Kak Ceya, salah seorang kawan di sekolah kolong mengirimiku pesan via whatsapp.

“Naw ada mi di Makassar?”

“Iye kak.”

“Ada mukerja besok? Ayo deh ke pulau.”

“Bisa ji kak, kosong banget ja.”

“Tapi ndak bermalam ki.”

“Oke kakkk. Pulau mana?”

“Pulau samalona.”

“Siap.”

Setelah itu, Kak Ceya mengundangku ke dalam grup bersama untuk perjalanan esok hari. kami bersepakat berkumpul disalah satu kafe yang terletak di jalan Toddopuli, membereskan ransum, dan berangkat bersama-sama ke dermaga di depan benteng fort Rotterdam. Oh iya, liburan kali ini ditanggung oleh kak ceya, kawan yang sudah seperti kakakku sendiri, hehehe. (terima kasih kak, semoga pintu rezekinya semakin terbuka lebar).

Pagi ini cuaca cerah minim awan, sangat cocok untuk hari berlibur di pulau kecil yang tidak begitu jauh dari daratan besar kota Makassar. Perjalanan ditempuh dengan motor dari jalan toddopuli sekitar pukul Sembilan, dua jam lebih lama dari jam kesepakatan di grup malam kemarin. Singkat cerita, langit terik jam Sembilan menuju sepuluh menyambut kami sepanjang perjalanan dengna sepeda motor sekitar sepuluh orang: aku, kak ceya, kak ayyub, kak arif, kak kugi, kak iqsar, caca, kak jannah, dan kak abek.

Dari dermaga menuju pulau samalona

Setelah tiba di depan benteng fort Rotterdam, kami disambut banyak calo kapal yang hendak menawarkan jasa mereka. Motor pun diparkir di depan benteng fort Rotterdam, beberapa kawan juga memarkir motor mereka di jalan masuk dermaga. Meski di pulau terdapat pedagang yang menjajakan makanan, tetapi sebaiknya jika ingin berkunjung kesini, ada baiknya menyediakan perbekalan makanan sendiri. Selain harganya lebih murah, berbelanja di kota tentu menyediakan lebih banyak pilihan makanan sesuai selera.



Satu lagi tips jika hendak berlibur ke pulau samalona, adalah menawar kapal yang digunakan. Selain kapal penumpang umum, disini juga disediakan banyak kapal yang dapat disewakan full untuk seharian. Kapal-kapal ini biasanya dibanderol Rp500.000, tetapi tentu saja bisa lebih murah, tergantung jenis kapal, jumlah mesin, dan total kapasitas penumpangnya. Awalnya, beberapa calo manawarkan harga Rp500.000 untuk carter kapal dengan kapasitas 10 penumpang. Lalu dengan tawar-menawar ke beberapa calo, akhirnya kami sepakat dengna kapal kapasitas 10 orang yang dipatok Rp350.000 (murah, kan?)

Jadi jika ingin berlibur ke samalona, jangan takut menawar harga kapalnya, ya!

Selanjutnya, setelah sepakat dengan satu kapal putih milih Daeng Raga, kamipun berangkat ke pulau. Perjalanan berlangsung menyenangkan. Ada beberapa anak-anak lokal yang tampak berenang di sekitar dermaga dan melampai kepada kami begitu kapal yang kami tumpangi melaju ke lautan lepas. angin laut yang sepoi, suara deru mesin kapal, dan seruan caca, keponakan kak ceya yang masih berusia 6 tahun yang juga bersama kami, menyatu bagai harmoni selama perjalanan menuju pulau. Tanpa hambaran berarti, perjalanan itu berakhir dan tibalah kami ke pulau samalona.

Menikmati liburan singkat di Pulau Samalona

Pasir putih samalona menyambut kami begitu tiba di pulau tersebut, bersamaan dengan seorang wanita di pertengahan 30-an yang tampaknya warga lokal pulau ini. Dengan lihai, ia menawari kami beberapa fasilitas di pulau ini.

“Mauki menginap?”

“Tidak ji, Bu.”

“Di sebelah sini bagus pantainya,” katanya sembari menunjukkan jalan ke salah satu sisi pulau dengna pemandangan yang indah.

“Ini gazebonya Rp50.000/hari.”

“Oh iya Bu, kami ambil satu.”

“Siapa tau kita mau sewa peralatan selam, Rp50.000 lengkap.”

“Oh, tidak ji kayaknya, Bu. Ngomong-omong, dimana tempat bagus untuk berenang disini, bu?”

“Oh, disana, Dek.” Katanya, menunjuk ke bibir pantai tidak jauh dari gazebo yang kami sewa.”

“Kalau mau ke kamar mandi ada di sana,” tunjuknya.

Setelah menjelaskan tempat-tempat dasar di pulau ini, wanita 30-an itu pamit meninggalkan rombongan kami yang mulai menggelar tikar dan mengeluarkan perbekalan. Ternyata….

Satu kantongan perbekalan yang berisi perbekalan makanan utama tertinggal di jok motor kak iqsar, salah satu teman. Jadilah kami cukup kaget dan bingung saat itu, berhubung makanan yang terbawa hanya nasi, mi instan, dan kompor untuk memasak. Teman-teman yang lain berusaha menghubungi daeng raga, dan sisanya berdoa supaya makanan di jok motor bisa dibawa kapal selanjutnya. (salah satu pelajaran untuk memastikan semua perbekalan dipindahkan ke kapal sebelum berangkat.)



Pukul 12:00 WITA selagi menunggu makanan kami datang, kak ayyub berinisiatif membeli beberapa mi instan dan memasaknya, aku menemani caca berenang, dan beberapa kawan mendirikan hammock untuk bersantai tidak jauh dari gazebo kami. Salah satu hal yang kusuka tentang berlibur di pulau adalah menikmati suara ombak dan pamandangan air laut pantai yang biru, tidak seperti pantai di pinggiran kota.

Aku menemani caca berenang, mengambil beberapa gambar panorama pulau, dan bersantai di hammock. Pukul setengah dua akhirnya makanan yang sempat tertinggal akhirnya tiba di pulau, dibawa salah satu kapal yang mengangkut penumpang setelah kami. Semangat rombongan kami kembali berkobar. Dengan sigap beberapa orang mulai menyalakan kompor memasak sosis terlebih dulu, sedangkan beberapa lagi memarinasi daging yang akan dibakakar setelahnya. Agar cepat, siang itu kami memakai dua kompor portable mini. Aku bersantai dengan caca. Anak kecil itu sangat senang bercerita, dan aku juga sama menikmati percakapan aneh bin sederhana kami.

Setelah berbagai jenis lauk lezat kami selesai dimasak, kami smeua langsung melahapnya dalam sekejap, dan makan siang menyenangkan yang sempat tertunda itu selesai tidak sampai satu jam. Setelah makan, kami bermain beberapa permainan yang sudah kulupa namanya, tetapi tentu saja permainan yang menyenangkan, dimana kami diberi dua kata dan harus menebak kata terbanyak dan orang-orang yang tidak mendapatkan kata yang sama.

Berenang saat sore sebelum pulang dan sunset di perjalanan menuju daratan besar Makassar

Matahari mulai tampak lembayung, waktu yang tepat untuk berenang dan mengabadikan momen liburan singkat di pulau samalona ini. Caca yang sangat suka berenang pun ditemani om-tantenya, kak ceya, kak abek, dan kak ayyub berenang bersama di dekat bibir pantai. Begitu selesai berenang dan mengambil beberapa gambar, kamipun bersiap-siap untuk pulang. Oh iya, jika hendap berlibur ke manapun, jangan pernah menginggalkan sampah, ya, teman-teman.

Kapal daeng raga kembali menjemput sekitar pukul 17:30 WITA. Setelah membayar gazebo, kamipun beranjang meninggalkan pulau, ditemani suara deru kapal dan ombak yang semakin tinggi di saat sore. Satu kali lagi liburan menyenangkan bersama kawan-kawan menenangkan!

26 September 2020

p.s.

Itinerary pulau samalona (untuk 8-10 orang) :

Ket.

Harga.

Sewa kapal

Rp350.000 – Rp500.000

Makanan

Rp200.000 – Rp300.000

Gazebo

Rp50.000/unit

Peralatan diving

Rp50.000/unit

Sewa penginapan

Rp200.000 - Rp300.000/kamar

 

Posting Komentar

3 Komentar