Lima Tahun, Lima Puluhan Orang, Sepuluh Semester, Dua Gelar (Bagian Satu)

 


Di dalam bus, saat perjalanan pertama kali menenteng tas besar bakal persiapan SBMPTN lima tahun lalu, saya melihat ke luar jendela. Waktu itu, segala sesuatunya tidak ada yang pasti: kampus, jurusan, bahkan teman pertama. Saya tinggal di BTP bersama kakak yang lebih dulu diterima di kedokteran umum unhas. Waktu itu, hari-hari saya habiskan meniti kaca tipis, pulang-pergi les dari Blok M BTP ke Ganesha Operation di dekat gerbang BTP. Kadang berjalan kaki bersama Puspa, kadang juga naik pete-pete yang dibayar 3.000 perak.

Lalu di satu sore menjelang magrib, berita bahwa saya gagal diterima jalur SNMPTN keluar bagai palu beton besar yang menghancurkan titian tipis selama ini. Saya ingat, gagal SNMPTN dulu menjadi patah hati terbesar yang pertama. Saya menangis keras, bahkan dalam salat magrib. Saya bilang kepada Tuhanku bahwa saya takut, saya memohon untuk diselamatkan. Dan Tuhanku langsung menjawab tidak sampai sebulan. Bukan satu, bahkan tiga kesempatan sekaligus: Poltek jurusan D4 Akuntansi (jalur tes poltek, lupa namanya), UIN Alauddin jurusan Biologi (jalur tes khusus uin, lupa namanya juga), dan Fisioterapi Unhas (SBMPTN).

Berdasarkan pertimbangan orang tua diiringi bismillah, saya pun mantap menjadi mahasiswa baru di jurusan fisioterapi yang kala itu masih dalam naungan fakultas kedokteran. Pertama kali mengikuti P2MB, saya berbaris di depan Auditorium Prof. Amiruddin. Sebelum itu, saya sudah janjian akan bertemu dengan seorang teman pertama di jurusan ini. Namanya Naurah, yang berarti bunga. Kami saling sapa via jejaring sosial sebab saya dan Naurah sama-sama mengikuti tes masuk PKN STAN. Saya juga ingat, pertama kali naik pete-pete diluar BTP dulu sama naurah dari Unhas ke Balai diklat keuangan Makassar. Waktu itu fly over sudah dibangun, dan saya masih ingat rasa kagum begitu lewat dibawah bangunan beton kokoh yang tidak ada di kota asalku itu.

Panas terik saya lalui di tahun pertama. Waktu itu, saya ingat lolos tes tulis dan seleksi berkas STAN, dan masuk ke tahap tes kesehatan. Saya flu dan benar-benar malu karena bu dokter yang bertugas harus melihat lubang hidung yang penuh mucus. Saya ingat juga. Waktu itu saya sendirian datang ke lokasi tes, sementara peserta lain ditemani orang tua mereka.

Karena menyiapkan semua persiapan sendiri, alhasil hal-hal krusial seperti air minum, dan makanan pengganjal perut, serta penambah energi tidak terpikirkan sama sekali. Tetapi ada ibu dari salah satu peserta yang begitu baik. Ia memberiku air dan juga banyak gula merah untuk dimakan bersama anaknya yang juga akan tes lari. Mungkin dia merasa kasihan, anak dengan penampilan sederhana tanpa didampingi orang tua, bisa melangkah sejauh itu. Tapi tuhan bilang: “Sudah, kamu di fisioterapi saja.”

Tahun Pertama

Yang paling berkesan tentu masa pengaderan dong! Saya jadi ingat. Dulu, waktu kami selesai P2MB dan dikembalikan ke himpunan jurusan masing-masing, senior di kampus memberikan tugas sebuah buku tebal yang harus diisi. Tebal sekali, loh, ya, bukan tebal sedikit. Waktu itu saya sampai menulis dengan mata tertutup, bahkan dengan kedua tangan (kebetulan saya lancar menulis dengan tangan kiri dan tangan kanan), hal yang dijadikan bahan ceng-cengan sama teman-temanku.   

Waktu itu Maba, saya lumayan sering bikin masalah. Jujur, dulu saya bikin masalah karena saya pikir ndak akan lama di fisioterapi, eh taunya selesai disini. Tetapi dibalik tingkah duluku pas maba, saya sadari hal itu punya dampak baik juga (setidaknya dikenal sama senior, meskipun awal imagenya jelek). Tahun pertama ditutup dengan duka yang akan selamanya membekas. Saya ingat sekali, subuh hari menjelang inaugurasi dan apresiasi seni di Baruga A.P. Pettarani, senior kakakku yang saat itu satu grup mengabari bahwa seorang mahasiswa fisioterapi kritis akibat kecelakaan di dekat flyover dan saat ini dirawat di rumah sakit ibnu sina.

Waktu itu saya baru selesai mandi dan handuk masih melilit di sekitar ketiak. Kakiku lemas dan aku terjatuh di samping ranjang. Segera kukabari teman-temanku di grup yang menolak percaya, namun salah seorang teman mengonfirmasi kabar itu (kalau tidak salah Rani yang memang tinggal di Pampang tidak jauh dari RS Ibnu Sina).

Aku berpakaian secepat yang kubisa. Begitu tiba di rumah sakit, beberapa senior dan teman-teman angkatanku sudah menunggu di ruang tunggu UGD. Beberapa kali ibu dan kakak perempuan almarhum keluar masuk ruangan. Kami semua berdoa agar ia baik-baik saja. Lalu di satu momen, beberapa dokter datang dengan terburu-buru. orang-orang mulai menangis, akupun tahu sesuatu sedang tidak beres.

Lalu dengan tangis dan wajah pucat, seseorang keluar dari sana.

“Dia sudah tidak ada.”

Isi perutku langsung mendesak keluar. Aku berlari ke daerah parkiran dan menangis di sana bersama banyak kawan-kawan yang lain.

Siapapun kamu yang sedang membaca ini, tolong doakan kawanku, Almarhum Ahmad Yani, lelaki yang sangat baik dan peduli pada temannya. Saya menjadi saksi kebaikan almarhum: sering diantar pulang setelah rapat malam, pernah dibonceng motor dengan ganjalan kaki belakang lepas satu, sering saya susahkan dalam kegiatan pengaderan juga, pokoknya banyak hal baik yang teringat tentang beliau.

Maka siapapun kamu yang tengah membaca tulisan ini, mohon kirimkan doa terbaik untuk kawan terbaikku yang telah lebih dulu pergi, ya. Saya percaya, segala sesuatu akan berbalik, maka berbuat dan berdoa baik tidak lain untuk perlindungan kita sendiri.

 

Inaugurasi dan Apresiasi Seni

Tanggal 7 April kami kehilangan satu kawan untuk selamanya. Lalu tanggal 9 April kami naik ke panggung Baruga mempersembahkan Inaugurasi dan apresiasi seni. Sepulang dari pemakaman, atau sepulan dari tahlilan, kami mengadakan rapat darurat bersama para OC dan SC. Saya salah satu yang bersikukuh untuk membatalkan Inaugurasi. Kubilang, kenapa harus menari kosong di atas panggung di saat salah seorang teman kami baru saja meninggal? Mestinya waktu itu menjadi perdebatan alot, tetapi semua orang tidak punya tenaga untuk berdebat. Akhirnya diputuskan bahwa Inaugurasi akan terus berjalan dengan catatan flashmob (sajian senang-senang dengan tarian lincah yang mengakhiri pagelaran) akan digantikan dengan pemutaran video sederhana.

Saya ingat sekali, dulu saya sebagai MC bersama Yuni dan Anti. Hehehehe MC nonformal dalam balutan kimono jepang. Waktu itu saya mengisi 2 Item, yaitu Dance kerajaan dan berperan dalam drama selain menjadi MC nonformal. Akhir kata, malam itu diakhiri dengan tangis penghujung acara. Kami kehilangan teman, satu bagian hidup yang akan selalu membekas sampai kamipun pergi dari dunia ini.

…Bersambung ke Tulisan Selanjutnya

 

 

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Woori Casino | New Player Bonus
    Woori casino has 더킹카지노 just added a new member to their site. Check out the welcome bonus on their nov카지노 사이트 website! The https://aprcasino.com/ registration bonus is a 우리카지노 free bonus of up to €/$30. casinowed.com Woori

    BalasHapus