Kontemplasi 2020

2020 telah menjadi tahun paling tidak terduga. Siapa yang menyangka virus misterius muncul pada akhir tahun 2019 di salah satu kota besar di Cina, lalu menyapu dunia, termasuk Indonesia sekitar awal tahun 2020(?). Dunia yang dulunya pasti-pasti saja bertansformasi dalam semalam. Rasanya bercerita dinamika 2020 akan selalu erat dengan covid-19. Jujur, masa-masa terberat adalah awal tahun dimana saya merasa seperti entitas yang dipaksa muat kedalam kotak yang jauh lebih sempit: berdiam diri di rumah; semua rencana jangka pendek-panjang berantakan; memangkas impian berlibur ke pulau di timur Indonesia; dan ketakutan akan studi yang tertunda.

Gagal; Patah

Kegagalan itu sudah terlalu sering, seperti makan masakan sangat bergaram setiap harinya. Hari-hari berlalu, tau-tau lidah kelu mati rasa dan tubuh sudah hipertensi. Kegagalan itu sudah jadi teman sejak dulu sekali. Awalnya sedih karena karya ditolak/gagal, sekarang … ya cuma begitu, kita bisa apa?. Mungkin mata akan nanar sedikit, tapi sampai segitu saja. Karena sudah terbiasa gagal, sudah maklum dengan patah, sampai lupa untuk bersedih. Gagal selama bertahun-tahun membuat sedih bukan jadi perayaan yang pantas. Namun di penghujung 2020 saya tersadar, sedih juga emosi, sedih pantas diakui, dan sedih juga harus diapresiasi.  

Saya juga berkali-kali patah di 2020. Awal tahun, tengah tahun, bahkan akhir tahun. Patahnya bermacam-macam, sebab-persoalannya pun beragam, mulai ekspektasi pada manusia lain, sampai perasaan minder pada diri sendiri. Kalau fenomena quarter life crisis adalah sebuah kegagalan meluruskan pikiran-pikiran baik, maka saya termasuk gagal. Perasaan patah berkali-kali, rasa tidak menentu, pikiran yang penuh akan pertanyaan-pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh waktu: Sampai kapan? Setelah ini apa? Bisa bertahan sampai mana? Berapa lama?  

Lomba novel penerbit batik yang gagal, lomba cerpen Ae publishing yang gagal, lomba esai genspira yang gagal, lomba cerpen inspirasi pena yang gagal, lomba puisi jejak publisher yang gagal, lomba kemendikbud yang gagal, lomba kelas menulis novel KMC yang gagal, lomba komik perempuan yang gagal, lomba inisiator yang gagal, lomba scenario berdasarkan cerpen yang gagal, lomba mentoria yang gagal, lomba perpusnas yang gagal, lomba redaksi rumah kita yang gagal, lomba blog Asus yang gagal, lomba BPIP yang gagal, dan lima lomba lainnya yang gagal, saya telah patah berkali-kali, bukan?

Maka dari itu, untuk saya yang patah berkali-kali, bersedih setelah gagal atau hati yang patah itu wajar, dekaplah. 





Tumbuh; Bangun

Jika 2020 memberikan teror bagi manusia, ketakutan akan sesuatu yang tidak diketahui tetapi bisa benar-benar membunuh, maka 2020 juga memberikan satu hal yang tidak diduga: waktu. 2020 membawa pada sebuah kesadaran akan waktu yang terlalu terbuang-buang tahun-tahun kemarin. Waktu luang yang berlimpah membawa saya pada hal-hal baru yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya, mengikuti lomba-lomba menulis terbanyak dalam beberapa bulan, juga mulai sedikit bertanggung jawab pada diri sendiri dalam segi finansial.

Tahun 2020 menjadi tahun yang sibuk meski dihabiskan hanya di rumah. Makan tiga kali sehari, olahraga, dan kelas online merupakan rutinitas wajib. Selain itu, di tahun 2020 ini saya mulai kembali aktif menulis blog, membeli domain milik sendiri, yangmana setelah beberapa perdebatan dengan diri sendiri, saya akhirnya menamainya (nawaituininnawa.com), nama yang sejalan dengan nama pena yang saya gunakan pada setiap tulisan.   

2020 saya tumbuh dengan tanaman-tanaman di pekarangan rumah. Rumah di dalam kompleks perumahan dengan lahan terbatas ini, saya menanam beberapa tanaman pangan maupun herbal, seperti rosemary, chocolate mint, sereh, dan kunyit putih. Sayapun menanam beberapa bunga dengan bibit yang dibeli dari rainbow garden gowa. Saya juga untuk pertama kalinya menemukan hal yang menyenangkan di dunia tulis-menulis selain novel-novel fiksi, yaitu catatan perjalanan. Ilmu dasar ini saya dapatkan dari kelas menulis tempo, lalu saya kembangkan dengan menulis pada platform-platform digital.

Wujud bangun diri di 2020 adalah beberapa karya sastra yang diterbitkan, seperti novel kisah di rumah kopi, novel far (sebentar lagi), dan beberapa antologi cerpen. Saya dapat merasakannya denan membandingkan gaya tulisan dari karya di akhir 2020 dengan beberapa tahun silam, bahwa tulisan saya tampaknya ikut bertumbuh di 2020. Semua hal itu merupakan sisi lain dari 2020: ruang untuk tumbuh.   






Syukur; Terima Kasih

Gagal dan patah, lalu tumbuh hingga bangun, semuanya adalah proses yang terus berulang. Proses-proses berulang dengan dosis berubah-ubah itu, seperti hulu yang mengairi hilir, tepatnya suatu kesatuan hilir manusia yang disebut: pemahaman/pemikiran/waham/perspektif. Apapun sebutannya, saya senang menyebutnya dengan wisdom.  Sesuatu yang hanya bisa diperoleh di akhir cerita, seperti putri yang diselamatkan mario setelah mengalahkan raja terakhir.

Musuh terkuat itu telah membersamai sejak manusia merasakan dorongan/keinginan akan sesuatu. Musuh itu ada di dalam, tetapi untuk melawannya, manusia harus melihat keluar. 2020 adalah tahun yang gila dengan banyak pelajaran syukur! Orang-orang di tahun ini tidak dituntut resolusi-resolusi, melainkan belajar untuk mensyukuri nikmat yang telah ada pada diri: keluarga yang sehat, tubuh yang sehat, pekerjaan tetap, dan waktu luang. 2020 mengajarkan untuk lebih bersyukur pada hal-hal sederhana yang mungkin sering terlewat.    

Terima kasih 2020:

  • Terima kasih untuk film-film hebat yang ditonton di 2020: All the bright place, The Queen Gambit, Kim Ji Young Born 1982, NKCTHI, Seribu sayang untuknya, dan Brooklyn.
  • Terima kasih untuk lagu-lagu baru yang menyenangkan di 2020: Afterglow – Ed Sheeran, Evermore – Taylor Swift, Running dan Start – Gaho, Above and Beyond – Sun & Moon, sebagian besar lagu-lagu Nostress, Summer Salt – One last time, Atlas dan Drunk – Keshi, dan band ter favorit, Kodaline.
  • Terima kasih untuk tempat-tempat hebat di 2020: Sungai Latuppa Palopo, Kambo highlang Palopo, Celebes canyon Barru, Gunung marmer pujananting Barru, Lappalaona Barru, Ekowisata Lantebung, Malino tiga kali, Kolam susu gowa, Wisata bantimurung, Pulau Samalona, Wonomulyo di Polman, Dusun Malenteng di Tombolo Pao dan Rainbow garden Gowa.
  • Terima kasih untuk buku-buku berkesan di 2020: The scent of sake, What’s left of us, Northern lights, That Camden summer, morning glory, seni tinggal di bumi, lukisan keabadian, bercinta di kebun binatang, dan buku yang telah say abaca entah keberapa kali: 5 people you meet in heaven.     
  • Terima kasih untuk semua orang-orang baik di 2020!




Menutup tulisan ini, sebuah apresiasi untuk diri sendiri:

Selamat telah melewati satu tahun dengan selamat! terima kasih untuk tidak menyerah dan berdiam diri, terima kasih untuk terus membuka hal-hal baru dan terus mencoba meski gagal beberapa kali. Selamat! tahun ini kamu hebat! Tidak perlu terburu-buru, selesaikan satu per satu! Tugasmu berusaha dan berdoa, lalu biarkan semesta bekerja dengan caranya.


Posting Komentar

1 Komentar

  1. woori casino - Pragmatic Play – A top five slot games
    Woori 우리카지노aprcasino Casino https://septcasino.com/review/merit-casino/ brings you the best in casino games from the top providers. Get ready casinosites.one to play https://deccasino.com/review/merit-casino/ the most exciting online slots and 토토 table games at Woori Casino!

    BalasHapus